Sukacita Memberitakan Firman Hidup

Renungan Harian Selasa 27 Desember 2016

Bacaan: 1Yoh. 1:1-4; Mzm. 97:1-2,5-6,11-12; Yoh. 20:2-8

Pengalaman sukacita memperoleh kehidupan kekal akan menjadikan kita peduli terhadap keselamatan jiwa orang lain. Risiko terjadi ketika kita bercerita atau pun sharing tentang pengalaman pribadi kita dapat membawa dampak berbeda-beda, kadang baik dan menyenangkan; kadang juga membuat hubungan makin buruk atau seseorang marah atau tidak senang; kadang dapat membuat pandangan orang berubah pada kita; dan kadang tidak terlihat terjadi dampak apa apa bagi orang yang mendengarkan. Hal tersebut membuat kita ragu atau tidak berani bercerita ataupun sharing tentang pengalaman pribadi kita, terlebih peristiwa yang memalukan kita, keluarga dan kelompok kita.

Tetapi di balik berbagai peristiwa hidup itu, sebagai orang yang beriman yang hidup dalam Roh, dapat kita rasakan dan ketahui dalam diri kita telah terjadi suatu di dalam “Perjalanan pengalaman pahit atau manis, perlu adanya pengampunan dan permohonan ampun atau pertobatan kita”. Yang kita pelajari dalam proses sepanjang kehidupan ketika bersama Kristus Guru yang hidup. Kemudian kita dapat merasa “kita memiliki suatu keindahan dan suka cita tersendiri, meskipun terjadinya segala masalah dalam perjuangan kehidupan kita ini”.

Ketika kita menyadari memiliki suka cita Injil, apa ada keberanian kita ceritakan, tuliskan atau sharing-kan segala pengalaman pahit atau manis kehidupan yang kita alami telah menjadi sukacita kita, mau kita bagikan pada orang lain untuk memperoleh kehidupan kekal bagi mereka.

Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium (Kegembiraan Injil) menyampaikan kegembiraan dalam perjumpaan dengan Kristus. Keinginannya untuk merangkul dan berbagi imannya dengan semua orang. Paus menyerukan kepada semua orang Kristen untuk melakukan “revolusi dengan cara yang lembut” dengan membuka hati mereka setiap hari terhadap kasih Allah dan pengampunan. “Berbagi tanggung jawab pastoral dengan imam, membantu untuk membimbing orang-orang, keluarga dan kelompok, serta menawarkan kontribusi baru untuk refleksi teologis.”

Dari pengalaman kehidupan kita begitu banyak juga telah kita alami, lihat, dengar, sebenarnya dapat kita ceritakan kepada pada orang lain, supaya orang lain juga beroleh persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus

Kita dapat belajar sharing dari pengalaman dari Yohanes dalam suratnya, ia berani menulis dan bersaksi dengan iman melalui pengalaman hidupnya bersama Firman hidup, meskipun masih banyak merupakan misteri bagi kita, yakni: 1 Yoh 1:1 ”telah ada sejak semula, telah kami dengar, telah kami lihat, telah kami saksikan, dan telah kami raba dengan tangan. Semuanya ini berbicara tentang Firman hidup itulah yang kami tuliskan kepada kamu”, yang sungguh nyata dan benar-benar memberikan kehidupan.

Kita sebagai orang Kristen Katolik pasti banyak memiliki berbagai pengalaman hidup yang merupakan misteri bagi kita bersama Yesus Firman hidup, yang kita imani memberikan kehidupan dalam perjalanan di dunia ini dan kita mendapatkan hidup kekal.

Seperti Santo Yohanes, pengalaman indah yang kita alami bukan untuk diri kita semata, tetapi pengalaman indah ini mendorong kita untuk memberitakannya kepada orang lain. Apalagi yang lebih berharga sehingga nilai sharing iman dapat ditukar dengan hidup kekal? Agar orang lain pun mengalami pengalaman yang sama, bersekutu dengan Allah Bapa, Yesus Kristus, saudara seiman, dan memiliki kehidupan kekal. Bukan sekadar hidup secara fisik karena masih bernafas, tetapi pengertian hidup kekal di dalam persekutuan dengan Allah di dalam Yesus Kristus, kini dan selamanya. Pengalaman memperoleh anugerah kehidupan kekal membawa sukacita bagi setiap orang yang mengalaminya. Namun kita lebih bersukacita bila melihat saudara, teman, tetangga, dan siapa pun menerima kehidupan kekal karena pemberitaan Firman hidup. Supaya mereka memiliki persekutuan dengan Allah dan Yesus Kristus.

Bukan hanya pengalaman sukacita Injil, kita memperoleh anugerah kehidupan kekal dan membawa sukacita bagi kita yang mengalami perjumpaan dengan Yesus, dan menyambut tawaran keselamatan-Nya, kita dibebaskan dari dosa, sengsara kekosongan batin dan kesepian. Namun kita lebih bersukacita bila melihat saudara, teman, tetangga, dan siapa pun menerima kehidupan kekal karena pemberitaan Firman hidup.

Kita tidak bisa membendung sukacita yang berasal dari pengenalan akan Dia, yang mana mengalir begitu saja menyaksikannya sharing pada orang lain, dan menguatkan orang percaya lainnya. Bahkan, ketika kita memberikan kesaksian tentang siapa Allah itu dan bagaimana Dia bekerja dalam hidup kita, tidak ada bedanya bagaimana cara kita berbicara dengan pelan atau pun berapi-api; dalam roh orang-orang Kristen yang mendengarkan, akan menangkap adanya sukacita sejati yang mendalam dalam hati kita yang melampaui kebahagiaan alami. Dan orang-orang yang belum mengenal Tuhan akan menemukan diri mereka mendambakan sukacita dari Tuhan yang ada dalam diri kita. Dengan cara itu, mereka akan ditarik pada Tuhan oleh Roh-Nya.

Seperti dalam Yoh 20:2-8, penulis kitab Yohanes menyaksikan bagaimana Maria Magdalena berlari dan menceritakan kepada Petrus dan murid yang lain apa yang dilihat dan dialami. Mereka pun berlari-lari itu ke kubur ingin menyaksikan, melihat dan mengalami sendiri kebangkitan Yesus. Dan bagaimana raja Daud, suka bersaksi, bercerita, bernyanyi seperti dalam Mazmur 97:1-2,5,6,11-12 Raja Daud mengakui Tuhan adalah Raja. Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya. Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. Bersukacitalah karena TUHAN.

“Saya penuh dengan sukacita karena pengalaman mengenal Yesus, dan saya ingin mengajak Anda untuk berani berbagi sukacita Injil itu!”

Windy