Melakukan Yang Harus Dilakukan

Renungan Selasa 8 November 2016

Bacaan: Tit. 2:1-8,11-14; Mzm. 37:3-4,18,23,27,29; Luk. 17:7-10

Godaan manusia yang utama adalah manusia selalu ingin dipuji! Manusia selalu ingin dihargai, ingin dihormati, ingin disanjung. Maka tak jarang orang ingin menonjolkan karya-karyanya, agar bisa dipuji dan dihormati oleh sesamanya. Manusia sudah punya kecenderungan merasa lebih hebat dari orang lain, itulah yang membuat manusia bisa terus maju dan berprestasi, sehingga dunia maju dan lebih maju dan bisa lebih sejahtera. Manusia harus punya ambisi menapaki kehidupan ini. Bila manusia tidak punya ambisi, manusia cuma berjalan di tempat saja, statis. Dan itu sebenarnya bukan kehidupan. Kehidupan adalah perubahan dan terus mau berubah, sampai ke tujuan akhir, yaitu kekekalan.

Tetapi hari ini mengapa Tuhan Yesus tiba-tiba mengajarkan ke murid-murid-Nya untuk memiliki KESADARAN. Kesadaran adalah seperti rem, supaya manusia yang sudah diberi talenta dan anugerah untuk berkarya menjadi hebat tidak keblabasan. Yang akan berakhir memiliki keinginan untuk menjadi seperti Allah (Kej 3:5). Yesus tidak ingin mengulang peristiwa penciptaan manusia yang berujung kepada DOSA dan kebinasaan. Maka Yesus sebagai Sang Juru Selamat, mengajar murid-murid-Nya harus mempunyai REM, yaitu KESADARAN yang mau rendah hati! Dia datang ke dunia sebagai manusia yang rendah hati. Lahir hina di kandang Betlehem, berkarya sampai tidak punya waktu untuk meletakkan kepala-Nya, karya-karya-Nya ditolak dan dihina, didera dan disiksa sampai mati di atas kayu salib. Kesadaran tinggi inilah yang ingin Yesus tekan hari ini, supaya murid-murid-Nya tetap punya ambisi positif untuk berkarya dengan penuh tanggung jawab, tetapi harus tetap menjaga diri seperti seorang hamba yang tidak berambisi untuk dipuji dan dihormati dan dihargai.

Murid-murid Yesus dalam berkarya tidak perlu gembar-gembor, apalagi menyombongkan diri menjadi yang paling hebat, selalu minta dipuji dan dihormati. Sikap rendah hati seperti Yesus itulah yang harus dihayati. Dan terus menerus menyadari diri, bahwa kita bukan apa-apa, atau bukan siapa-siapa. Kita harus berbeda. Biarlah Tuhan sendiri yang menilai diri kita. Biarlah sesama kita sendiri yang menilai, menghargai dan memberi pujian atas karya-karya dan pekerjaan kita. Yang utama adalah tetaplah berkarya dengan sepenuh hati dan bertanggung jawab atas tugas-tugas yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Dengan polos dan rendah hati kita berani mengatakan :

KAMI HANYA MELAKUKAN APA YANG HARUS KAMI LAKUKAN.

Tuhan memberkati kita semua.

Vincent A. Dipojugo.

Image result for Luke 17:10 Done what was our duty