Yesus Gembala Pemersatu

Renungan Sabtu 8 April 2017

Bacaan: Yeh. 37:21-28; MT Yer. 31:10,11-12ab,13; Yoh. 11:45-56

Suatu hari, ketika saya pulang dari suatu pertemuan, saya berniat seperti biasa ganti baju rumah. Saat baru memegang, mau melepas kalung saya, ternyata putus dan mutiara hitamnya bertaburan di lantai. Saya bersyukur karena putus di kamar, dan tidak di jalan atau di tempat lain. Saya merasa sayang dengan kalung tersebut, dengan sigap saya pegang kalung yang putus itu, hingga batu putih yang pipih tidak sampai terjatuh, karena mungkin bisa pecah batunya. Saya mulai mencari dan menghitung jumlah mutiaranya. Yang belum ketemu saya cari sampai saya dapatkan kembali semuanya. Dan saya merasakan sukacita setiap menemukan kembali butir demi butir.

Saat saya membaca dan merenungkan firman hari ini, terbersit di pikiran saya, peristiwa ketika saya mencari mutiara demi mutiara kalung yang putus tersebut hingga menjadi utuh kembali dan rasa sukacitanya karena saya menyenangi kalung tersebut.

Saya sangat bersyukur, karena Tuhan berkenan berkenan pada saya. Ia yang menjemput saya, memungut saya dari tengah keluarga saya yang bukan Katolik. Ketika itu, saya masih anak satu-satunya baru berusia satu tahun, masa perang dan kami mengungsi. Melalui penyakit yang saya derita, hingga tinggal kulit pembalut tulang karena diare tanpa henti, orang tua juga putus asa. Begitu besar kasih Allah akan hamba-Nya, Tante saya, satu-satunya yang Katolik menawarkan untuk mendoakan saya di gereja, dan meminta agar saya diijinkan menjadi Katolik bila saya sembuh. Jadilah menurut iman Tante saya, sejak didoakan menjadi sembuh dan dibaptis. Hingga seluruh keluarga, orang tua dan adik saya menjadi Katolik semua.

Pada awalnya, bersama orang tua, saya masih tidak beribadah ke gereja. Sesudah saya menyadari hal itu tidak berkenan pada Allah, saya meninggalkan semuanya seperti yang tertulis dalam Yehezkiel. Terutama sesudah saya mengalami Retret Awal di Ngadireso tahun 1984. Saya merasa seperti ditangkap Roh Kudus. Dia membaharui saya, membimbing, bahkan memulihkan keadaan saya.

Tuhan Allah malah menjaga saya seperti gembala menjaga kawanan dombanya. Seperti yang tertulis dalam Mazmur. Dia selalu membaharui saya, ketika saya lemah, Yesus yang menghiburkan dan menguatkan saya, sehingga tidak jatuh tergeletak atau terpuruk, atau mundur, saat saya mengalami tantangan ketika menggebu terjun dalam pelayanan. Bukan dari suami yang sangat mencintai saya dan mendukung saya, tetapi dari keluarga besar dan orang sekitar, karena saat itu Pembaharuan Karismatik Katolik masih baru dan sering ditolak. Saat kedua kaki patah dan saat suami saya dijemput Yesus pulang ke Rumah Bapa, Dialah penghibur dan sumber kekuatan saya. Dialah yang sembuhkan dan pulihkan saya tanpa ingat akan diri-Nya sendiri seperti yang tertulis dalam Injil, mengumpulkan dan mempersatukan kita dan membangunnya menjadi Bait Roh Kudus

Doa: Bapa di surga, saya bersyukur boleh alami kasih-Mu yang menghidupkan, dan mewartakan kasih Allah yang sungguh hidup, seturut teladan Yesus yang mendapat penghiburan dan kekuatan dari Bapa oleh kuasa Roh Kudus. Yesus yang adalah Allah telah rela mengorban diri-Nya dengan menjadi manusia, mati di atas kayu salib, supaya kami manusia dapat menjadi Ilahi. Mampukan kami memasuki Pekan Suci yang dimulai dengan Minggu Palma dengan hati yang pantas, penuh harap dan sukacita karena saat merayakan Paskah, pembebasan kita, umat Israel baru telah tiba. Amin. (JRDW)

Image result for John 11:52 gather into one