Mengenal Allah

Renungan Selasa 3 Januari 2017

Bacaan: 1Yoh. 2:29 – 3:6; Mzm. 98:1,3cd-4,5-6; Yoh. 1:29-34

Yoh 1:29 “ Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”

Kalimat di atas tentunya tidak asing lagi bagi kita sebagai umat Katolik. Dalam perayaan Ekaristi, sebelum komuni, Imam selalu mengucapkan kata-kata itu sambil menunjukkan Tubuh dan Darah Kristus. Imam dalam kesempatan itu bertindak sebagai Yohanes pembaptis yang mengarahkan umat dan mempersiapkan mereka untuk menyambut Sang Juru Selamat, Anak Domba Allah yang telah datang ke dunia untuk keselamatan umat manusia.

Anak Domba Allah itu tidak lain adalah Anak Allah sendiri. Setiap kali kita menyambut komuni, kita menyambut Allah sendiri dengan mengungkapkan ketidakpantasan kita untuk mennyambut Dia, karena kita adalah orang berdosa yang perlu bertobat.

Betapa bahagianya kalau kita bisa menyambut-NYA yang berarti kedekatan kita dengan Anak Domba Allah itu sendiri. Kalau kita punya relasi kedekatan dengan Tuhan, maka kita akan punya keberanian untuk bersaksi seperti apa yang dikatakan Yohanes Pembaptis ketika dia melihat Roh kudus turun dari langit seperti merpati dan Ia tinggal di atas-Nya dan mendengarkan suara Allah saat dia membaptis Yesus.

Yohanes mengenal Yesus karena dia berelasi dengan Allah. Apakah kita benar-benar mengenal Allah dengan sungguh-sungguh?

Saya masih ingat ketika saya duduk di bangku SMP, SMA dan lanjut ke Universitas, walaupun saya seorang yang sudah dibaptis, tetapi saya tidak merasa bahwa saya ini anak Allah sampai saya menikah dan mempunyai dua orang anak. Hidup saya penuh dengan ketakutan terutama ketakutan akan masa depan. Lebih lagi ketika masuk dalam hidup pernikahan.

Tapi benar apa yang disaksikan Yohanes, Yesus yang adalah benar-benar anak Allah, yang telah mencurahkan Roh-Nya ke atas kita pada saat baptisan, membuat saya datang berdoa kepada-Nya dan berelasi dengan Allah Bapa. Di sini saya merasakan kasih-Nya dan kuasa-Nya yang luar biasa.

Sejak itulah saya mengubah arah hidup ke arah Kristus Yesus yang adalah kebenaran untuk tetap hidup dalam Kristus dan kebenaran-Nya.

  1. Maka kita harus mendekatkan diri kepada-Nya dan mendengarkan tuntunan Sabda-Nya.
  2. Kita harus membangun relasi yang kokoh dengan Dia. Ekaristi adalah cara yang paling sempurna untuk hidup bersatu dengan Dia, Sang Anak Domba Allah yang memberikan Tubuh dan Darah-Nya.

“Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, Ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam Dia.”

Semoga Yesus sendiri, Sang Anak Domba Allah yang sering kita sambut membawa kita lebih dekat kepada-Nya dan berani bersaksi tentang Dia sehingga banyak orang bisa mengenal dan memperoleh keselamatan kekal. (JH)