Takut Tapi Bersukacita

Renungan Senin 17 April 2017

Bacaan: Kis. 2:14,22-32; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; Mat. 28:8-15

Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. (Mat 28:8)

Pewartaan pertama dan utama dalam gereja perdana adalah “Yesus telah wafat disalib dan Dia telah bangkit”. Dari bacaan Injil ini saya disadarkan bahwa pewarta pertama adalah para wanita yang melihat malaikat menggulingkan batu penutup makam (pengarang yang lain menuliskan melihat kubur kosong) ternyata mereka mewartakan dengan “takut” dan dengan sukacita yang besar.

Rasa takut dan sukacita yang besar juga saya alami ketika melakukan pelayanan pewartaan. Selalu ada rasa takut, takut tidak berhasil, takut tidak ada kuasa, takut malu dan banyak ketakutan-ketakutan lainnya, tetapi kerinduan agar semakin banyak orang mengenal dan mengalami kasih Tuhan membawa sukacita yang besar dan memberikan kekuatan untuk mengalahkan rasa takut.

Ketika merenungkan perikop ini, ternyata ada dua kelompok orang sebagai saksi pertama kebangkitan Tuhan Yesus, yaitu para serdadu penjaga makam dan para wanita, apa yang mereka lihat adalah sama, tetapi kesaksian mereka sangat berbeda. Apakah karena para serdadu tidak berhasil mengalahkan ketakutan mereka? Takut kehilangan pekerjaan, kehilangan nyawa, ataukah mereka mengubah kesaksian mereka karena uang yang ditawarkan membuat mereka memilih apa yang menguntungkan diri mereka sendiri? Tetapi yang pasti para wanita meskipun mereka takut tetap memberikan kesaksian yang benar, karena yang bangkit itu adalah pribadi yang sangat mereka cintai.

Sebagai refleksi bagi kita semua: apakah saya sungguh mencintai Yesus, sehingga rasa “takut” dan kehilangan kenyamanan tidak menghentikan saya untuk mewartakan kebangkitan-Nya?

FH

Image result for fear joy