Selidiki Aku

Renungan Kamis 23 Maret 2017

Bacaan: Yer. 7:23-28; Mzm. 95:1-2,6-7.8-9; Luk. 11:14-23

Pada masa sekarang ini, dunia sekitar kita sering mengangkat suatu kebohongan guna memecah belah kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Berbagai usaha-usaha lembut digunakan sebagai senjata memecah belah persatuan bangsa. Dalam dunia politik tidak ada ikatan persekutuan yang langgeng, setiap saat koalisi dapat dibuat dan dibubarkan bahkan diingkari. Pihak-pihak yang berseberangan pun bisa bertemu karena adanya kepentingan yang menyatukan, yaitu kepentingan untuk berkuasa.

Tetapi kuasa kerajaan Allah dan kuasa Beelzebul adalah dua hal yang berlawanan. Kepentingannya tidak pernah dapat bertemu dan berdamai satu sama lain. Kuasa yang menyelamatkan dan memberi damai sejahtera tidak mungkin dapat berjalan seiring dengan kuasa yang merusak dan membinasakan.

Bacaan Injil hari ini menceritakan bagaimana orang-orang tidak beriman menolak ajaran Yesus. Orang tidak beriman ini berpandangan bahwa apapun yang dilakukan oleh Yesus, semua adalah buruk dan merupakan karya si jahat. Mereka iri dan tidak senang apabila Yesus nampak hebat dan berkuasa. Mereka menyebarkan gosip dan menfitnah kalau Yesus mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Meskipun demikian, Yesus tidak marah, tidak menyerang dan tidak membenci orang-orang yang menolak ajaran-Nya. Yesus dengan lembut menyapa dan berdialog dengan mereka.

Bagaimana jawaban Tuhan Yesus pada saat difitnah berkenaan dengan pengusiran setan yang membuat seseorang menjadi bisu? Setelah gagal melawan secara terbuka, musuh Yesus memakai jalan memfitnah. Mereka mengatakan bahwa Yesus sanggup mengusir setan bukan karena kuasa yang berasal dari Allah, melainkan karena Dia bersekutu dengan Beelzebul, sang penghulu setan.

Tuhan Yesus memberi dua jawaban yang mematahkan pendapat mereka, yaitu:

  1. Yesus menjawab bahwa jika sebuah kerajaan terjadi perang saudara, kerajaan itu pasti tidak akan menjadi lemah dan tidak bisa bertahan. Jika Beelzebul menyerang anggotanya sendiri, maka kerajaan setan pasti akan berakhir. Hanya ada satu cara mengalahkan setan, yaitu dengan kuasa Allah (Luk 11:17-22). Jawaban ini masuk akal sehingga tidak bisa dibantah.
  2. Yesus memberi pertanyaan yang membuat lawannya harus menentukan sikap, untuk menjadi sahabat-Nya atau menjadi lawan-Nya. Tidak ada sikap yang netral. Tidak bersama Kristus berarti melawan Dia. Tidak mengumpulkan kawanan domba Allah berarti menceraiberaikan (Luk11:23).

Ketika kita berbuat kebaikan atau kebenaran, akan selalu ada orang yang tidak suka pada kita. Si jahat tidak senang ketika kita menyenangkan hati Tuhan. Tetapi tetaplah berbuat kasih dan meneladan sikap Yesus. Karena yang Yesus lakukan bukan untuk mendapat  simpati, tetapi semua adalah karena kasih.

Ada pepatah populer yang sering kita dengar, ‘fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan’. Fitnah bisa menghancurkan seseorang. Memfitnah berarti memainkan peran seperti seorang hakim yang menghakimi seorang terdakwa. Kita semua adalah anak Allah, warga kerajaan Allah. Janganlah hendaknya kita mengotori hidup dengan cara menyebarkan gosip atau memfitnah orang lain. 

Mungkin secara sadar atau tidak, kita yang mengaku sebagai anak Allah, sebagai pelaku Firman, bahkan menyatakan diri sebagai pelayan atau hamba Tuhan, yang selalu menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari, tapi suatu saat lidah dan bibir kita bisa terpeleset dengan memfitnah orang lain.

