Yes Lord

Renungan Selasa 20 Desember 2016

Bacaan: Yes. 7:10-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 1:26-38

Banyak orang lebih mempercayai kata-kata dukun, paranormal daripada mempercayai suara Tuhan yang bergema di lubuk hati. Bahkan mau menuruti apa saja yang dikatakan dukun maupun suhu. Lain dengan Perawan Maria. Bunda Maria terkejut oleh salam malaikat. Bunda Maria merasa, siapakah dirinya sehingga Allah berkenan kepadanya dan diberkati di antara segala wanita? Meskipun segala perasaan hatinya mengaduk dan diwarnai kegalauan, namun dia percaya penuh pada perkataan malaikat. Dia yakin bahwa janji Allah akan terpenuhi dan dalam kepasrahan iman Maria menjawab, ”Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Kesediaan Bunda Maria membuka jalan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia.

Dia pun sekarang rindu untuk memakai kita di dalam karya-Nya. Kita bisa dipakai dalam berbagai hal sesuai dengan talenta kita. Kadang kita juga merasa seperti Bunda Maria, siapakah diri kita sehingga Allah memilih kita untuk melakukan suatu tugas tertentu. Tetapi yang perlu kita ingat hal tersebut bukan karena sesuatu yang telah kita perbuat, melainkan karena Allah memilih kita supaya makin banyak orang yang mengalami keselamatan Tuhan. Masalahnya adalah apakah kita setuju untuk dipakai Tuhan. Seringkali kita tidak bersikap seperti Bunda Maria yang tunduk terhadap rencana Tuhan. Kita seringkali lebih direpotkan oleh hal-hal duniawi. Keteladanan Bunda Maria yang dengan tulus hati menerima dan melaksanakan tugas panggilan dari Allah itu mengajak kita semua sebagai umat beriman untuk menyadari, menerima dan melaksanakan tugas perutusan kita masing-masing. Tidak selalu mudah memang. Namun kesederhanaan dan kemurnian hati senantiasa menarik Tuhan, karena dari situlah muncul kebenaran sejati di mana Tuhan senang dan merasa nyaman untuk bertahta dan meraja.

Dengan menyadari anugerah-Nya yang pasti menguatkan dan memampukan kita, biarlah ketetapan dan rencana-Nya dinyatakan atas diri kita, mendatangkan kegirangan bagi hati-Nya dan kesejahteraan bagi diri kita dan sesama. Berkaitan dengan hal tersebut, apa yang selalu kita katakan ketika Tuhan menghendaki kita dalam pelayanan? “Yes, Lord” atau “Not this time, Lord”. (LF)