Akulah Roti Hidup

Renungan Jumat 5 Mei 2017

Bacaan: Kis. 9:1-20; Mzm. 117:1,2; Yoh. 6:52-59

Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia. (Yoh 6:51)

Maka, sama seperti dalam kehidupan jasmani kita perlu makan supaya kita tetap hidup, demikian kita perlu makanan rohani yaitu Yesus sendiri, supaya kita dapat memperoleh hidup yang kekal. St. Thomas Aquinas sangat terkenal dalam mengajarkan semboyan, “grace perfects nature” yaitu bahwa rahmat Allah menyempurnakan kodrat manusia, maka kita kenal juga bahwa dalam kehidupan spiritual, terdapat juga proses yang serupa dengan kehidupan kodrati, yaitu: kelahiran rohani dengan pembaptisan; kedewasaan rohani dengan penguatan; makanan rohani dengan Ekaristi, penyembuhan rohani  (dan jasmani) dengan pengakuan dosa dan pengurapan orang sakit, perkawinan dan tahbisan untuk memaknai panggilan hidup.

Berikut ini adalah beberapa hal penting yang disampaikan Yesus berkenaan dengan apa maksud-Nya Ia memerintahkan kita agar makan dan minum Tubuh dan Darah-Nya:

  1. Yesus sendiri lahir di kota Betlehem, yang artinya adalah “Rumah Roti” sejalan dengan identitas Diri-Nya sebagai “Roti Hidup” (Yoh 6:51). Maka pemberian roti manna kepada orang Israel di PL diperbaharui dalam PB, dengan Roti Hidup, yaitu Ekaristi. Pada PL, roti manna diberikan oleh Allah untuk menuntun bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian (Kanaan), sedangkan sekarang, Ekaristi diberikan kepada kita umat Katolik, sebagai bangsa pilihan Allah yang baru, agar kita dapat mencapai Tanah Perjanjian yang baru yaitu Surga.
  2. Yesus sendiri membuat mukjizat pergandaan roti untuk mempersiapkan umat terhadap pengajaran-Nya tentang Roti Hidup ini, dan mukjizat pergandaan roti yang memberi makan lima ribu orang ini merupakan salah satu mukjizat terbesar yang dicatat oleh ke-empat Injil  (Mat 14:13-21; Mrk 6:32-44; Luk 9:10-17; Yoh 6: 1-15). Persahabatannya dengan para pengikut-Nya sering ditandai dengan makan bersama, mislanya kisah Maria, Martha, Lazarus, bahkan Zakheus.
  3. “Roti Hidup” merupakan salah satu pengajaran Yesus yang terpenting dan tersulit, namun Yesus tetap mengajarkan-Nya meskipun pada saat ia mengajarkan hal ini banyak pengikut-Nya meninggalkan Dia (Yoh 6:66). Yesus tidak mengganti ajaran ini dengan ajaran lain yang lebih “mudah”, namun malah bertanya kepada para Rasul, “Apakah kamu mau pergi juga?” (Yoh 6:67), yang dijawab Petrus dengan iman bahwa mereka tidak akan berpaling dari Yesus.
  4. Sebelum wafat-Nya Yesus berpesan kepada para murid-Nya untuk melakukan perjamuan ini sebagai peringatan akan Diri-Nya dan karya keselamatan Allah kepada manusia (Mat 26:20-29; Mrk 14:17-25; Luk 22:14-23; Yoh 13:21-30).
  5. Sesudah kebangkitan-Nya, Ia menampakkan diri kepada dua orang muridnya dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35), dengan menjelaskan isi Alkitab dan perjamuan Ekaristi. Kedua hal inilah yang terdapat dalam Misa Kudus, yaitu liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi.
  6. Ekaristi (“memecah roti dan berdoa”) merupakan cara ibadah para rasul dan jemaat pertama (lih. Kis 2:42). Rasul Paulus-pun mengajarkan tentang Ekaristi ini (1 Kor 11: 23-29).
  7. Bahwa sudah menjadi maksud Yesus untuk memberikan “Roti Surga”/ “Manna yang baru” kepada umat-Nya, dan dengan demikian kita akan tergabung dalam persekutuan dengan-Nya, sampai akhirnya kita bersatu dengan sempurna dengan Dia di surga. Ia berkata, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” (Why 3:20).

Ekaristi adalah ‘dekapan’ Allah yang menyatukan.

Jika Anda sudah menikah dan punya anak-anak kecil, Anda pasti dapat memahami perasaan indah yang tak terlukiskan ini: anak Anda menghampiri Anda, tanpa rengekan, tanpa tangisan, memeluk dan mencium Anda. Anda akan merasakan kasih yang begitu dekat yang mempersatukan Anda berdua. Jika suatu hari Anda mengalami hal ini, entah dengan anak Anda, keponakan atau cucu Anda, bayangkanlah bahwa Tuhan sengaja memberikan pengalaman tersebut, supaya Anda dapat sedikit membayangkan bagaimana perasaan Tuhan jika Anda datang kepada-Nya seperti anak kecil itu. Hati-Nya melimpah dengan kasih dan suka cita, karena memang Dia selalu menantikan kesempatan ini; yaitu membawa Anda ke dalam dekapan-Nya untuk bersatu dengan Dia. Oleh kuasa Roh Kudus, dekapan ini mempersatukan kita dengan Allah sendiri, seperti yang terjadi di dalam Ekaristi, saat Ia, Sang Ilahi, merendahkan diri untuk merangkul dan mengangkat kita, manusia yang dari ‘debu’ ini, agar kita beroleh hidup ilahi. Kita manusia yang berdosa tidak dapat, oleh usaha sendiri, menjadi kudus, kalau bukan Allah sendiri yang menguduskan kita.

Jadi dengan menerima Ekaristi,Tuhan tidak saja hadir tetapi tinggal di dalam kita sehingga kita mengambil bagian di dalam kehidupan Ilahi, kehidupan yang memberikan kita kekuatan untuk mencapai kesempurnaan kasih yang diajarkan oleh spiritualitas Kristus, yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.

Setiap kali saya menerima roti dan anggur dalam perayaan Ekaristi, saya selalu membayangkan Yesus mengangkat Hosti dan bertanya kepada saya:

Maukah kau jadi roti yang terpecah bagi-Ku.

Maukah kau jadi anggur yang tertumpah bagi-Ku.

Maukah kau jadi saksi memberitakan Injil-Ku.

Melayani lebih sungguh.

Doa: Ya Tuhan Yesus, terima kasih atas karunia Ekaristi-Mu. Bantulah aku agar selalu mensyukuri anugerah-Mu dan semakin hari semakin menghayati rahmat kudus-Mu itu. Biarlah aku menjadi alat bagi-Mu untuk menyampaikan kasih dan kebenaran, agar semakin banyak orang mengenal, mengasihi dan melayani Engkau sebagai Tuhan. Mampukanlah aku untuk mengikuti teladan-Mu dengan memberikan hidupku bagi sesama demi kasihku kepada-Mu, sebab Engkau telah terlebih dahulu memberikan hidup-Mu kepadaku. Terpujilah Engkau, ya Tuhan selamanya. Amin. (JH)

Related image