Hukum Taurat vs Hukum Kasih

Renungan Minggu 12 Feb 2017

Bacaan: Sir. 15:15-20; Mzm. 119:1-2,4-5,17-18,33-34; 1Kor. 2:6-10; Mat. 5:17-37

“Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat atau Kitab Para Nabi, melainkan untuk menggenapinya.”

Pengajaran Yesus yang radikal dan tegas ini mengundang reaksi dari para murid-Nya, seakan-akan Yesus mau meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi. Yesus menegaskan bahwa Dia datang justru untuk menggenapinya, yang kurang akan disempurnakan.

Seperti yang dapat kita lihat pada ayat 21 dan seterusnya, sebagai contoh dalam kitab Taurat dikatakan “Jangan membunuh, jika membunuh, ia akan dihukum.” Tetapi Yesus katakan: “Barangsiapa marah kepada orang lain, akan diadili”. Jadi hukum Taurat tersebut disempurnakan oleh Yesus bukan hanya membunuh yang tidak boleh, marah saja tidak boleh (ayat 22), sebab Yesus melihat kemarahan yang menyala-nyala dapat mengarah kepada tindakan kekerasan (fisik) yang pada akhirnya bisa saja terjadi pembunuhan. Yesus memandang kemarahan yang seringkali diekspresikan dengan kata- kata caci maki, tuduhan, fitnah, dsb. merupakan hal yang sangat serius, sehingga Yesus mengatakan dapat menyeret seseorang kepada penghukuman atau pengadilan.

Apa yang Yesus tegaskan: kedatangan-Nya bukan untuk meniadakan hukum Taurat namun untuk menggenapinya, Yesus tidak ingin berhenti hanya pada peraturan-peraturan dan huruf-huruf yang ada di dalam Taurat itu saja. Tetapi Yesus menghendaki supaya apa yang tertulis dan disempurnakan-Nya perlu untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Yesus tidak menginginkan bahwa hukum-hukum itu hanya menjadi simbol-simbol atau huruf mati dalam sebuah kitab, melainkan menjadi nyata dalam pikiran, perkataan dan tindakan pengikut-Nya.

Memang dalam mewujudkannya Yesus harus berhadapan dengan kenyataan yang sulit. Banyak pertentangan justru dari bangsanya sendiri, padahal Yesus hendak menggenapi Hukum Taurat menjadi Hukum Kasih. Hukum yang membebaskan manusia dari segala hal-hal yang membelenggu, hukum yang mengajarkan, menghayati dan mengamalkan cinta kasih dalam bentuk nyata dari kehidupan manusia.

Demikian halnya kita untuk dapat sungguh-sungguh menjadi pengikut setia Tuhan dan mewujudkan ajaran-ajaran-Nya dalam perkataan dan tindakan, kita tidak bisa setengah-setengah dalam mengikuti-Nya. Bahkan dikatakan, “Kalau matamu berdosa, cungkillah dan buanglah mata itu, Kalau tanganmu menyebabkan engkau berdosa, potong dan buanglah tangan itu. Lebih baik kehilangan salah satu anggota badanmu daripada seluruh badanmu dibuang ke dalam neraka.”

Mengikuti Yesus akan menghadapi banyak rintangan, pertentangan baik dari dalam diri sendiri maupun dari lingkungan. Janganlah engkau takut, Yesus akan melindungimu, Yesus akan berjalan bersamamu. Serahkan hidupmu pada Yesus sebagai pokok anggur kehidupan. Bila kita tetap tinggal dan melekat pada Yesus sebagai pohok anggur kehidupan kita, maka kita akan aman, menang. Teruslah berjalan di dalam kehendak-Nya, teruslah bersekutu dengan-Nya, terus lanjutkan langkah imanmu berjalan bersama Yesus, pasti ada kemenangan.

Bersihkan hatimu, sebab dari hati yang bersih akan terpancar pikiran yang jernih, dari pikiran yang jernih akan terungkap perkataan dan tindakan kasih, selamat berjuang. (IGP)