Kuasa Iman dalam Perbuatan

Renungan Jumat 7 April 2017

Bacaan: Yer. 20:10-13; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,5-6,7; Yoh. 10:31-42

Shalom sahabat-sahabat SEP dan KEP.

Damai sejahtera Kristus beserta kita semua.

Bacaan liturgi gereja hari ini mengingatkan kita semua, sudahkah imanku tercermin dalam kehidupan sehari-hariku?

Yeremia yang beriman kepada Allah, menunjukkan imannya melalui perbuatan hidup yang benar di hadapan Allah dan sesama. Ini menjadi masalah bagi bangsanya. Teman-teman Yeremia berusaha untuk membujuk, mengintai untuk menemukan kesalahan, mengancam dan bahkan mengadukan dia agar Yeremia meninggalkan hidup imannya. Tetapi Yeremia tidak tergoyahkan. Dia tetap hidup benar di antara bangsanya yang melakukan berbagai kejahatan.

Hal yang sama ditunjukkan oleh si pemazmur Daud. Daud dimusuhi banyak orang. Banyak yang ingin membunuh dia, termasuk raja Saul yang sangat iri dan dengki terhadap dia. Daud beberapa kali memiliki kesempatan untuk membunuh Saul, tetapi dia tidak mau melakukannya, karena Daud sangat menghormati Tuhan dan orang yang diurapi-Nya, termasuk Saul. Daud menyerahkan semuanya kepada keputusan Tuhan. Daud senantiasa mempercayai tangan pertolongan Tuhan. Tuhannya benar-benar bisa dipercaya. Tangan kasih Tuhan senantiasa menyertai, membimbing dan menyelamatkan Daud. Dan itu dia alami seumur hidupnya.

Bacaan Injil hari ini, Yesus yang melakukan perbuatan-perbuatan yang dikehendaki Allah dan mewartakan kebenaran tentang relasi-Nya dengan Allah, justru dimusuhi bangsa-Nya. Orang-orang Yahudi mau melempari Yesus dengan batu. Beberapakali mereka ingin menangkap Yesus, tetapi Yesus selalu lolos dari tangan mereka.

Bagaimana dengan hidup kita? Sudahkah perbuatan kita mencerminkan iman kita, sehingga kuasa iman itu sangat nyata tampak dalam hidup perbuatan kita? Bagaimana kita bisa memiliki iman yang berpengharapan, iman yang tidak tergoyahkan oleh tekanan apa pun dan iman ini tampak nyata dalam perbuatan kita?

Kesaksian Bunda Teresa.

Pada suatu ketika Bunda Teresa menghadiri suatu pertemuan bersama dengan raja, presiden, perdana menteri, serta negarawan dari seluruh dunia. Semua yang hadir mengenakan mahkota, permata, mutiara, baju sutra, beludru serta perhiasan mahal lainnya. Bunda Teresa hanya mengenakan pakaian sari (pakaian khas India) yang dijepit dengan peniti.

Bunda Teresa lalu terlibat dalam pembicaraan dengan seorang bangsawan. Bangsawan itu menanyakan mengenai pelayanannya bagi orang-orang termiskin di antara orang-orang miskin di Kalkuta, India. Pada akhir pembicaraannya, ia menanyakan apakah Bunda Teresa tidak merasa kecewa karena hanya memperoleh sangat sedikit kekayaan materi dari pelayanannya. Bunda Teresa menjawab, “Tidak, saya tidak kecewa. Ketahuilah bahwa Tuhan tidak memanggilku untuk melakukan pelayanan yang penuh dengan kekayaan materi. Ia memanggilku untuk melakukan pelayanan yang penuh dengan kemurahan hati.”

Tahun 1986, komunitas pelayanan Bunda Teresa sudah ada di seratus negara lebih, dengan segala kebutuhan yang memerlukan biaya besar. Tuhan tidak pernah mengecewakan. Sejarah mencatat bahwa Bunda Teresa hidup dengan penuh damai sejahtera dan sukacita walaupun hidupnya jauh dari kekayaan materi.

Belajar dari bacaan 1, mazmur dan Injil hari ini, yang senantiasa perlu kita lakukan adalah benar-benar:

  1. Mengenal dan memiliki relasi yang intim dengan Tuhan.
  2. Mempercayai Tuhan dan segala janji Firman-Nya.
  3. Senantiasa memuji dan memuliakan Tuhan.
  4. Perbuatan sehari-hari kita menunjukkan iman yang kita hidupi.

Tuhan Yesus mengasihi dan memberkati kita semua. (HLTW)

Image result for John 10:37