Sampai Pada Tujuan

Renungan Sabtu 29 April 2017, Peringatan St. Katarina dari Siena

Bacaan: Kis. 6:1-7; Mzm. 33:1-2,4-5,18-19; Yoh. 6:16-21

Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui. (Yoh 6:21)

Setiap orang mengalami perjalanan, entah lewat darat, laut, maupun udara. Bahkan  hidup ini juga merupakan suatu perjalanan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Masing-masing orang mempunyai tujuan hidup yang berbeda. Ada yang ingin sukses dalam pekerjaan, dalam membangun sebuah perusahaan, dalam  keluarga, dan masih banyak lagi. Dalam perjalanan selalu menikmati keberhasilan, sukacita, sekaligus, kegagalan, kekecewaan, kesedihan, dan hambatan serta aneka peristiwa yang mewarnainya.

Katarina dari Siena (Italia) seorang gadis kecil yang elok parasnya dan lincah dipaksa menikah oleh orang tuanya, namun selalu menolak. Banyak waktu dipergunakan untuk berdoa. Pada usia 15 tahun, ia menjadi anggota Ordo Ketiga St. Dominikan. Dalam melakukan perjalanan hidupnya, ia banyak mendapatkan pengalaman rohani yang sangat mendalam yang berpuncak pada rasa sakit sama seperti yang dialami Yesus di kayu salib (stigmata). Semakin mendalamnya relasi Katarina dengan Tuhan Yesus, ia berhasil mengembalikan Paus Gregorius XI dari Avignon (Perancis) ke Roma sebagai kota abadi dan pusat Gereja Katolik. 

Begitu pula perjalanan para rasul dalam mewartakan firman Tuhan. Jumlah murid semakin bertambah, mereka menginginkan ada yang melayani orang-orang miskin, dan janda-janda. Orang Yahudi yang berbahasa Yunani mengingatkan para rasul agar memperhatikan kehidupan orang-orang miskin, dan janda-janda (Kis 6:1). Keinginan ini terpenuhi dengan mandat yang diberikan kepada para murid untuk memilih tujuh orang yang terkenal baik, penuh Roh Kudus, dan berhikmat yang fokus melayani karya sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering diingatkan Tuhan melalui orang-orang yang ada di sekitar kita untuk peduli dan menghadirkan Tuhan terhadap orang-orang miskin, orang-orang tersingkir yang membutuhkan bantuan secara nyata.

Yohanes menceritakan, ketika para rasul naik perahu dan menyeberang ke Kapernaum, tidak sepenuhnya mereka menikmati perjalanan tatkala Yesus tidak bersama mereka. “Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka.” (Yoh 6:17). Ditambah lagi situasi yang menegangkan, “sedang laut bergelora karena angin kencang” (Yoh 6:18). Matius juga menulis “Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.” (Mat 14:24).

Peristiwa ini sungguh mencekam para murid, nyawa mereka terancam. Namun Yesus tidak membiarkan situasi para murid semakin takut. Yesus hadir sebagai Tuhan yang selalu menolong. Dengan menyatakan diri Ini Aku, jangan takut.” (Yoh 6:20). Mereka mempersilakan Yesus naik ke dalam perahu, dan seketika itu juga perahu mereka sampai ke pantai yang mereka tuju.” (Yoh 6:21). Kehadiran Yesus menenangkan hati para murid, memberi harapan dan jaminan.

Ketika kita membuka hati mempersilakan Yesus hadir dalam kehidupan kita, baik dalam komuni suci maupun dalam doa, kita tidak akan takut mengarungi perjalanan hidup sampai ke tujuan yaitu menghadirkan Tuhan Yesus kepada orang-orang yang kita jumpai, agar mereka juga mengalami kasih-Nya dan mengalami keselamatan.

Doa: Syukur dan terima kasih Tuhan Yesus, atas kehadiran-Mu dalam seluruh aspek kehidupanku. Kehadiran-Mu selalu menopangku, memberi kekuatan baru, memberi harapan dan hidup kekal bersama-Mu. Amin.

Tuhan memberkati.  (ECMW)

Image result for John 6:21