Kasihilah Sesamamu

Renungan Jumat 19 Mei 2017

Bacaan: Kis. 15:22-31; Mzm. 57:8-9,10-12; Yoh. 15:12-17

Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain. (Yoh 15:17)

Ayat yang indah yang prosesnya seumur hidup. Pada dasarnya tidak ada orang yang menolak dikasihi. Malahan banyak peristiwa di dalam kehidupan ini yang terjadi atau terpaksa terjadi karena seseorang membutuhkan kasih.

Banyak peristiwa yang kita lihat, dengar, baca, tentang tindak kekerasan yang dilakukan baik oleh suami, isteri maupun anak, demi menuntut kasih. Walaupun bentuk tuntutan yang mereka lakukan malahan tidak menunjukkan adanya kasih di dalam diri mereka. Ada seorang suami yang tega membunuh isterinya yang ketahuan sedang “bermain mata” dengan lelaki lain. Ada seorang anak yang tega membunuh ayahnya karena ayahnya ketahuan “melirik perempuan lain”, yang ketika ditegur oleh isterinya malah isterinya yang dianiaya. Ada juga kelakuan-kelakuan aneh bahkan menyimpang dari seorang anak kecil atau remaja atau bahkan orang dewasa yang sebenarnya mereka menuntut dikasihi. Peristiwa takut kehilangan, takut ditinggalkan, minta diperhatikan, tidak mau “diduakan”, pada dasarnya adalah kebutuhan akan kasih.

Mengasihi sama dengan siap memberi. Ketika kita mengasihi orang lain ada konsekuensi yaitu ketulusan, pengorbanan tanpa pamrih dan lain sebagainya. Jadi hanya mengasihi atau memberi kasih saja. Mungkin ungkapannya seperti ini: “Aku mengasihi kamu karena aku memang mengasihi kamu, menerima kamu apa adanya.” Bukannya: “Aku mengasihi kamu karena kamu… atau kalau kamu… atau asalkan kamu…. Kalau ungkapannya seperti kalimat yang terakhir maka kasih yang diberikan mengandung muatan atau tuntutan jasa balik.

Dulu waktu saya masih remaja, saya sering merasa bahwa orang lain tidak mengasihi saya, sehingga saya menuntutnya dengan kenakalan karena dengan demikian saya mendapat perhatian orang di sekitar. Saya bahkan lebih suka sakit, karena ketika saya sakit semua orang memperhatikan dan mengasihi. Saya sering juga murung, diam, sampai suatu saat saya bertanya kepada kakak: “Kenapa tidak ada orang yang mengasihi aku?” Jawabnya: “Kamu harus mengasihi orang lain lebih dulu baru kamu akan menerima kasih dari orang lain.” Jawaban itu membuat saya tidak bisa berfikir. Karena saya minta dikasihi kok malah disuruh mengasihi? Ibarat benda yang aku minta, malahan aku harus memberikannya kepada orang lain lebih dulu. Waktu berlalu sampai sekian puluh tahun kemudian.

Setelah saya mempunyai penghasilan dari bekerja, menjadi kebiasaan saya ketika menjelang perayaan Natal, Tahun Baru, Lebaran, saya banyak mengirim ucapan ke handai taulan. Waktu itu masih musimnya ucapan memakai kartu. Saya tidak menghitungnya mengirim berapa. Saya hanya mengirim saja ke mereka yang saya kenal.Tak terduga balasan yang saya terima sampai mencapai seratus kartu lebih. Saya selalu menyimpan kartu-kartu itu. Setiap tahun saya hitung jumlahnya selalu bertambah. Hal itu menyadarkan saya tentang kata-kata kakak saya bahwa saya harus memberi lebih dahulu baru menerima. Maka Yoh 15:12 mengatakan: “Yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” Untuk dapat saling mengasihi kita harus memulai untuk mengasihi lebih dahulu. Mengasihi sama dengan memberi tanpa pamrih, apa pun yang kita punya atau kita mampu. Tidak hanya atau selalu harus berbentuk harta benda. Yang bukan harta benda malah yang lebih bernilai karena tidak dapat dihitung dengan angka.

Yoh 15:13 mengatakan: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Yesus memberikan contoh berdasarkan diri-Nya sendiri yang rela wafat di kayu salib demi menebus dosa seluruh umat manusia. Saat ini tentu kita tidak dituntut melakukan seperti yang Yesus lakukan. Melainkan sanggupkah kita mengorbankan kepentingan diri, milik kita, mengalahkan ego, demi orang lain? Tanpa berhitung dan tanpa berpikir-pikir untung rugi? Spontan saja melakukan apa pun yang bisa kita lakukan atau berikan kepada orang lain tanpa muatan? Atau dengan kata lain ikhlas tanpa menuntut balasan?

Dari hal kecil, ketika kita memberi sesuatu adakah keinginan ada ucapan terimakasih? Ketika kita harus tidak tidur karena harus merawat anak atau seseorang yang sedang sakit, adakah kita menuntut balas meski hanya dalam hati? Jawabannya mungkin kadang-kadang ada. Manusiawi. Saya juga mengalaminya. Tetapi kita mau menjadi seperti apa yang Yesus perintahkan dan sudah lakukan untuk kita semua. Mari kita saling mengasihi mulai dari diri sendiri mau mengasihi orang lain dengan kasih yang tulus, yang tidak membedakan, ikhlas, tidak menuntut balas, tidak cemburu. Pasti apa yang kita tanam akan tumbuh dan berbuah semakin berlimpah karena terus ditebarkan oleh setiap orang yang mengalaminya.

Mengapa Yesus bersabda bahwa kasih adalah hukum yang utama dan terutama? Sebab melalui kasih, dengan kasih, segala persoalan dapat diselesaikan dengan baik, dengan damai (Ams 10:12). Mari kita terus berusaha menanamkan kasih semakin dalam dan luas di dalam hati kita, agar kita dapat melakukan perintah Yesus untuk saling mengasihi seperti Yesus telah mengasihi kita.

Doa: Tuhan Yesus, betapa kecilnya diri ini di hadapan-Mu. Apalagi bila kami membandingkan apa yang sudah Engkau lakukan untuk kami dan apa yang sudah kami lakukan kepada-Mu melalui sesama kami. Mohon mampukan kami ya Tuhan Yesus, agar kami memiliki kekuatan untuk mengalahkan diri kami sendiri demi mengasihi sesama. Amin. (ANS)

Image result for John 15:17