Ajaran Gereja Mengenai Kematian

Renungan Jumat, 3 Februari 2017

Bacaan : Ibr. 13:1-8; Mzm. 27:1,3,5,8b-9abc; Mrk. 6:14-29

Dalam Injil yang kita renungkan hari ini, kita lihat bagaimana akhir kehidupan St. Yohanes Pembaptis, keberaniannya menegur Herodes berkaitan skandalnya dengan Herodias, istri Filipus saudara Herodes, membuat St. Yohanes Pembaptis ditangkap dan dipenjarakan. Dan karena dendam Herodias, dalam suatu kesempatan akhirnya St. Yohanes Pembaptis mati dengan cara dipenggal kepalanya. Suatu ironi, bagaimana St.Yohanes Pembaptis dipenggal kepalanya, karena keputusan Raja Herodes yang sedang mabuk, ketika dia dan tamu-tamu senang dengan tarian Salome, anak Herodias, dia dalam keadaan mabuk menjanjikan apapun yang diminta Salome akan diberikan. Kesempatan ini diambil Herodias, melalui Salome, dia minta kepala St. Yohanes Pembaptis.

Secara manusiawi, bila kita renungkan mungkin kematian St.Yohanes Pembaptis dianggap sebagai kematian yang sia-sia, kematian yang diputuskan oleh Herodes dalam mabuknya, kematian akibat tarian Salome dan dendam Herodias. Tapi dalam pandangan iman, tentunya apa yang terjadi St. Yohanes Pembaptis tidak terlepas dari penyelenggaraan Allah, singkatnya tugasnya untuk mempersiapkan jalan (Mrk 1:3) kedatangan Tuhan Yesus di dunia ini sudah selesai. St. Yohanes Pembaptis sendiri katakan : “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripadaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak” (Mrk 1:7). Kemudian dia juga katakan: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30). St. Yohanes Pembaptis benar-benar sadar akan tugasnya untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan.

Belajar dari semangat dan teladan St. Yohanes Pembaptis, demikian juga dengan kita para murid Kristus, kita perlu sadar dalam apapun yang kita lakukan, juga dalam pelayanan, tugas kita adalah mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan untuk orang yang kita layani. Kita bukan bintangnya, tetapi Kristus-lah yang harus menjadi bintangnya. Sebagai ilustrasi seperti di dunia peran, kita hanya figuran, bukan pemeran utama. Pemeran utamanya adalah Kristus sendiri, sedangkan kita sebagai figuran, kita diikutsertakan dalam pekerjaan Tuhan. Sehingga bersama St.Yohanes Pembaptis, ketika kita mengalami keberhasilan dan pujian dalam pelayanan, kita perlu bersyukur dan menyadari : “Dia harus makin besar dan aku harus makin kecil”. Di sinilah kita belajar kerendahan hati dari St. Yohanes Pembaptis.

Kembali pada kematian yang dialami St. Yohanes Pembaptis, bila kita renungkan kematian adalah misteri penyelenggaraan Allah, ada orang meninggal karena sakit, karena kecelakaan, musibah, bencana, dsb. Kita juga tidak tahu saat kapan dan bagaimana maut akan menjemput kita.

Ada satu lelucon yang pernah muncul di media sosial : “Semua orang ingin masuk surga, tapi disuruh duluan tidak ada yang mau”. Kematian memang seringkali menakutkan dan menyedihkan, tapi hanya karena dan oleh Kristus, kematian Kristiani mempunyai arti positif, Katekismus Gereja Katolik (KGK) no. 1010:

Oleh Kristus kematian Kristen mempunyai arti positif. “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp 1:21). “Benarlah perkataan ini: jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia” (2 Tim 2:11). Aspek yang sungguh baru pada kematian Kristen terdapat di dalam hal ini: Oleh Pembaptisan warga Kristen secara sakramental sudah “mati bersama Kristus”, supaya dapat menghidupi satu kehidupan baru. Kalau kita mati dalam rahmat Kristus, maka kematian badani menyelesaikan “mati bersama Kristus” ini dan dengan demikian melaksanakan secara definitif penggabungan kita dalam Dia oleh karya penebusan-Nya:

