Lorong-Lorong ke Surga

Renungan Rabu 16 November 2016

Lorong-Lorong ke Surga

Bacaan: Why. 4:1-11; Mzm. 150:1-2,3-4,5-6; Luk. 19:11-28

Semua jalan di dunia menuntunmu ke surga, desiran angin nan mesra mengayunmu ke surga. Semua lorong di bumi haruslah kau jalani bersama dengan sesama menuju  Bapa. Semua bunga ikut bernyanyi, gembira hatiku, segala rumput pun riang ria, Tuhan sumber gembiraku.

Di atas adalah lirik-lirik lagu “Tuhan sumber gembiraku” yang menggambarkan bahwa semua lorong-lorong di bumi adalah jalan yang menuntun kita ke surga. Lorong-lorong adalah berbagai jalan kehidupan yang kita jalani, ada yang menjadi guru, dokter, insinyur, ahli ekonomi, pengusaha, biarawan/wati, imam, penginjil, sopir taksi, dll. dan masing-masing sudah diberi talenta dan berkat yang cukup oleh Tuhan, tinggal bagaimana kita  bisa memanfaatkan sebaik-baiknya bagi kehidupan masing-masing dan sesamanya. Tidak ada yang satu merasa lebih hebat, lebih unggul, lebih penting, tetapi semua itu harus bersatu dalam melewati lorong-lorong kehidupannya secara bersama dan dengan sesama sehingga nantinya akan bertemu di penghujung lorong yakni di surga tempat Bapa berada.

Dalam Lukas 19:11-28 diceritakan bahwa ada seorang bangsawan yang akan pergi jauh dalam waktu yang lama untuk menjadi raja. Agar hamba-hambanya bisa tetap memperoleh kehidupannya maka dipanggillah kesepuluh hambanya dan masing-masing hamba diberi modal 1 mina untuk diusahakan dan dikembangkan agar mereka bisa hidup baik.

Ketika bangsawan itu pulang, dipanggilnyalah hamba-hambanya, dan para hamba melapor, ada hamba yang telah mengusahakan 1 mina itu dan sekarang telah menjadi 10 mina, ada yang berhasil menjadi 5 mina, tetapi ada seorang hamba yang dengan marah mengembalikan 1 mina tersebut kepada tuannya, ia menganggap tuannya tidak adil dan jahat, karena dengan 1 mina itu ia tidak bisa berbuat dan menghasilkan apa-apa.

Bagaimana wujud perumpamaan tersebut dalam realita kehidupan kita sehari-hari? Ada orang yang mendapat talenta sebagai dokter misalnya, dia memanfaatkan talenta tersebut dengan baik, dia kembangkan, dia mendapat penghasilan dari profesinya itu, karena ia pandai dan berkembang, rasa sosialnya tinggi, sehingga banyak pasien yang ditolong dan disembuhkan. 1 mina itu telah berkembang menjadi 10 mina.

Ada seorang guru di pelosok terpencil, dalam keterbatasan dan kesederhanaan hidupnya namun ia tetap semangat mendidik anak-anak yang tidak mampu dengan gaji yang minim namun ia berhasil mengubah dan menghantar anak-anak didiknya menjadi orang yang baik dan berguna bagi sesama dan bangsanya. 1 mina itu telah berkembang menjadi 5 mina.

Ada seorang yang diberi talenta, namun ia tidak mau mengasah talentanya, ia malas dan hanya membebankan hidupnya pada orang lain, hidup tidak jujur, selalu merasa kurang, penuh iri dan bahkan dia menganggap Tuhan jahat dan tidak adil terhadap dirinya. Orang seperti inilah yang dikatakan bahwa hidupnya tidak berbuah, sehingga seperti pohon ara yang didapati Yesus tidak berbuah, Ia mengatakan bahwa pohon seperti itu tidak bermanfaat bagi kehidupan dan ia harus ditebang dan dibakar.

Setiap dari kita telah diberikan talenta dan berkat masing-masing secara cukup dan Tuhan perintahkan agar kita manfaatkan dalam melewati lorong-lorong kehidupan masing-masing bersama dengan sesama, saling peduli dan tolong-menolong dalam semangat cinta kasih bersama menuju ke rumah Bapa di surga.

Sekecil apapun talenta dan berkat yang Tuhan berikan, hendaklah kita berusaha untuk melakukan perintah-Nya dengan baik dan penuh kesetiaan dan ketaatan sehingga hidup kita bisa berbuah. Sebagai orang beriman janganlah kita menolaknya sehingga hidup kita tidak pernah berbuah dan akhirnya Tuhan akan menebang dan membakar seperti pohon ara yang tidak berbuah itu.

Mari kita lewati lorong-lorong kehidupan kita masing-masing dengan penuh sukacita, bernyanyi dan bergembira, karena lorong-lorong itu adalah jalan menuju ke tempat Bapa.

FX83

Image result for luke 19:26