Angin Ribut Diredakan

Renungan Sabtu 28 Januari 2017

Bacaan: Ibr. 11: 1-2,8-19 ; Mzm. MT Luk. 1:69-70,71-72,73-75; Mrk. 4:35-41

“Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?” (Mrk 4:38). Teriakan para murid karena ketakutan dan frustrasi adalah teriakan kita juga kepadaTuhanYesus manakala situasi dalam kehidupan kita menggoncang iman kita. Namun berbagai krisis sebenarnya memberikan kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dalam rasa percaya kita kepada Tuhan Yesus selagi kita menyaksikan Dia bekerja dalam kehidupan kita. Ingatlah Yesus adalah Imanuel, Allah yang senantiasa menyertai kita.

Pengalaman para murid di tengah danau menunjukkan kepada kita bahwa Yesus adalah Tuhan (Kyrios) dan Juru Selamat kita. Dia ada bersama kita setiap saat, bahkan ketika angin topan dan ombak kehidupan sedang mengamuk dengan dahsyat dan sangat mengancam keberadaan kita. Melalui sakit kita, kelemahan kita, kekuatiran dan keputus-asaan kita, Yesus ingin mengajar kita untuk mengandalkan diri kepada-Nya secara lebih total.

Sebenarnya mereka tidak perlu datang kepada Yesus dengan cara demikian. Kalau masih beriman kepada Yesus, mereka bisa minta tolong kepada Yesus untuk terlibat dalam peristiwa yang dahsyat dan menakutkan itu yang membuat perahu mereka hampir tenggelam penuh air.

Bukannya dalam keadaan putus asa mereka menegur Yesus yang intinya “kita binasa“ atau orang sering mengatakan “mati aku“, tetapi Yesus langsung menolong mereka tanpa banyak bicara. Baru setelah itu Yesus berkata, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

Bacaan hari ini membawa kita pada sebuah kekaguman akan misteri iman yang kita geluti sebagai murid-murid Tuhan. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Secara luar biasa penulis surat Ibrani ini mengambil contoh Bapak kaum beriman yaitu Abraham.

Abraham hidup dalam iman akan janji Allah yang diberikan kepadanya. Abraham melakukan perintah-perintah Allah tanpa cela. Janji Allah kepada Abraham tidak jelas sama sekali untuk dicerna dan diterima Abraham. Bagaimana tidak, janji turunan diberikan kepada Abraham ketika ia dan istrinya yang sudah berumur, janji akan sebuah tanah yang berlimpah susu dan madu, sama sekali belum pernah dilihat Abraham.

Tantangan bagi Abraham datang ketika Allah menguji Abraham untuk mempersembahkan Ishak, darah dagingnya sendiri. Di sini kita bisa melihat bahwa janji setia Allah kepada Abraham dialami secara nyata. Hal ini menjadi kekuatan bagi diri Abraham untuk memandang masa depan dan untuk semakin percaya kepada Allah.

Apabila Anda merasakan kesepian, putus asa, maka berserulah kepada Allah. Dia akan menghibur dan menolong Anda mengatasi kesulitan-kesulitan. Mohonlah kepada Roh Kudus untuk menghibur dan menyemangati setiap hari. Dia akan mengangkat diri Anda dengan cara-cara yang tidak pernah Anda harapkan. Fokuskan perhatian Anda kepada Tuhan selagi Anda bermasalah dan membutuhkan-Nya. Dia adalah Tuhan yang berkuasa atas segenap ciptaan dan satu-satunya Allah bagi hidup Anda. Selagi Anda menaruh rasa percaya kepada Yesus, maka kita pun akan dihibur menyaksikan bahwa Dia tidak pernah memungkiri janji-Nya kepada siapa pun dan Ia tidak pernah meninggalkan seorang pun.   

Doa: “Ya TuhanYesus, Engkaulah andalanku. Aku menaruh segala sesuatu ke dalam tangan kasih-Mu. Berdirilah di sampingku, ya Yesus, selagi aku menghadapi kesulitan-kesulitan dan mengalami kepedihan. Aku sepenuhnya menaruh pengharapanku dalam diri-Mu, yaTuhan Yesus. Amin.”

JH