“Lebih baiklah bagiku untuk mati karena Kristus, daripada hidup sebagai raja atas segala ujung bumi. Aku mencari Dia, yang wafat untuk kita; aku menghendaki Dia, yang bangkit demi kita. Kelahiran aku nantikan… biarlah aku menerima sinar yang cerah. Setelah tiba di sana, aku akan menjadi manusia” (Ignasius dari Antiokia, Rom 6,1-2)

Bagi orang yang percaya kepada Kristus, kematian bukanlah akhir dari segala-segalanya, tetapi justru merupakan awal kehidupan yang baru, hidup tidak dilenyapkan, tetapi hanya diubah. (bdk. KGK 1012)

Pandangan Kristen mengenai kematian Bdk. 1 Tes 4:13-14. dilukiskan dengan sangat bagus dalam liturgi Gereja:

“Bagi umat beriman-Mu, ya Tuhan, hidup hanyalah diubah, bukannya dilenyapkan. Dan sesudah roboh rumah kami di dunia ini, akan tersedia bagi kami kediaman abadi di surga” (MR, Prefasi Arwah).

Kematian adalah titik akhir peziarahan manusia di dunia dan tidak ada reikarnasi, KGK 1013 :

Kematian adalah titik akhir penziarahan manusia di dunia, titik akhir dari masa rahmat dan belas kasihan, yang Allah berikan kepadanya, supaya melewati kehidupan dunia ini sesuai dengan rencana Allah dan dengan demikian menentukan nasibnya yang terakhir. “Apabila jalan hidup duniawi kita yang satu-satunya sudah berakhir” (LG 48), kita tidak kembali lagi, untuk hidup beberapa kali lagi di dunia. “Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja dan sesudah itu dihakimi” (Ibr 9:27). Sesudah kematian tidak ada “reinkarnasi”.

Semoga oleh rahmat dan Kerahiman Allah, kita boleh menerima rahmat kematian yang baik, yaitu KEMATIAN DALAM PERSAHABATAN DENGAN ALLAH. Karena itu bunda Gereja juga selalu mengajak kita untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian, KGK 1014 :

Gereja mengajak kita, supaya kita mempersiapkan diri menghadapi saat kematian (“Luputkanlah kami dari kematian yang mendadak ya Tuhan” – Litani semua orang kudus), supaya mohon kepada Bunda Allah agar ia mendoakan kita “pada waktu kita mati” (doa “Salam Maria”) dan mempercayakan diri kepada santo Yosef, pelindung orang-orang yang menghadapi kematian:

“Dalam segala perbuatanmu, dalam segala pikiranmu, hendaklah kamu bertindak seakan-akan hari ini kamu akan mati. Jika kamu mempunyai hati nurani yang bersih, kamu tidak akan terlalu takut mati. Lebih baik menjauhkan diri dari dosa, daripada menghindari kematian. Jika hari ini kamu tidak siap, apakah besok kamu akan siap?” (Mengikuti Jejak Kristus 1,23, 1).

“Terpujilah Engkau, Tuhanku,
karena saudari kami, Maut Jasmani
darinya tiada insan hidup terlepas.
Malanglah yang mati dalam dosa.
Bahagialah yang didapati dalam kehendak suci-Mu,
maut kedua takan mencelakakannya” (Fransiskus dari Asisi – Gita Sang Surya)

Akhirnya semoga bersama para kudus, pada akhir hidup kita, kita boleh mati dalam cintakasih, karena “pada senja hidup kita, kita akan diadili menurut cinta kasih” (St. Yohanes Salib), baik cinta kasih kepada Allah dan juga cinta kasih kepada sesama. Amin.(ET)