Aku Memang Hebat

Renungan Rabu 15 Maret 2017

Bacaan: Yer. 18:18-20; Mzm. 31:5-6,14,15-16; Mat. 20:17-28

Image result for matthew 20:26-27Mat 20:26-27 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;

Di zaman ini, tidak banyak orang sampai pada pemikiran bahwa menjadi seorang pemimpin adalah suatu tugas yang diterima dari Tuhan. Kebanyakan merasa bahwa ditunjuk sebagai pemimpin adalah suatu bentuk pengakuan dari sesama bahwa dia lebih pandai, lebih unggul dari yang lain, dan lebih pantas atau paling pantas memegang jabatan itu.

Sebenarnya, dengan memegang jabatan ketua atau kepala atau koordinator atau apa pun sebutannya, seseorang dipilih oleh Tuhan untuk memikirkan kesejahteraan orang-orang di bawah kepemimpinannya. Ia dituntut untuk mengusahakan dengan sekuat tenaga dan dengan segenap akal budinya agar orang-orang yang dipercayakan Tuhan di bawah kepemimpinannya berada dalam satu kondisi jiwa dan raga yang baik, supaya nantinya mampu memberikan yang terbaik bagi komunitas atau organisasi di mana dia berada.

Memang sesungguhnya kriteria pemimpin secara dunia pun bukanlah hal yang salah. Amatlah aneh bila seorang sarjana agama ditunjuk sebagai Kepala Dinas Kesehatan misalnya. Ini tentunya tidak lazim, walaupun ternyata dalam dunia nyata, hal seperti ini ternyata bukan omong kosong, alias bisa terjadi. Banyak penempatan seseorang yang tidak menganut azas “the right man for the right place”. Ini tentunya sudah sangat menyalahi aturan dasar manusiawi tentang pemilihan pemimpin.

Tetapi yang harus direnungkan lebih lanjut oleh setiap orang Kristen yang ditunjuk menjadi seorang pemimpin adalah  bahwa penunjukan itu adalah suatu tugas dari Tuhan supaya ia berusaha keras menjadi seorang gembala yang baik bagi ‘domba-domba’nya. Menjadi pemimpin juga berarti ikut membantu pemimpin lain dalam lingkup yang lebih luas di atasnya, mengatur dengan tertib satuannya. Hal ini juga diajarkan oleh mertua Musa ketika Musa kewalahan mendengarkan semua perkara orang-orang Israel saat di padang gurun. Yitro menasihati Musa memilih seorang pemimpin bagi satu kelompok lima puluh, seratus sampai seribu. Ini juga yang dimaksud Yesus ketika bertanya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?”

Yesus menghendaki bahwa pemimpin-pemimpin Kristen, baik dalam skala kecil maupun besar, selalu mengingat bahwa tujuannya menjadi pemimpin adalah menjadi perpanjangan tangan pemimpin yang lebih besar untuk menyejahterakan orang-orang di bawah kepemimpinannya.

Perhatian Tuhan adalah bagi semua umat-Nya di dunia, yang dilaksanakan melalui pemimpin-pemimpin umat yang ditunjuk-Nya, baik dalam situasi duniawi maupun gerejani.

Lalu siapa yang akan memperhatikan pemimpin-pemimpin itu sendiri? Jawabnya adalah: TUHAN sendirilah yang akan memberkati mereka para pemimpin itu dengan berkat jasmani maupun rohani, hikmat duniawi maupun rohani, untuk mampu mengemban tugas yang diberikan oleh Bapa kepada mereka.

Jadi, bila Anda secara tak terduga ‘ketiban’ tugas sebagai pemimpin dalam masyarakat maupun di lingkup gereja, ingatlah bukan karena kekuatan, kepandaian dan kegagahan Anda, maka Anda dipilih, melainkan karena Tuhan mempercayakan kesejahteraan sekelompok orang pada kepemimpinan Anda. Dan bukan untuk kesejahteraan atau kemakmuran Anda, maka Anda dipilih, melainkan untuk kebahagiaan semua orang dalam penggembalaan Anda.

Laksanakan tugas Tuhan bagi Anda yang telah dipercayakan-Nya kepada Anda dengan penuh kesetiaan.

Doa: Bapa, berilah kami hati yang selalu terarah kepada-Mu, agar kami selalu sadar bahwa kami mempunyai tugas perutusan di lingkungan hidup kami masing-masing. Amin.

HCLK