Mengutamakan Yesus

Renungan Selasa 17 Januari 2017

Bacaan: Ibr. 6:10-20; Mzm. 111:1-2,4-5,9,10c; Mrk. 2:23-28

Berdasarkan pemahaman orang Farisi dari tafsir terhadap kebiasaan bangsa Yahudi, pemuka-pemuka agama orang-orang Farisi menetapkan beberapa tindakan yang tergolong dilarang dilakukan pada hari Sabat, termasuk salah satunya adalah kegiatan menuai (hasil pertanian). Maka ketika murid-murid Yesus memetik beberapa bulir gandum, secara teknis oleh orang-orang Farisi kegiatan itu sudah dianggap menuai yang melanggar hukum Sabat, karenanya murid-murid Yesus ditegur oleh orang-orang Farisi. Padahal murid-murid Yesus memetik beberapa bulir gandum karena mereka lapar dan bukan menuai dalam pengertian mau memanen gandum dan lebih lanjut hendak menjual hasil panen guna mendapat keuntungan. Namun ternyata orang-orang Farisi tidak dapat/ tidak mampu bahkan tidak mau melihat lebih jauh terhadap pengertian/pemaknaan dari kegiatan memetik dengan menuai dalam pengertian memanen. Hal ini menujukkan kepada kita bahwa pada saat itu para pemuka agama dan orang-orang Farisi gagal memahami segi teknis pelaksanaan hukum sabat tersebut, yang akibatnya merugikan pihak lain.

Mereka orang-orang Farisi sudah sangat terpaut dan dengan ketat mematuhi hukum dan tradisi Yahudi, terlebih lagi dalam hati mereka sudah tertanam kebencian kepada Yesus. Akibatnya mereka tidak bisa mempertimbangkan secara bijaksana apa yang baik dan benar. Di dalam sepuluh perintah-Nya, antara lain Allah melarang umat bekerja pada hari Sabat (Kel. 20:10), dimaksudkan hari sabat adalah hari istirahat dan secara lebih khusus merupakan hari untuk menyembah Tuhan, makanya beberapa imam di-izinkan untuk bekerja atau melakukan kegiatan mempersembahkan korban dan memimpin ibadah.

Pada kesempatan itu Yesus menekankan dan mengajarkan maksud dan arti di balik kata-kata hukum sabat, bahwa hukum memang perlu untuk mengatur hidup bermasyarakat, namun Allah jauh lebih penting dari hukum Sabat. Sebagaimana Sabda-Nya “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat” (Mrk 2: 27b-28).

Jika kita lebih memperhatikan/mengutamakan sarana penyembahan dari pada Yesus yang kita sembah, maka kita akan gagal untuk menjumpai Tuhan, bahkan ketika kita sedang menyembah Dia, karena tidak ada orang yang lebih tinggi daripada Yesus” (Ibr 6: 13b).

Marilah kita hidup semakin lebih bijaksana untuk senantiasa mengutamakan dan menyembah Yesus, daripada memperhatikan sarana penyembahan. Tuhan memberkati. Amin.

JHS