Masih Berani Sombong?

Renungan Selasa 14 Maret 2017                                            

Bacaan: Yes 1:10.16-20; Mzm 50:8-9.16bc-17.21.23; Mat 23:1-12

Seorang pengusaha dengan nada kesal bercerita kepada saya: “Saya kecolongan, tidak menyangka kalau karyawan yang baru saya terima sebagai pegawai ternyata tidak disiplin, yaitu mencuri waktu istirahat sampai tiga jam, padahal hasil tesnya bagus lho.”

Hal tersebut dapat terjadi pada siapa pun dan dalam bidang apa pun. Ketika kita mengandalkan kekuatan sendiri, kita sering terkecoh dengan penampilan luar seseorang.

Kehidupan yang baik dan benar merupakan dambaan setiap orang. Dari manakah hendak kita mulai, agar dambaan hati ini menjadi kenyataan?

Bagi anak-anak sampai masa remaja, jika mereka melihat perbuatan orang yang ada di sekitarnya atau orang yang diidolakannya berbuat baik, maka mereka akan melakukannya. Hal ini memang baik, namun rapuh karena dasar-dasar kebenaran firman Tuhan belum mereka dapatkan. Sedangkan bagi orang dewasa yang sudah mampu menggunakan nalar atau akal sehatnya, mereka berbuat baik tidak hanya melihat orang lain berbuat baik, melainkan juga dari ajaran orang-orang yang diberi kepercayaan Tuhan dalam mewartakan kebenaran-Nya. Dalam Injil Matius dikatakan: “…..telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu,…” (Matius 23:2-3), meskipun mereka tidak melakukan ajaran yang diwartakannya. Nabi Yesaya juga mengingatkan kita “Dengarlah firman Tuhan, hai pemimpin-pemimpin, ….Perhatikanlah! pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora!” (Yes 1:10).

Untuk bisa menerima ajaran mereka, kita perlu bantuan Roh Hikmat dari Tuhan bukan dari manusia supaya kita tidak mudah menghakimi orang lain dengan mengatakan “orang itu munafik, apa yang dikatakannya tidak dia lakukan”. Seringkali apa yang tampak di luar itulah yang menjadi ukuran kita menilai orang lain.

Apa yang dilakukan ahli Taurat dan orang Farisi bisa juga terjadi pada kita. Kita melakukan pelayanan supaya kita mendapat pujian dan kehormatan, atau bahkan supaya kita terkenal. Kita lupa bahwa hanya Yesuslah yang harus ditinggikan dan dimuliakan baik dalam kehidupan sehari-hari, maupun ketika kita mewartakan kebenaran Firman-Nya. 

Dalam retret agung masa Prapaskah ini, marilah kita memerangi diri sendiri atau membasuh diri dengan tidak menghakimi orang lain, mengusahakan keadilan sosial bagi sesama, dengan rendah hati menghargai keterbatasan orang lain bahkan memberi  motivasi agar orang lain berani melakukan sesuatu yang berharga demi kebaikan dirinya maupun sesamanya karena firman Tuhan mengatakan: “Barangsiapa yang meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.” (Mat 23:12). Bahkan Salomo juga mengatakan: “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.”  (Ams 16:18).

Kalau firman Allah mengatakan demikian masih beranikah kita sombong?

Tuhan Yesus memberkati.

ECMW

Image result for matthew 23:1-12;