Bertahan Sampai Kesudahan

Renungan Senin 26 Desember 2016

Bacaan: Kis. 6:8-10; 7:54-59; Mzm. 31:3cd-4,6,8ab,16bc,17; Mat. 10:17-22

…”but he that endureth to the end shall be saved.”

Selamat merayakan Natal Bapak/Ibu, Saudara/ri terkasih di dalam Yesus Kristus.

Masih hangat kita rasakan perayaan peringatan kelahiran Yesus Kristus Sang Juruselamat.

Tetapi hari ini kita sekaligus diingatkan tentang kematian seorang Martir pertama dan masih muda yakni Stefanus. Kelahiran Yesus membawa harapan baru tentang kasih Allah yang membawa kita layak berada di hadapan  Allah kembali setelah dosa Adam, melalui karya penebusan Kristus.

Peristiwa kematian St. Stefanus sebagai Martir, menyatakan kepada kita tentang iman yang teguh dan berpegang kepada janji Yesus tentang kehidupan kekal.

Dalam menjalani kehidupan ini, mungkin kita pernah dihadapkan pada suatu proses yang kadang sangat memakan tenaga dan pikiran serta perasaan kita. Sehingga sangat manusiawi ketika kita merasakan “kelelahan” menjalaninya. Pikiran manusia seringkali ingin segera saja mengakhiri proses tersebut melalui jalan pintas. Akibatnya karena kita tidak mau bertahan, kadang  jalan pintas yang kita tempuh adalah sebuah kekonyolan ataupun fatal.

Yesus sendiri memberi contoh tentang bagaimana bertahan di dalam proses. Proses penderitaan-Nya yang membawa-Nya sampai kepada kematian di kayu salib adalah teladan yang paling tragis. Yesus bertahan karena taat, iman, dan kasih-Nya kepada Bapa. Meskipun Yesus sendiri juga mengalami saat sakratul maut, sampai berkeringat darah. Dan buah dari bertahan itu adalah Yesus dipermuliakan Bapa melalui kebangkitan-Nya ke surga.

Teladan dari Yesus inilah yang diikuti oleh para murid-Nya. Mereka bertahan di dalam penderitaan, kesengsaraan sampai pada kematian pun mereka tidak pedulikan ketika mereka mewartakan tentang Yesus. Tidak terhitung berapa banyak darah tertumpah, nyawa melayang oleh karena iman kepada Yesus. Sebab mereka percaya bahwa siapa yang bertahan sampai pada kesudahannya akan diselamatkan. (Mat 10:22).

Suatu ketika saya mengalami situasi dan kondisi yang cukup berat di dalam kehidupan saya. Sampai rasanya tidak kuat lagi saya menanggungnya. Jalan sepertinya buntu ke mana-mana. Kata orang, yang bisa menyelesaikan masalah itu adalah saya sendiri. Melalui konsultasi dengan Pastor saya mendapat jalan keluar, diijinkan untuk mengambil keputusan sesuai pertimbangan hukum Gereja. Dalam keputus asaan saya menanggung dan menjalani proses ini seorang diri, saya satu pikiran dengan jalan keluar yang disampaikan oleh Pastor. Sampai suatu saat saya mendengar lagu rohani khususnya pada teks lagu yang terakhir: “Kuberjuang sampai akhirnya KAU dapati aku tetap setia.”

Tuhan sepertinya menegur saya melalui syair lagu tersebut. Sambil berderai air mata saya membuat komitmen untuk tetap bertahan, dengan mematikan ego dan memilih supaya tetap layak di hadapan Allah. Saya tidak ingin membuat kesalahan di mata Allah. Puji syukur kekuatan-Nya lah yang memampukan saya terus dan terus bertahan sambil terus mematikan ego.

Semoga kita semua diberi rahmat, untuk dapat terus bertahan di dalam menjalani proses kehidupan ini, supaya kita diselamatkan. Meskipun mungkin belum sampai harus bertahan seperti seorang Martir.

Allah Bapa memberkati kita. Amin.

ANS