Ikut Terlibat

Renungan Selasa 6 Desember 2016

Bacaan: Yes. 40:1-11; Mzm. 96:1-2,3,10ac,11-12,13; Mat. 18:12-14

Ikut Terlibat

“Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati”
( Yes 40: 11)

Semenjak kecil, saya terbiasa diajak berdiskusi bersama kedua orang tua saya ketika ada masalah dalam keluarga. Tentunya masalah yang berhubungan dengan anak-anak. Namun ketika saya sudah di SMU, sesekali orang tua saya mengajak berdiskusi tentang masalah orang dewasa, yaitu realitas kehidupan yang orangtua saya alami, di mana ayah sudah tidak bekerja. Masing-masing kami sebagai anak merasa dihargai atas pendapat kami masing-masing. Kami diajak belajar bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dipercayakan orang tua kepada kami. Tanpa terasa hal itu menjadi kebiasaan dalam kehidupan saya berkeluarga.

Pada hari ini, Tuhan Yesus juga ingin tahu, kesetiaan dan tanggung jawab kita sebagai murid-murid-Nya ketika dipercaya untuk menggembalakan domba-domba-Nya.

Dia minta pendapat kita “Bagaimana pendapatmu? Jika seseorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat,…”?, (ayat 12a) meskipun Yesus sudah memberikan jawaban-Nya …” tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan, lalu pergi mencari yang sesat itu (ayat 12b), kita tetap melakukan seperti yang Yesus sabdakan.

Memang tidak mudah mencari domba (seseorang) yang tersesat karena setiap manusia diberi kebebasan untuk memilih, dan kita biasanya memilih zona nyaman dengan cara menyalahkan yang tersesat tersebut. Atau kadang berkata “saya sudah menasehati, bahkan sudah mendoakannya, tetapi kalau itu pilihannya, ya… mau apa lagi”.

Sulit bagi kita kalau kita mengandalkan kekuatan sendiri dalam mencari domba yang tersesat. Kita bersama Yesus mencari domba yang tersesat karena Dialah Gembala Yang Baik. “Akulah Gembala yang baik, Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku, sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-dombaKu” (Yoh 10:14-15). “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati” (Yes 40: 11). 

Sabda ini menegaskan bahwa Allah itu berbelas kasih. Ia rindu kawanan domba-Nya bersatu hati dan tidak ada yang tersesat bahkan tidak ada yang hilang dan binasa. Ia tidak pernah berhenti mencari orang-orang yang lari menjauh dari pada-Nya. Ia menyelamatkan ciptaan-Nya yang tersesat, untuk kembali kepada-Nya.
Pengalaman saya terhadap menantu saya yang pada waktu itu hanya ikut-ikutan ke gereja. Saya bawa dalam doa setiap saat, baik doa pagi, doa sebelum makan, ketika dalam perjalanan, ketika saya belanja sampai menjelang tidur. Saya sampaikan doa kepada Tuhan: “Tuhan terimakasih, Engkau telah menyelamatkan saya, saya juga rindu menantu saya menerima keselamatan seperti yang saya terima, buka hatinya agar dia memahami dan mengalami bahwa Engkaulah satu-satunya Sang Juru Selamat, bahwa Engkaulah satu-satunya Gembala Yang Baik yang menuntun domba-domba-Mu sampai ke padang rumput yang hijau.” Puji Tuhan setelah dua tahun, dia ikut katekumen kemudian pada tahun ketiga, dia dibaptis. Sejak itu dia menjadi motor doa dalam keluarganya dan sekarang dia aktif dalam pelayanan koor di gereja.

Dalam masa Adven ini, marilah kita terlibat dalam karya Yesus mencari domba yang tersesat dengan hati yang lurus, jujur, dan hidup kudus (bertobat terus-menerus) (Yes 40: 3-5), agar kemuliaan Tuhan Sang Gembala Yang Baik nyata dalam kehidupan setiap orang. Amin.

Tuhan yesus memberkati. 

ECMW