Ampuni dan Doakan Musuhmu

Renungan Senin 13 Maret 2017

Bacaan: Dan. 9:4b-10; Mzm. 79:8,9,11,13; Luk. 6:36-38

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (Luk 6:36-38)

Apakah yang terpenting dari segala sesuatu dalam hidup ini? Image result for ampuni kesalahan kami seperti kami pun

“Mengampuni”.

Jika dalam diri seseorang tidak memiliki rasa saling memahami, dan memaafkan maka yang terjadi masing-masing pribadi akan saling menyalahkan, mengumpat, memfitnah, membenci dan marah, sehingga setiap orang akan melukai dirinya sendiri (sehingga terjadi luka batin), setelah itu akan melukai orang-orang di sekitarnya.

Seperti contoh kasus pilkada DKI, suatu kesalahan yang diperbesar untuk kepentingan politik perebutan kekuasaan yang menghabiskan waktu, uang dan tenaga. Betapa indahnya hidup ini, jika dalam kehidupan bersama kita, bisa saling mengampuni, menerima, memahami dengan sepenuh hati.

Kalau kita tidak mengampuni,  berarti dalam hati kita masih ada keinginan untuk membalas dan menghakimi. Jadi bila kita mengampuni dengan sepenuh hati, hendaknya kita membebaskan diri dari rasa dendam atau pun marah seperti yang telah diajarkan oleh Yesus kepada kita mengenai pengampunan yaitu, “Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Mat 18:22).

Pada usia saya 40-an, saya mempunyai usaha percetakan sablon untuk sandal jepit. Dari beberapa puluh karyawan ada salah satu orang kepercayaan yang sangat saya sayangi. Karyawan kepercayaan itu mengetahui semua pemasok dan ongkos sablon. Tetapi ternyata karyawan itu mengkhianati saya dengan mengambil pesanan sendiri bersama dengan temannya. Karyawan itu saya keluarkan dan menjadi pesaing saya selama satu tahun.

Waktu itu saya sangat marah dan kecewa, saya tidak bisa memaafkan. Butuh waktu satu tahun saya baru bisa memaafkan dengan cara saya mengucapkan kalimat pada saat berdoa. Kalimat itu adalah, “Saya memaafkan dan mengampuninya, curahkanlah rahmat dan rejeki bagi dia.” Kalimat itu terucapkan dan bisa didengar.

Sejak saat itu hati terasa lega seperti ada beban yang terlepas dan doa itu bisa saya ulang setiap hari. Setelah itu usaha saya semakin besar dan maju. Rahmat Tuhan tidak terhalang karena luka batin itu. Saya baru menyadari, mengampuni dan mendoakan (terucap dengan kalimat) itu sulit kalau tidak ada bantuan Rahmat Tuhan.

Ketika Yesus bergantung tanpa daya di atas salib sambil menanggung beban penderitaan yang sangat mendalam, Ia melihat semua orang mencemoohkan dan mengolok-olok Dia. Yesus berpaling kepada Bapa-Nya seraya berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Sebagai murid-murid Yesus, kita perlu mencontoh dan meneladani hidup Yesus dalam mengampuni sesama yang bersalah kepada kita. Amin.

Tuhan memberkati.

SWK