Tujuh Puluh Kali Tujuh Kali

Renungan Selasa 21 Maret 2017

Bacaan: Dan. 3:25,34-43; Mzm. 25:4bc-5ab,6-7bc,8-9; Mat. 18:21-35

Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (Mat 18:22)

Bicara masalah pengampunan adalah hal yang setiap saat selalu ada dalam hidup kita. Dan bagi sebagian orang, hal ini bukan sesuatu yang mudah, bukan sesuatu yang enak, dan bahkan sesuatu yang seringkali orang tidak mau lakukan.

Ada banyak alasan mengapa orang tidak mau mengampuni. Terlalu marah, terlalu sakit, terlalu kecewa, terlalu benci dan banyak hal lain yang dianggap terlalu, yang berhubungan dengan hati dan fokusnya diri sendiri.

Ada juga yang fokusnya kepada pelaku yang membuat kita tidak mau memaafkan. Berbagai argumentasi, seperti dia tidak layak diampuni, terlalu enak bagi dia untuk diampuni, percuma diampuni karena akan diulangi, saat berbuat seharusnya dipikir dahulu. Dan masih banyak lagi alasan yang bisa dikatakan.

Atau ada yang mengatakan saya mau mengampuni, tapi saya tidak bisa melupakan, saya tidak mampu, saya tidak mampu mengendalikan diri saya, kemarahan saya masih ada dan segudang alasan lagi, yang mana intinya adalah aku tidak mau mengampuni

Saat seseorang disakiti, fokusnya selalu diri sendiri, dan menganggap diri yang paling benar, korban yang harus dikasihani, korban yang harus dibela. Saat kita hanya fokus pada diri kita, mengandalkan kekuatan kita, maka pengampunan bisa dikatakan sesuatu yang mustahil.

Sejenak kita mau melihat diri kita dengan Tuhan. Seberapa kita bisa sakit, dan seberapa kita bisa mengampuni, hal itu menunjukkan sejauh mana Yesus berdaulat atas hidup kita, dalam arti sejauh mana kita menerima Yesus sebagai Tuhan.

Sejenak kita mau memeriksa, siapakah yang memegang peranan dalam hidupku? Ketika tokoh utamanya adalah “aku”, maka semakin rentan kita untuk “sakit” karena ego kita makin kuat. Kita tidak lagi menyertakan Tuhan. Kita tidak lagi belajar tentang “kasih” Tuhan. Kita tidak lagi berusaha memiliki hati dan karakter Tuhan dalam hidup kita.

Saat kita berpikir, bertindak dan berkata-kata seperti Tuhan, maka kemungkinan kita tersakiti akan kecil. Kita harus sering memposisikan Yesus dalam keadaan kita dan bertanya, “Apa yang akan Yesus pikirkan? Apa yang akan Yesus katakan? Apa yang akan Yesus lakukan?”

Dan saat berbicara tentang pengampunan, itu bukan lagi tentang orang yang menyakiti kita. tetapi juga masalah membebaskan diri kita. Melepaskan segala kemarahan, sakit hati, kekecewaan, kepahitan, dan segala macam perasaan negatif yang tidak menguntungkan. Dan semuanya itu malah akan menghalangi kita bertumbuh dan menghalangi relasi dengan Tuhan. Dan jelas damai sejahtera, sukacita dan perasaan positif lainnya akan jauh dari kita.

Mari sejenak kita lihat diri kita? Berapa banyak pengampunan yang sudah Tuhan berikan pada kita? Seberapa sering kita jatuh pada kesalahan yang sama? Berapa banyak dosa yang sudah kita lakukan? Berapa banyak pengampunan yang sudah Tuhan berikan?

Tuhan mau kita pun melakukan hal yang sama. Bukan hanya satu kali, dua kali atau tiga kali. Tetapi Tuhan katakan tujuh puluh kali tujuh kali. Kalimat ini banyak yang mengartikan sebagai 70×7 = 490. Kalau setiap hari berarti satu tahun lebih sekian bulan. Setelah itu selesai. Tapi jika diterjemahkan dalam bahasa matematika adalah “70x7x”. Kali yang terakhir dikalikan berapa? Pengalinya tidak terhingga. Jadi “490 x ~ = ~ “. Jawabannya adalah tidak terhingga.

Sebagai manusia, mungkin kita akan katakan tidak mungkin, tidak bisa, tidak mampu. Untuk itulah Tuhan Yesus hadir, Dia ada bersama kita saat kita mengalami, saat kita disakiti. Roh Kudus sudah dicurahkan ke dalam diri kita, maka mari kita mengandalkan Roh Allah. Terus berdoa, mohon bantuan-Nya. Untuk menguasai diri kita, hati kita, pikiran kita, untuk memampukan kita melakukan sesuai perintah Tuhan. Bersama Yesus pasti bisa. Berseru, bersandar dan mohon pertolongan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. (ADJ)

Image result for Matthew 18:22