Ya Tuhanku dan Allahku

Renungan Minggu 23 April 2017, Hari Minggu Paskah Ke-2, Minggu Kerahiman Ilahi

Bacaan: Kis. 2:42-47; Mzm. 118:2-4,13-15,22-24; 1Ptr. 1:3-9; Yoh. 20:19-31

Injil yang kita dengar hari ini menggambarkan para murid yang sedang ketakutan, mereka berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci. Mereka ketakutan karena berkaitan dengan hidup dan mati. Sebab setelah kematian Yesus, para pengikut Yesus menjadi sasaran kemarahan orang Yahudi.

Suatu situasi yang amat mengerikan, tidak heran jika mereka memilih berkumpul di tempat dengan “pintu-pintu terkunci”. Dan pada saat mereka berkumpul, Yesus menampakkan diri kepada mereka.

Ada empat hal yang menjadi tujuan Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya dan kepada orang banyak:

1. Membawa damai dan memberi kekuatan.

Tindakan pertama yang dilakukan Yesus sesudah kebangkitan-Nya adalah memberi kekuatan dan membawa damai. “Damai sejahtera bagi kamu” itulah kata pertama yang diucapkan Yesus. Kehadiran Yesus ini menepis ketakutan dalam diri para murid, mereka sangat bersuka cita karena dapat melihat Tuhan lagi.

2. Mengutus.

Yesus memberikan perutusan kepada para murid, sekarang bukan saatnya untuk takut, melainkan untuk bangkit dan mewartakan Kerajaan Allah. Kabar gembira Paskah harus diwartakan kepada seluruh umat manusia. Peristiwa ini harus senantiasa diingat, disyukuri dan diungkapkan kepada orang lain. Dan Yesus yang mengutus para murid-Nya untuk mewartakan kabar gembira Paskah selalu menyertai dan memberi kuasa dengan Roh Kudus-Nya.

Kematian Kristus tidak akan menjadi sia-sia, sebaliknya menjadi sumber hidup dan penyembuhan terus-menerus bagi hati yang remuk redam dan mengalami kesulitan.

3. Menumbuhkan iman akan kebangkitan.

Inilah yang dialami oleh Thomas. Thomas awalnya tidak percaya namun menjadi percaya ketika ia melihat sendiri Yesus yang bangkit. Pengakuan tulus pun muncul dari mulutnya, “Ya Tuhanku dan Allahku.”

Rasa tidak percaya juga sering menghinggapi kita. Kita sangsi apakah Tuhan masih mau mengampuni dosa-dosa kita, apakah Tuhan tidak bosan mendengar doa dan permohonan yang sama terus-menerus?

Namun seperti Yesus menjawab Thomas dengan mengatakan berbahagialah yang tidak melihat namun percaya, Yesus juga ingin agar kita juga belajar untuk percaya. Tidak ada dosa yang terlalu besar hingga tidak bisa diampuni, tidak ada pelanggaran yang terlalu berat sehingga membuat Yesus melupakan kita.

4. Ada kehidupan abadi setelah kematian.

Dengan kebangkitan Yesus dari kematian, Allah memberi kita hidup baru dan harapan baru yang melampaui kematian. Allah menyatakan secara jelas kepada kita bahwa hidup kita tidak berakhir dengan kematian. Hidup kita di dunia ini adalah peziarahan dan bukan tujuan yang paling utama, tujuan hidup kita adalah bersama Bapa di surga.

Semua yang dilakukan Yesus ini menggambarkan “Kerahiman Allah”. Allah menunjukkan kerahiman-Nya. Dosa manusia ditebus oleh darah Kristus yang wafat di salib, maut pun kalah oleh kebangkitan-Nya. Dengan kekuatan kebangkitan itulah kita diutus membawa damai dan mewartakan kabar sukacita Kerajaan Allah.

MLEN