Diutus dan Diberi Kuasa

Renungan Jumat 20 Januari 2017

Bacaan: Ibr. 8: 6-13; Mzm. 85:8,10-11,13-14; Mrk. 3:13-19

“Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil“ (Mrk 3:14)

Ketika Yesus memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya, dan mereka pun datang kepada-Nya, Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia, untuk diutus-Nya memberitakan Injil, dan untuk menerima kuasa dari Dia untuk mengusir setan.

Murid-murid tidak pertama-tama memilih Yesus sebagai guru mereka, sebaliknya Yesus sendiri memilih para murid-Nya. Panggilan ini adalah anugerah Allah. Bukan karena kehebatan kita, maka kita boleh menjadi pengikut Kristus, juga bukan karena keistimewaan kita maka kita dipercaya untuk menjadi pengurus DPP, BGKP, ketua wilayah atau ketua lingkungan ataupun menjadi pengajar.

Banyak rintangan dan derita yang harus kita hadapi dan alami sebagai pengikut Yesus, tapi  panggilan-Nya ini kita rasakan sebagai suatu daya yang tidak bisa kita tolak dan hanya mesti menuruti pilihan-Nya.       

Menjadi Katolik berarti menjadi murid atau pengikut Yesus dan menjadi anggota Gereja-Nya. Sebagai seorang Katolik saya merasa memiliki tugas panggilan menjadi sarana saluran rahmat-Nya bagi sesama, dan Tuhan beri saya kesempatan indah untuk merasakan kasih, kuasa dan pertolongan-Nya yang tepat pada waktu-Nya.

Tujuh tahun yang lalu seorang saudara seiman menitipkan seorang nenek. Nenek tersebut sebelumnya tinggal bersama keluarga temannya yang masih bertetangga dengan saudara seiman saya tersebut. Tapi karena kesalahfahaman dengan keluarga yang ditumpanginya, nenek tersebut diusir sehingga tidur di teras rumah.

Teman seiman saya yang melihat tersebut merasa kasihan namun tidak mungkin ia mengajak tinggal di rumahnya, maka nenek tersebut dititipkan saya. Saat saya melihat keadaan nenek tersebut saya sungguh merasa kasihan, tetapi saya juga sempat berpikir bagaimana kalau setelah dititipkan saya nenek tersebut sakit. Biaya perawatan sekarang tidak murah dan keadaan ekonomi saya tidak memungkinkan jika harus mengeluarkan biaya perawatan yang besar.

Awalnya saya menolak permintaan teman saya tersebut namun teman saya mengatakan bahwa Yesus yang telah memberi kita kuasa untuk melepaskan orang dari segala bentuk atau hal-hal yang membelenggu orang pasti akan memampukan dan menolong murid-Nya untuk menjalankan perutusan-Nya.

Singkat cerita akhirnya saya menerima nenek tersebut dalam rumah saya dan saya bersyukur boleh merasakan kuasa dan pertolongan Tuhan yang nyata dalam hidup saya, Tuhan memberikan apa yang tak pernah saya pikirkan, atau timbul dalam hati, apa yang tak pernah saya dengar, apa yang tak pernah saya lihat, itu yang diberikan Tuhan pada saya.

Lima tahun nenek tersebut ikut saya, dia hampir-hampir tidak pernah sakit serius, bahkan dia masih bisa terima pesanan kue kering saat menjelang hari raya Idul Fitri. Dan ketika mulai ada BPJS, nenek tersebut saya ikutkan, agar jika ia sakit saya bisa membawanya berobat. Namun ternyata masalahnya tidak sesederhana itu. Pada bulan September 2016, nenek tersebut jatuh dari tempat tidur dan tidak mampu bangun lagi, serta tidak dapat untuk melakukan aktivitas pribadi seperti biasanya.

Sampai dua hari kondisinya makin memburuk sehingga harus rawat inap di rumah sakit dan pihak rumah sakit tidak mau jika tidak ada orang yang menjaganya. Saya mulai mengalami kesulitan untuk mencari orang yang bisa menjaga dan merawat nenek tersebut. Tetapi Tuhan tidak membiarkan saya dalam kesulitan tersebut. Tuhan yang Maha Baik akhirnya memberikan apa yang saya butuhkan.

Namun kembali saya mengalami kesulitan karena untuk yang menjaga juga memerlukan biaya yang tidak sedikit bagi saya. Lewat kesulitan ini kembali saya merasakan kuasa Tuhan, Dia mengutus bendahara-Nya untuk memberikan biaya yang diperlukan orang yang menjaga nenek tersebut.

Tetapi kekuatiran dan kecemasan tetap saya rasakan, saya berpikir bagaimana kalau sakit nenek tersebut berkepanjangan dan dana yang ada pada saya tidak cukup. Saya terus berdoa memohon agar Tuhan Yesus segera menyembuhkan nenek tersebut.

Jawaban yang Tuhan Yesus berikan tidak seperti yang saya minta, tapi saya percaya itulah yang terbaik bagi saya menurut Tuhan Yesus. Tanggal 13 September saya menengok nenek tersebut di rumah sakit sampai jam 11.30, bahkan si nenek masih bisa diajak bercanda. Namun setelah dua jam saya di rumah saya ditelpon bahwa kondisi nenek tersebut kritis. Ketika saya sampai di rumah sakit, nenek tersebut sudah meninggal dengan wajah tersenyum.

Di satu sisi saya sedih, namun di sisi yang lain saya melihat nenek tersebut terlepas dari penderitaan dan beban hidupnya dan Tuhan pun melepaskan saya dari kekuatiran untuk mencari biaya orang yang merawat nenek tersebut.

Melalui peristiwa ini saya semakin diyakinkan bahwa Dia selalu menyertai, memberi kuasa dan bahwa pencobaan yang saya alami dalam hidup saya tidak melebihi kekuatan saya. Ada satu sukacita lain yaitu saya telah melakukan apa yang Tuhan Yesus pesankan dalam Amanat Agung-Nya untuk pergi dan mewartakan Injil-Nya, karena nenek tersebut pada Paskah 2016 telah menerima baptisan.

MLEN