Menjadi Saksi Tuhan

Renungan Kamis 12 Januari 2017

Bacaan: Ibr. 3:7-14; Mzm. 95:6-7,8-9,10-11; Mrk. 1:40-45

Kusta adalah penyakit yang sangat berbahaya pada saat itu, sehingga setiap penderita kusta tinggal terasing dan dikucilkan oleh masyarakat. Orang yang penyakit kusta dianggap najis dan sangat memalukan, tidak boleh ada di tengah masyarakat. Orang kusta dalam kisah ini punya masalah dengan keberadaannya, sampai akhirnya dia berjumpa dengan Yesus yang memulihkan hidupnya.

Ada tiga hal yang dilakukan orang kusta ini untuk menyelesaikan masalahnya :

  1. Datang dan memohon pertolongan pada Yesus. Penderita kusta yang datang kepada Yesus itu memang lain dari biasa. Jika yang lain sudah putus asa, menyerah pada keadaan, yang satu ini tidak mau pasrah pada nasib. Ia tidak mau dimatikan oleh situasi masyarakatnya. Ia ingin hidup, tidak hanya lahir, tetapi juga batin. Ia tahu Yesus mampu menolongnya. Berbekal pengetahuan itu, ia berkata, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku.” Karena itulah, Yesus, yang melihat hasrat terdalam manusia, berkata, ”Aku mau, jadilah engkau tahir.”
  1. Sabda Yesus yang penuh kuasa itu telah terjadi dan menyembuhkan si kusta. Yang menarik dari ayat-ayat ini antara lain jika kita memohon kepada Tuhan, maka Tuhan akan mengabulkannya. “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”. Tergerak hati Yesus oleh belas kasihan, Ia mengulurkan tangan-Nya dan menjamahnya: ”Aku mau, jadilah engkau tahir”. Jadi dari ungkapan ini, terjadi komunikasi dua arah, si kusta memohon kepada Tuhan, dan Tuhan mengabulkan permohonan, hasilnya adalah si kusta menjadi tahir/bersih.
  1. Belas kasihan Tuhan harus ditanggapi dengan ketaatan (ay 44). Sebab ketidaktaatan akan menghambat kesaksian atau pemberitaan kabar baik, bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah yang hidup (ay 45). Apalah arti pelayanan kita jika hanya menyentuh kepuasan/kepentingan diri sendiri, tidak pernah menyentuh mereka yang terhilang dan terbuang? Bukankah banyak kali kita gagal dalam hal ini, karena kita tidak memiliki hati yang berbelas kasihan kepada yang terbuang, sehingga kita tidak berani “menyentuh” tetapi justru menghindar dan bahkan mengusir mereka jauh dari kehidupan kita! Ingatlah bahwa sebenarnya kitalah “si kusta!”, yang telah terbuang karena dosa. Tetapi Tuhanlah datang mencari kita. Dia menyentuh dan memulihkan hidup kita yang terbuang dan terhilang untuk ditahirkan-Nya, sehingga kita dilayakkan menjadi anak-anak-Nya, diterima menjadi anggota keluarga-Nya.

Ada satu hal yang menarik dalam perikop ini ialah Tuhan Yesus sudah memperingatkan dengan keras agar penderita kusta yang telah sembuh itu tidak menceritakan pengalaman kesembuhannya kepada siapa pun, mengapa? Karena Tuhan Yesus tidak ingin orang-orang datang kepada-Nya hanya karena ‘mujizat’ yang telah dibuat-Nya dan berharap mujizat juga terjadi dalam hidup mereka. Ia tidak ingin orang-orang datang kepada-Nya hanya didasari oleh kebutuhan sementara. Ia ingin agar kita datang kepada-Nya berdasarkan kebutuhan kekal, yaitu keselamatan kekal.

Namun apa yang terjadi? Bukannya pergi menghadap iman, penderita kusta yang telah sembuh itu justru pergi menceritakan pengalamannya itu kepada orang-orang. Ia tidak mengindahkan peringatan keras Tuhan Yesus kepadanya. Tapi pertanyaannya, bukankah dia bersaksi atas mujizat yang dialaminya? Bukankah Tuhan  juga meminta kita agar kita mau bersaksi tentang-Nya? Oleh karena kegembiraan yang belebihan, kadang kita lupa pesan atau peringatan dari Tuhan. Pelajaran bagi kita dari sini adalah: Jika kita bersaksi tentang Injil, janganlah kesaksian itu membuat orang datang pada Tuhan  berdasarkan kebutuhan sementara saja. Hendaknya kesaksian kita mendorong orang-orang datang kepada Tuhan berdasarkan kebutuhan kekal.

Sebab itu marilah kita membuka hati kita sehingga belas kasihan Tuhan juga memenuhi hati kita, supaya kita dapat juga bertekun dan berjuang dalam perbuatan kasih untuk kita senantiasa menjadi saksi-Nya yang hidup.

SWW