Budaya Cinta, Budaya Indonesia

Renungan Kamis 18 Mei 2017

Bacaan: Kis. 15:22-31; Mzm. 57:8-9,10-12; Yoh. 15:12-17

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. (Yoh 15:12)

Dalam amanat perpisahan dengan para murid, Yesus memberikan satu perintah yaitu saling mengasihi. Dalam bacaan Injil hari ini kita diberitahu 2 akibat yang akan kita alami bila melaksanakan perintah ini:

  1. Akan tinggal di dalam kasih-Ku.
  2. Sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi sempurna.

Akan tinggal dalam kasih Tuhan Yesus berarti hidup di dalam Dia, bersekutu dengan-Nya. Seperti yang digambarkan dengan perumpamaan ranting yang melekat dengan pokok anggur sehingga ia dapat hidup dan berbuah.

Hidup dalam kasih akan mempengaruhi seluruh tindakan, keputusan-keputusan serta cara hidup yang memancarkan kasih.

Kasih inilah yang membuat sukacita menjadi sempurna. Baik sukacita yang kita alami maupun sukacita yang dialami oleh orang lain.

Kisah Para Rasul 15 menceritakan tentang masalah yang timbul. Sekelompok orang dari Yudea memberikan pengajaran kepada jemaat non Yahudi di Antiokhia bahwa jikalau mereka tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, mereka tidak dapat diselamatkan.

Maka terjadilah pertentangan pada waktu itu. Karena keselamatan dialami oleh karena percaya kepada Tuhan Yesus yang menebus manusia dari dosa serta menyelamatkannya dengan kematian dan kebangkitan-Nya, bukan karena sunat lahiriah maupun adat istiadat yang diwariskan manusia.

Petrus, Yakobus, Paulus dan Barnabas mengingatkan dan bersaksi bahwa rahmat dan kasih karunia Allah yang menyelamatkan dianugerahkan  bagi semua bangsa, bukan hanya bagi bangsa atau kelompok tertentu. Karena Allah  tidak pernah menebar benih perpecahan dan kebencian di hati manusia yang diciptakan-Nya bagi rancangan damai sejahtera dan kebahagiaan.

Apabila kita hidup dalam kasih Tuhan, maka kita pun akan menjadi orang yang mengasihi tanpa memandang golongan, ras, agama. Kasih Allah telah dan akan tetap menghancurkan tembok-tembok pembatas yang dibangun oleh kepongahan dan egoisme manusia.

Tembok-tembok itu telah membelenggu manusia dan menghasilkan suasana kacau galau tanpa kemilau, gelap pengap tanpa gemerlap. Tembok-tembok itu telah mengubah sukacita penuh harapan menjadi kesedihan penuh keputus asaan.

Marilah kita, umat yang percaya dan mengasihi Tuhan Yesus Kristus, tetap pada komitmen untuk patuh melaksanakan perintah-Nya. Bukan perintah mengangkat senjata, bukan perintah bertindak anarkis, bukan perintah untuk mengutuki dan menyumpahi, melainkan perintah untuk mengasihi.

Bukan berarti kasih yang berdiam diri karena tercekat rasa takut dan ngeri, namun kasih yang murni dan suci, terealisir dalam doa dan tindakan nyata, berani berdiri mewartakan kebenaran, berjuang mewujudkan keadilan.

Setiap orang yang tinggal dalam kasih Allah (yang tampak nyata melalui tindakan Yesus Kristus), pasti bercita-cita mulia bagi bangsa dan negara, setia berjuang tanpa lelah bagi terwujudnya sukacita penuh oleh Roh Kudus.

“Janganlah menangis, o Ibu Pertiwi, karena masih banyak putra putri-mu yang berjanji, membangun budaya kasih Allah di Nusantara yang indah ini.”

Semoga renungan ini bukan sekedar kalimat mengambang tanpa tujuan, melainkan oleh Roh Kudus dapat menjadi pemantik bagi nyala lilin yang mengalahkan kegelapan.

Doa: Allah Bapa, terima kasih, Engkau memanggil dan memilih kami untuk mengenal kasih sejati-Mu. Pakailah kami untuk mewartakan kasih itu dalam kata dan tindakan. Pakailah kami untuk membangun budaya kasih di negeri kami ini. Demi Yesus Pengantara kami. Amin.

-ips-

Image result for cinta indonesia