Semua Karena Anugerah-Nya

Renungan Kamis 5 Januari 2017

SEMUA KARNA ANUGERAHNYA

Bacaan: 1Yoh. 3:11-21; Mzm. 100:2,3,4,5; Yoh. 1:43-51.

Bukan karna kebaikanku, bukan karna fasih lidahku, bukan karna kekayaanku, ku dipilih ku dipanggil-Nya.

Bukan karna kecakapanku, bukan karna baik rupaku, bukan karna kelebihanku, ku dipanggil ku dipakai-Nya.

Bila aku dapat, itu karena-Nya, bila aku punya semua daripada-Nya.

Semua karna anugrah-Nya,  dibrikan-Nya pada kita.

Semua anugrah-Nya bagi kita, bila kita dipakai-Nya.

Bila kita resapi baik-baik lirik lagu tersebut di atas, kita menyadari bahwa Tuhan Yesus memanggil kita untuk diberkati dan memberkati orang lain, untuk dipulihkan dan memulihkan sesama, karena itu merupakan anugerah dari Tuhan, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15:16). Karena itu sudah selayaknya kita mendengar panggilan Tuhan dan segera menanggapi panggilan Tuhan tersebut. Tetapi panggilan Tuhan itu terasa melemah ketika banyaknya alasan yang muncul dari dalam diri kita, misalnya :

  • Merasa tidak mendengar panggilan Tuhan.
  • Jika mendengar, tetapi masih merasa itu bukan panggilan Tuhan.
  • Merasa tidak layak di hadapan Tuhan karena dosa dan kesalahan kita.
  • Ada perasaan tidak mampu melakukan panggilan Tuhan.
  • Kalau pun sudah diyakinkan bahwa sekalipun tidak layak, Tuhan sendirilah yang akan memampukannya, tetapi masih ada perasaan tidak siap untuk melaksanakan panggilan Tuhan.
  • Merasa minder dalam bersaksi, menceritakan tentang kebaikan Tuhan dalam hidupnya, karena terbiasa mendengarkan kesaksian yang kelihatannya luar biasa, misalnya sembuh dari sakit parah, dan sebagainya.

Tuhan Yesus memanggil kita untuk mengikuti-Nya, bukan karena kita baik atau sempurna. Tetapi Tuhan telah merencanakan dari semula dan Tuhan tahu siapa yang dipanggil-Nya. Maksud Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk kepentingan kita sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang lain. Kita dipulihkan Tuhan agar kita bisa memulihkan sesama, kita diberkati Tuhan agar kita juga dapat menjadi saluran berkat bagi sesama. Setiap kita dipanggil untuk dapat ambil bagian dalam karya kasih Allah pada umat-Nya.

Tetapi ada suatu konsekuensi  dari panggilan Tuhan itu, yaitu senantiasa siap menyediakan diri kita untuk mendengarkan Tuhan, bersedia melakukan kehendak Tuhan, menjadi pelaku Firman-Nya dan siap menjadi saksi Tuhan.

Salah satu tugas kita adalah bersaksi. Membagikan pengalaman kasih Tuhan dalam hidup kita. Bersaksi tidaklah harus dengan menceritakan sesuatu yang spektakuler atau hal yang luar biasa dalam hidup kita. Bersaksi bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana, bagaimana kita mengalami kasih dan kebaikan Tuhan dalam hidup kita.

Dalam bacaan Injil hari ini, Filipus bersaksi tentang Yesus kepada Natanael. Filipus menceritakan siapa Yesus. Namun, Natanael meragukan Yesus yang berasal dari Nazaret. Filipus lalu mengajak Natanael untuk bertemu langsung dengan Yesus. Perjumpaan  Natanael dengan Yesus mengubah pendiriannya. Ia pun percaya bahwa Yesus orang Nazaret itu adalah anak Allah.

Filipus berhasil mengajak Natanael untuk berjumpa dengan Yesus. Hasilnya adalah Natanael menjadi percaya. Kita pun dapat menjadi Filipus-Filipus jaman sekarang, mengenalkan Tuhan Yesus kepada orang lain melalui cara hidup kita, cara kita bersikap, perkataan dan perbuatan hidup keseharian kita. Dengan demikian, mempertemukan Tuhan Yesus dengan sesama tidak cukup hanya dengan tindakan saja, tetapi juga melalui tutur kata dan cara hidup kita sehari-hari.

Kami sekeluarga selalu mengawali hari dan kegiatan kami dengan berdoa bersama, dan doa itu dipimpin secara bergantian, oleh suami atau saya, anak kami yang berumur 12 tahun bahkan adiknya yang masih berusia 8 tahun dan ditutup dengan berkat oleh suami sebagai kepala rumah tangga. Kami membiasakan diri untuk berkata tolong jika ingin meminta bantuan dan mengucapkan terima kasih pada asisten yang membantu di rumah kami. Demikian juga dengan kedua anak saya. Karena mereka di sekolah juga diajari hal demikian dan ada satu ajaran yang sangat baik yang diajarkan dari sekolahnya yaitu tentang kesopanan, misalnya dengan membungkukkan badan ketika menyapa dan mengucapkan terimakasih pada orang lain atau mengulurkan kedua tangan ketika memberikan atau menerima sesuatu dari orang lain.

Suatu saat kami mempunyai asisten rumah tangga yang baru. Dan saya mendapatinya sedang menangis, secara spontan saya menanyakan kepadanya mengapa dia menangis. Dia bercerita bahwa setelah dia mengulurkan payung kepada anak saya agar tidak kehujanan, setelah itu kedua anak saya membungkukkan badan dan berkata “Terimakasih, Mbak”. Kemudian dia berkata bahwa selama dia bekerja, tidak pernah didapatinya seorang anak dari mantan majikannya yang berlaku demikian, bahkan mengucapkan kata terima kasih.

Hal-hal yang baik, yang mencerminkan kasih dan kebaikan Tuhan, sikap rendah hati hendaknya kita ajarkan kepada anak-anak kita sedini mungkin.

Kami juga selalu mengajarkan kepada dua anak kami untuk memulai sesuatu dengan doa, mohon Roh Kudus turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Dan ketika mereka mendapatkan prestasi demi prestasi, kami selalu mengingatkan mereka untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dan menekankan bahwa itu bukan karena kepandaian mereka atau ketekunan dari hasil belajar mereka tetapi semua karena anugerah-Nya, karena anugerah Tuhan.

Dan hal itu benar-benar yang anak kami lakukan, ketika dia diminta untuk menyampaikan sepatah kata atas prestasi yang dia raih, dia mempersiapkan diri dengan menutup pidatonya dengan refrein dari lagu “Semua Karna Anugerah-Nya”.

Refleksi diri :

Apakah saya merasa tidak mendengar panggilan Tuhan?

Apakah saya merasa tidak layak di hadapan Tuhan dan tidak mampu melakukan panggilan Tuhan?

Sudahkah saya berani bersaksi tentang kasih dan kebaikan Tuhan yang terjadi dalam hidup keseharian saya?

Berkat dan kasih Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin. (RE)