Pentingnya Evangelisasi Pribadi

Renungan Sabtu 14 Januari 2017

Bacaan: Ibr. 4:12-16; Mzm. 19:8-9,10,15; Mrk. 2:13-17

Mrk 2:13-17 “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar melainkan orang berdosa.”

Ada tiga alasan yang saya (mungkin pembaca juga) temui dan alami di dalam ber-evangelisasi dan betapa pentingnya Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) atau Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP) bagi saya (bagi kita semua):

  1. Saya sering mendapati orang menolak dan mencari-cari alasan ketika saya ajak untuk mulai mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh atau mulai diajak melayani atau diajak aktif pada kegiatan gereja. Mereka cenderung menolak dan berusaha membenarkan diri sendiri. Salah satu contoh, ada yang mengatakan: “Saya belum siap! Saya masih banyak dosanya. Saya takut jadi orang munafik.” Jawaban ini kelihatan “bijaksana”, tetapi sungguh adalah mau membenarkan dirinya sendiri. Dia tidak mengerti Firman Tuhan di atas bahwa “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar melainkan orang berdosa”. Ketika dia menolak untuk datang kepada Tuhan maka berarti dia sudah menganggap dirinya sendiri benar. (Yang tidak datang kepada Tuhan sudah menganggap dirinya benar dan tidak membutuhkan pertobatan). Mungkin ini yang paling sering saya jumpai. Dan sebelum bertobat saya rasa saya juga dulu seperti ini. Dalam kasus ini saya hanya bisa berdoa dan terus mengajak mereka untuk mau mulai membangun relasi dengan Tuhan dan memperkenalkan firman-Nya. Di dalam KEP saya diajak untuk membangun relasi dengan Tuhan dalam doa dan Firman.
  2. Manusia cenderung menilai orang terlebih dahulu dan dibandingkan dengan dirinya sendiri. Kadang orang menolak untuk masuk karena melihat contoh yang kurang baik dari orang-orang yang sudah melayani dan mungkin sudah belajar tentang agama lebih banyak. Ikut kursus ini, ikut seminar itu dll. tetapi di dalam kenyataannya menjadi batu sandungan bagi orang lain karena tingkah lakunya tidak berbeda dengan orang yang tidak aktif dalam kerohanian. Sehingga membuat orang yang melihat contoh yang buruk menutup diri dan tidak mau ikut dalam kegiatan kerohanian. Di sini saya diingatkan harus menjaga sikap diri dan hati untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Introspeksi diri (evangelisasi pribadi) adalah sangat penting untuk selalu kita lakukan sebagai pelayan-pelayan Tuhan.
  3. Orang yang merasa sangat berdosa dan menganggap bahwa dia sudah tidak mungkin diampuni lagi sehingga menjauhkan diri dari Gereja dan Tuhan. Atau orang-orang yang merasa sangat kecewa dengan Tuhan. Mereka yang mengalami ini sungguh dibutakan karena rasa bersalah dan kecewa yang mendalam. Kita harus berdoa bagi mereka dan berusaha membagikan pengalaman Kerahiman Allah yang kita alami kepada mereka. Karena Allah tidak pernah menolak setiap orang yang datang pada-Nya. Sharing akan kasih Allah yang kita alami sangat membantu untuk membuka hati mereka. Ibr 4:16 Sebab itu marilah kita menghampiri takhta kerahiman Allah dengan penuh keberanian, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan pada waktunya.

Semua ini saya dan saya rasa kita semua dapatkan dari Ikut SEP dan KEP. Puji Tuhan.

Karena itu: Jangan lupa cari “Domba”!

Doa: Bapa di surga, utuslah lebih banyak lagi anak-anak-Mu untuk masuk ke dalam relasi yang lebih dalam dengan Engkau Allah Tritunggal Maha Kudus melalui SEP dan KEP. Agar semakin banyak hati anak-anak-Mu yang berbalik kembali kepada-Mu dengan sungguh dan dengan kesetiaan. Agar kasih karunia keselamatan yang telah Engkau berikan melalui Yesus Putra-Mu, tidak hilang daripada anak-anak-Mu. Amin.

VSH