Putera Allah

Renungan Jumat 6 Januari 2017

Bacaan: 1Yoh. 5:5-13; Mzm. 147:12-13,14-15.,19-20; Mrk. 1:7-11

Yesus adalah Putera Allah

Bacaan Kitab Suci hari ini mengantar kita pada satu pokok misteri iman kita, bahwa “Yesus adalah Putera Allah”. St. Yohanes Pembaptis sebagai perintis jalan Tuhan, memberi kesaksian bagaimana Dia yang datang sesudah dia, lebih berkuasa daripadanya. Kemudian dalam peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus, bagaimana Allah Roh Kudus memberi kesaksian dalam rupa burung merpati dan Allah Bapa memberi kesaksian, bahwa Yesus adalah Putera Allah yang dikasihi-Nya. Kemudian dalam suratnya, St. Yohanes juga menegaskan bahwa bukan hanya manusia yang memberi kesaksian, tetapi Allah sendiri yang memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Putera Allah (1 Yoh 5:9).

Bagi kita yang percaya, mengakui dan menerima bahwa Yesus adalah Putera Allah adalah suatu anugrah iman, bukan karena usaha atau jasa kita, tetapi semata-mata pemberian Allah.

Tetapi bagi yang tidak percaya, betapa sulitnya menerima itu, rasanya tidak masuk akal bagaimana Allah punya anak? Lalu siapa ibunya, siapa bidannya?

Kesaksian seorang  Bapa Gereja, St. Agustinus, uskup Karthago, ini bisa membantu kita bagaimana kita harus mendekati misteri Allah…
Suatu ketika St. Agustinus sedang merenungkan tentang Allah Tritunggal Mahakudus, dia mencoba mendekati misteri ini dengan pemikirannya… semakin dipikir semakin tidak masuk akal dan bagimana logikanya Allah Tritunggal Mahakudus… Allah itu satu, tapi tiga Pribadi…

Dalam keruwetannya, akhirnya dia memutuskan berjalan-jalan di tepi pantai… di sana dia lihat seorang anak kecil sedang bermain di pantai… anak itu sibuk menggali, kemudian mencedok air laut dan memasukkan ke galian tadi… tapi setiap dilakukan selalu galian tadi tergerus ombak kembali.

Hal ini memancing keingintahuan St. Agustinus: “Sedang apa, Nak?. Jawab anak itu: “Oh Monsignur, ini saya sedang menggali pasir di pantai ini, terus saya mau masukkan semua air laut ke dalam lubang yang saya gali ini”. Dengan tertawa St. Agustinus mengomentari: “Lho mana mungkin, kamu masukkan semua air laut di lubang yang kecil ini, lalu lubang itu begitu kamu gali segera tertutup kembali bila terkena ombak.”

Jawab anak itu: “Sama Monsignur, mana mungkin Anda memasukkan misteri Allah yang tidak terbatas itu, ke dalam otak Anda yang kecil, sama seolah-olah mau memasukkan seluruh air laut ke lubang pasir yang kecil”. Kemudian anak itu menghilang, ternyata anak itu adalah malaikat yang diutus Tuhan untuk menolong St. Agustinus.

Dari kesaksian St. Agustinus, dapat kita renungkan… demikian juga iman bahwa Yesus adalah Putera Allah, ini adalah misteri iman… bagi manusia tidak masuk akal, atau dijadikan bahan tertawaan… tetapi bagi Allah yang Mahakuasa tidak ada yang mustahil. SESUNGGUHNYA BUKAN TIDAK MASUK AKAL, TETAPI MELAMPAUI AKAL MANUSIA.

Allah yang Mahakuasa, artinya Dia sanggup melakukan apa saja yang Dia kehendaki… termasuk rencana keselamatan-Nya… dalam kasih-Nya Dia memberikan Putera-Nya kepada dunia, supaya barangsiapa percaya kepada-Nya menerima hidup yang kekal.

“Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah? Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.” (1 Yoh 5:5, 11-12)

ET