Perubahan

Renungan Sabtu 21 Januari 2017

Bacaan: Ibr. 9:2-3,11-14; Mzm. 47:2-3,6-7,8-9; Mrk. 3:20-21

Bacaan Injil hari ini sangat pendek, tetapi pesannya jelas. Yesus adalah pembaharu yang diutus Bapa untuk menyelamatkan umat manusia. Kedatangan Yesus di suatu rumah disambut kerumunan orang. Mereka datang mungkin tertarik ingin mendengar ajaran-Nya, ingin disembuhkan, atau mungkin juga sekedar hanya ingin tahu siapa Yesus, guru yang karya dan Sabda-Nya terkenal kontroversial. Mengapa mereka bahkan kaum keluarganya sendiri menilai Yesus sebagai orang yang tidak waras sehingga mereka akan mengambil Dia dari kerumunan orang?

Banyak hal yang dilakukan Yesus memang tidak sejalan dengan hukum dan adat-istiadat pada waktu itu, Dia tidak menikah dan tidak pulang-pulang. Dalam ajaran-Nya banyak hal baru yang berbeda dengan hukum Taurat. Ajaran-Nya terasa asing bagi masyarakat Yahudi. Hukum Sabat pun sering dilanggar, misalnya Yesus tidak melarang para murid memetik gandum pada hari Sabat dan Dia sendiri menyembuhkan orang sakit juga pada hari Sabat. Maka reaksi mereka menolak-Nya bahkan Yesus dituduh sebagai orang yang tidak waras. Tak terkecuali keluarga-Nya pun tampaknya juga membutuhkan waktu untuk menerima perubahan yang dibawa Yesus. Sungguh ironis, seorang Penyelamat yang tidak waras.

Kita tahu bahwa tuduhan kepada Yesus itu tidak ada dasar yang kuat. Sebenarnya tuduhan itu karena para ahli Taurat dan kaum Farisi mempunyai rasa iri dan takut tersaingi oleh kemunculan Yesus. Dengan Sabda dan karya-karya-Nya yang ajaib seharusnya mereka menyadari bahwa Yesus adalah Penyelamat yang diutus Allah Bapa. Tetapi mata hati mereka dibutakan oleh kekuasaan dan kemapanan yang mereka nikmati. 

Tidak mudah memang untuk tampil beda dan mengubah kebiasaan lama yang buruk. Hal ini terjadi juga di dalam masyarakat kita sekarang ini. Orang yang berperilaku lain dari kebanyakan orang, biasanya dicurigai dianggap aneh, tidak sopan, kasar, apalagi bila orang yang dianggap aneh tersebut mempunyai kelebihan. Dan akhirnya tidak disukai serta dibenci meskipun  pembaharuannya nyata-nyata menghasilkan kebaikan dan kesejahteraan bersama. Hal ini dapat terjadi di mana saja, dalam keluarga, masyarakat, bahkan dalam komunitas religius.    

Kalau kita mau konsekuen dengan ajaran Yesus, kita akan menemukan banyak hal yang bertentangan dengan gaya hidup dan kebiasaan di sekitar kita. Ajaran Yesus kadang menentang kebiasaan atau tingkah laku yang selama ini sudah berjalan. Sementara itu banyak orang yang menjadikan kebiasaan umum sebagai kebenaran dan norma yang mutlak. Di gereja pun, habitus lama ini sukar sekali dibongkar, terutama bila pemimpinnya tidak memiliki jiwa pembaharuan dan senang berkuasa.  

Lalu  bagaimana dengan kita?

Peristiwa Injil hari ini membawa hikmat bagi kita sebagai murid Yesus. Risiko menjadi murid Yesus adalah diperlakukan seperti Yesus. Kita yang mendapat tugas mewartakan ajaran-Nya sering juga mendapat penolakan dari masyarakat. Tetapi meskipun menyakitkan, seharusnya kita patut merasa bangga karena dapat mengambil bagian dari apa yang pernah dialami Yesus sendiri. Inilah kekuatan iman kita.

LKME