Hukum Yang Terutama

Renungan Jumat 24 Maret 2017

Bacaan: Hos. 14:2-10; Mzm. 81:6c-8a,8bc-9,10-11ab,14,17; Mrk. 12:28b-34

Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. (Mrk 12:29-30)

Di awal saya belajar membaca Alkitab pengertian saya akan sabda ini membingungkan saya, karena bagaimana saya bisa mencintai Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dengan segenap kekuatan, sedangkan saya juga harus melakukan kegiatan dalam kehidupan keluarga dan pekerjaan.

Melalui pengalaman hidup, hari demi hari Tuhan tuntun perjalanan iman saya untuk memahami sabda ini. Kini saya mulai mengerti bahwa untuk mencintai Tuhan memang diperlukan totalitas yaitu segenap hati tidak setengah-setengah, juga melibatkan jiwa dan akal budi kita, serta kekuatan kita.

Saya mendapatkan peneguhan saat saya terlibat di dalam pelayanan. Bila kita melayani dengan setengah hati atau terpaksa, maka hasil pelayanan yang kita dapatkan pun tidak ada sukacita, sepertinya kita hanya melakukan sesuatu tugas seperti rutinitas saja. Bahkan kadang menjadi beban.

Tapi bila kita melakukan dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, sepenuh akal budi, sepenuh kekuatan, walaupun lelah, kita punya sukacita yang tak terhingga.

Karena tujuan hidup kita adalah untuk menyenangkan hati Allah. Kita dikatakan mengasihi Allah bila kita menyenangkan hati Allah, dengan melakukan apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan, bukan melakukan apa yang kita kehendaki.

Karena manusia lama saya sering melakukan apa yang saya kehendaki bukan yang Allah kehendaki, sehingga di dalam mengemban tugas itu tidak ada sukacita.

Dan saya lebih mengerti lagi di saat saya merawat suami saya yang sedang sakit. Saya melakukannya dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan saya, sehingga sampai saat akhir hayat suami saya yang walaupun sudah saya rawat sedemikian tapi tidak juga mengalami kesembuhan, bahkan meninggal, tetap ada rasa sukacita dalam hati saya, karena saya sudah melakukan yang terbaik bagi suami.

Doa: Terima kasih Tuhan atas bimbingan-Mu di dalam perjalanan hidup ini, sehingga membuat aku semakin mengerti arti mengasihi-Mu dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatanku.

HFS

Image result for mark12:29-30