Tanpa Kasih, Sia-Sialah Hidup

Renungan Senin 14 November 2016

Bacaan: Why. 1:1-4; 2:1-5a; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 18:35-43

Shalom sahabat-sahabat SEP dan KEP.

Damai sejahtera Kristus beserta kita semua.

Bacaan liturgi gereja hari ini mengingatkan kita semua, sudahkah aku menjalani hidup dengan kasih? Tuhan Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem untuk menggenapi tujuan-Nya datang ke dunia, yaitu menebus dosa manusia melalui kematian-Nya. Ketika dekat kota Yeriko, ada seorang pengemis yang berseru-seru mohon belas kasih Tuhan Yesus. Seorang pengemis adalah seorang yang tidak memiliki martabat di mata masyarakat, maka orang-orang di sekitarnya menyuruh si pengemis untuk diam. Tetapi Tuhan Yesus justru berhenti dan minta orang buta tersebut dibawa kepada-Nya.

Dalam perjalanan melaksanakan tugas yang maha besar dan maha mulia bagi keselamatan umat manusia, Tuhan Yesus masih mengizinkan diri-Nya untuk diganggu urusan sepele, teriakan seorang pengemis buta yang tidak memiliki martabat di mata masyarakat sekitarnya. Karena belas kasih-Nya yang tidak pandang bulu, Tuhan Yesus mengabulkan kerinduan si pengemis buta. Si pengemis disembuhkan dan bisa melihat.

Sudahkah aku memiliki kepedulian dan belas kasih kepada orang-orang di sekitarku? Keluargaku? Teman-teman se-komunitasku, lingkunganku, parokiku? Sekantorku? Bahkan juga orang-orang di sekitarku yang menurut pandangan masyarakat, mereka tidak bermartabat, tidak perlu dipedulikan, apakah aku memiliki kepedulian dan kasih terhadap mereka?

Di dalam bacaan pertama dari Kitab Wahyu, Tuhan Yesus menegur dengan keras jemaat Efesus yang tidak lagi memiliki kasih, meskipun mereka menjalani hidup rohani yang luar biasa, “Aku tahu segala pekerjaanmu, baik jerih payah maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak sabar terhadap orang-orang jahat. Engkau telah menguji orang-orang yang menyebut diri rasul, padahal mereka buka rasul. Engkau telah mendapati bahwa mereka pendusta. Engkau tetap tabah dan sabar. Engkau menderita oleh demi nama-Ku dan tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu sadarilah, betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah apa yang kaulakukan semula.”

Ketika kita menjalani hidup melalui jalan kasih, jalan yang Tuhan Yesus telah nyatakan, seperti dikatakan oleh pemazmur dalam bacaan hari ini, rahmat Allah akan melingkupi seluruh hidup kita, seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang berbuah pada musimnya dan daunnya tidak pernah layu. Apa saja yang diperbuatnya, berhasil.

Belajar dari seorang murid KEP yang berusia 79 tahun, rajin mengerjakan Lectio Devina,  dan saat ini di kelas Ajaran Gereja Katolik. Saat saya bertanya, apa manfaat bagi Ibu dengan mengikuti KEP? Sambil tersenyum Beliau menjawab dengan singkat dan tegas,”Banyak manfaatnya. Mengenal Injil, mengubah diri. Menguatkan iman. Dihina orang tidak terpengaruh, tidak marah dan tetap rendah hati.”

Beliau pensiunan guru sekolah SMP Katolik setelah mengajar 40 tahun, dan saat ini masih aktif mengajar di Seminari Pertama. Beliau mengatakan murid-muridnya ada yang sudah menjadi dokter, pejabat, pengusaha dan berbagai profesi lain. Bahkan ada yang menjadi Romo. 

Beliau menceritakan salah satu kemurahan Tuhan yang dialaminya. Saat kayu atap gentingnya rusak karena dimakan rayap, beliau mendatangi mantan muridnya yang sudah menjadi pengusaha dan ingin meminjam uang dan akan dikembalikan setiap bulan dengan diangsur. Beliau tidak mau meminta-minta. Yang mengharukan, si pengusaha tersebut memberinya amplop yang berisi uang tiga juta dan berkata, “Ibu tidak perlu mengembalikannya. Ibu pakai uang ini untuk beli kayu dan biaya tukang.”