Kadang kita tidak mengetahui kebenaran suatu cerita bisa dengan seenaknya menambah-nambahi perkataan orang lain, atau menceritakan suatu cerita yang kita sendiri tidak tahu kebenarannya.

Memang tanpa kita sadari menggosipkan orang lain itu adalah sesuatu yang membuat kita terlena, karena kita berusaha menceritakan kejelekan dan kelemahan orang lain. Dan merasa diri kita adalah orang yang terbaik, terhebat, orang yang suci dan bebas dari kelemahan.

Kadang kala, hanya karena kita mendengar satu dua kalimat saja dari satu orang, kita bisa jadi penyebar berita yang hebat dengan menceritakan ulang satu dua kalimat yang kita dengar tadi. Dan celakanya, satu dua kalimat tersebut kita bumbui sehingga menjadi suatu cerita yang menarik dan meyakinkan orang lain bahwa apa yang kita ceritakan tadi adalah suatu kebenaran yang terjadi.

Pada masa retret agung ini, mari kita merefleksi diri apakah kita yang menyatakan diri sebagai pelayan Tuhan, hamba Tuhan, mitra kerja Allah, bahkan sebagai anak Allah, sudah hidup benar dan berkenan di hadapan Tuhan.

  • Apakah lidah dan bibir kita selalu menyatakan kebenaran?
  • Apakah kita merasa orang yang terhebat dengan menceritakan kelemahan dan kekurangan orang lain?
  • Apakah kita pernah mendengar satu dua kalimat perkataan seseorang dan menceritakannya kembali kepada yang lain dengan menambah-nambahi sehingga menjadi suatu cerita yang meyakinkan atau gosip yang menarik?
  • Apakah kita pernah menceritakan suatu kejadian dengan hanya mendengar dari sepihak saja tetapi agar kita terlihat hebat, kita memfitnah bahkan menyebarkannya padahal kita sendiri tidak tahu kebenarannya?
  • Apakah kita pernah atau sering melukai hati orang lain dengan perkataan dan perbuatan yang kita lakukan?
  • Apakah kita sering menjadi orang yang munafik, dengan pura-pura bersikap baik di depan semua orang?

Pada masa prapaskah ini merupakan saat yang tepat bagi kita untuk menyadari apa yang sudah pernah kita perbuat. Hal-hal manakah dari refleksi tersebut di atas yang sudah kita lakukan, bahkan tanpa kita sadari, perbuatan kita itu sudah merusak nama baik bahkan merusak kehidupan orang lain?

Seperti sebuah ilustrasi tentang sebatang kemoceng, yaitu alat pembersih debu yang terbuat dari bulu-bulu ayam. Kemoceng tersebut kita bawa ke atas jembatan. Kemudian kita mencabut semua bulu-bulu yang melekat pada kemoceng tersebut. Setelah itu kita membuang bulu-bulu kemoceng ke bawah jembatan. Dan apa yang terjadi? Bulu-bulu tersebut akan beterbangan kian kemari. Selang beberapa saat kemudian, kita menyesal telah mencabuti dan membuang bulu-bulu tersebut, lalu kita berusaha memungut satu per satu bulu-bulu yang sudah berhamburan tadi. Dapatkah kita mengumpulkan kembali semua bulu-bulu tersebut dan kita rangkai menjadi satu kemoceng yang indah seperti sebelumnya?

Suatu  refleksi diri dan ilustrasi yang perlu kita renungkan hari ini dengan hati terbuka. Dengan rendah hati, kita mohon Roh Kudus untuk menjamah dan melembutkan hati kita, agar kita dapat dibentuk oleh Tuhan menjadi bejana yang indah bagi kemuliaan Tuhan.

Mari kita resapi setiap kata dari lagu di bawah ini sebagai wujud doa dan tobat kita pada hari ini.

Selidiki aku.. lihat hatiku.. apakah ku sungguh mengasihi-Mu Yesus.

Kau yang Maha tahu…dan menilai hidupku.

Tak ada yang tersembunyi bagi-Mu

            T’lah ku lihat..kebaikan-Mu.. yang tak pernah habis di hidupku.

            Ku berjuang sampai akhirnya.

            Kau dapati aku tetap setia.

Berkat dan kasih karunia Tuhan Yesus senantiasa menyertai kita semua. Amin

RE

Image result for selidiki aku