Relasi Dengan Yesus

Renungan Jumat 21 April 2017

Bacaan: Kis. 4:1-12; Mzm. 118:1-2,4,22-24,25-27a; Yoh. 21:1-14

APAKAH AKU SUDAH MEMILIKI RELASI YANG DEKAT DENGAN  YESUS?

Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai, akan tetapi murid-murid-Nya tidak mengetahui bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi, karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan!”                                             

Dalam kehidupan sehari-hari, Yesus menjumpai kita secara pribadi baik melalui perkataan seseorang, melalui homili Romo, melalui apa saja yang kita jumpai, apa yang kita lihat, dan apa yang kita dengar. Tetapi sering kita tidak bisa mengenal bahwa itu Tuhan Yesus yang menjumpai kita untuk berbicara, untuk menolong kita atau memakai kita untuk menolong orang lain.

Kita sebagai murid Kristus perlu senantiasa menjalin hubungan yang dekat dengan Tuhan Yesus melalu sabda-Nya (seperti Yohanes yang segera mengenal bahwa Tuhan Yesus sedang menolong mereka) yang kita renungkan setiap hari. Kita juga perlu sering mengajak berkomunikasi dan taat apabila kita merasakan satu dorongan dari hati kita yang berasal dari Roh Kudus untuk kita lakukan.

Suatu ketika, saya di dapur untuk memasak menyiapkan sarapan pagi, makan siang dan sekalian buat makan malam, karena saya harus berangkat siangnya mengajar di KEP luar kota. Saat itu saya berbicara di dalam hati saya kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, apa yang Kau ingin saya lakukan hari ini?” Tiba-tiba terbayang dalam benak saya wajah seorang ibu yang pernah satu kali saya jumpai saat saya singgah di toko mebel di luar kota dan saya sempat membeli sebuah kursi goyang. Dorongan di hati saya mengatakan untuk memasakkan mie keriting dan menggorengkan ayam. Sesaat saya tertegun dan berkata di dalam hati buat apa saya harus susah-susah masak buat orang yang tidak saya kenal dekat. Apa manfaatnya buat saya. Untuk apakah. Lagipula saya  tidak berkesempatan bertemu dia lagi. Masih banyak tugas yang harus saya selesaikan pagi itu.

Saat itu saya tetap mengambil keputusan untuk masak buat ibu penjual mebel. Sesampainya di depan toko mebel ternyata semua lima tokonya tutup dan pintu besi terkunci dengan tulisan bahwa toko tersebut disita oleh sebuah bank. Saya mulai gelisah, saya sudah jerih payah memasakkan mie dan ayam kenapa sekarang tokonya tutup. Segera saya telpon dan saya disuruh putar kembali karena sekarang ibu penjual mebel ada di gudang. 

Saat saya tiba di pintu gerbang gudang mebel, saya melihat ibu itu berlari-lari diikuti bapak satpam dengan mata berlinang. Setelah menjumpai saya langsung saya dipeluk dan menangis sambil berkata, “Ya Ibu kok repot-repot membawakan makanan buat saya padahal kita tidak kenal dekat.” Dengan nada sedih bercampur bahagia, ibu itu mengatakan bahwa saat ini dia sedang sedih karena tokonya semua disita oleh bank dan dia tidak bisa berjualan lagi.

Tetapi saat saya menatap matanya ada suka cita karena merasakan kasih Allah melalui saya yang tidak dia kenal. Saat itu saya juga menangis dan berkata kepadanya, “Tuhan Yesus baik menggerakkan saya untuk membawakan ibu mie keriting dan ayam goreng.” Di dalam hati saya katakan kepada Tuhan Yesus, “Oh terima kasih Tuhan, Kau pakai saya untuk menghibur ibu ini yang saat ini sedang sedih karena masalah pekerjaannya dan mengalami kesulitan.”

Kadang Tuhan memakai kita untuk menolong umat-Nya bukan dalam kondisi kita punya waktu banyak, tetapi ada sedikit ruang bagi Tuhan untuk menolong umat-Nya melalui kita. 

Terima kasih Tuhan Yesus, bantu setiap kami untuk berani mengambil keputusan untuk menolong orang di sekitar kami. Bantulah kami untuk memiliki sedikit ruang waktu bagi sesama. Tuhan Yesus memberkati kita semua. (KSM)

Image result for John 21:1-14;