Kemurahan Tuhan masih berlanjut. Saudara yang sudah lama tidak ketemu, datang mengunjungi dengan membawa 60 butir telur dan 15 kg beras. Oleh ibu ini dipakai untuk memberi makan para tukang. Pemeliharaan Tuhan tetap berlaku bagi anak-Nya yang menjalani hidup benar.

Si ibu ini juga menceritakan satu peristiwa yang sangat berkesan bagi Beliau. Suatu saat, ketika makan di tempat umum, beliau duduk satu meja dengan sepasang suami istri. Sambil menunggu hidangan pesanan mereka keluar, si ibu ini berbincang-bincang dengan si pasutri. Mengikuti dorongan hati yang digerakkan Roh Kudus, dengan penuh sukacita berbicara tentang pentingnya hidup benar di zaman seperti sekarang. Zaman yang penuh dengan dosa. Beliau membagikan kabar sukacita kebenaran. Ada reaksi wajah yang agak tidak mengenakkan. Si suami kemudian memperkenalkan diri dan mengatakan istrinya adalah pejabat negara. Si ibu ini meminta maaf. Ternyata mereka tidak marah, bahkan juga membayari semua makanan yang beliau pesan. Sungguh luar biasa, membagikan kasih, damai dan sukacita Kristus di mana pun beliau berada.

Satu saat anak laki-lakinya yang tinggal di Jakarta menelpon dan memberitahu, istrinya besok pagi pukul delapan akan operasi di Rumah Sakit Darmais Jakarta, operasi benjolan di payudara karena kanker. Mengikuti gerakan hati, Beliau mengatakan bahwa mantunya ini tidak akan dioperasi, Tuhan yang menyembuhkan. Besoknya tepat pukul delapan pagi si mantu sudah di ruang operasi. Ternyata ditunggu-tunggu sampai siang dokternya belum datang. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Keesokan harinya, mereka kembali ke Rumah Sakit untuk periksa dan janjian waktu operasi. Terjadi mujizat. Saat diperiksa, benjolan sudah hilang tanpa operasi. Sungguh kabar sukacita.

Ketika ditanya, apa resep beliau, sehingga tetap semangat dan murah senyum terhadap semua orang? Dengan antusias, beliau menjawab, “Lakukan 6S, yaitu:

  1. SABAR. Sabar terhadap semua orang dan semua masalah. Dapat diperoleh dengan setiap pagi diawali menghadap Tuhan melalui berdoa, merenungkan Sabda Tuhan dan melakukannya.
  2. SENYUM. Senyum yang tulus dan penuh sukacita kepada semua orang. Jangan berprasangka.
  3. SANTAI. Tidak perlu tegang, kuatir, takut atau pun pikiran-pikiran negatif lainnya. Percayai Tuhan.
  4. SOLUSI. Masalah jangan diabaikan. Perlu dicarikan jalan keluarnya. Pasti ada solusinya. Jangan menyalahkan orang lain. Periksa diri sendiri (introspeksi). Belajar dari situasi setiap hari, belajar itu seumur hidup.
  5. SYUKUR. Hiduplah penuh syukur. Syukuri semua kebaikan Tuhan.
  6. SEHAT JASMANI ROHANI : dengan mengatur POLA MAKAN dan POLA HIDUP YANG TERTIB.

Dan HINDARI S yang sangat berbahaya : STRESS, salah satu akibatnya adalah STROKE, yang dapat membawa seseorang mengalami SEDO (bahasa Jawa yang artinya meninggal).”

Sungguh saya mengalami perjumpaan yang sangat diberkati. Belajar dari murid KEP yang memiliki tanda kehadiran Tuhan yang nyata: kasih, damai dan penuh sukacita, sabar dan selalu tersenyum kepada siapapun, memuji dan memuliakan Tuhan senantiasa.

TANPA KASIH, SIA-SIALAH SELURUH AKTIVITAS HIDUP KITA.

MARILAH HIDUP DENGAN MENGASIHI, KARENA TUHAN YESUS SELALU MENGASIHI DAN MEMBERKATI KITA SENANTIASA. (HLTW)

Image result for only love