Jangan Membuat Yesus Menangis Lagi

JANGAN BUAT YESUS MENANGIS LAGI

Renungan Kamis 17 Nopember 2016

Bacaan: Why. 5:1-10; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Luk. 19:41-44

Salam Damai Sejahtera dalam Yesus Kristus.

Yesus bersama murid-murid-Nya dalam perjalanan dari Bukit Zaitun menuju kota Yerusalem. Ketika dekat kota Yerusalem, di tempat jalan menurun dari Bukit Zaitun, mulailah para murid bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring. Kata mereka: Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di surga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (ayat 38).

Bagi para murid yang menyertai Yesus, pergi ke Yerusalem adalah jalan kemuliaan. Mereka merasa seakan-akan sedang mengiringi seorang raja yang akan memulihkan takhta Daud. Di tengah khalayak ramai yang sedang bergembira itu, Yesus memandang kota Yerusalem yang berkilauan karena diterpa oleh sinar matahari sehingga menambah keindahan kota itu. Yerusalem dengan Bait Sucinya nan megah, yang menjadi kebanggaan orang Israel. Sementara mereka terpesona memandang keindahan Yerusalem, tiba-tiba Yesus menangisi kota itu. Mengapa? 

  • YESUS MENANGIS karena Ia melihat apa yang diperlukan penduduk kota Yerusalem namun mereka sendiri tidak mengerti akan kebutuhan itu.

“Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu” (ayat 42a).

Damai sejahtera yang ditawarkan oleh Yesus lebih daripada sekedar tidak adanya konflik dan peperangan. Damai sejahtera dari Yesus berarti pembebasan. Pembebasan dari keterikatan pada rasa takut, dari prasangka, kebencian dan penolakan.  

Damai sejahtera dari Yesus adalah kebebasan dari dosa yang datang selagi kita memusatkan hati, pikiran, pandangan mata kita kepada Yesus dan berusaha untuk berjalan mengikuti perintah-Nya dalam ketaatan.

  • YESUS MENANGIS karena keterbatasan mereka untuk dapat memahami kenyataan yang akan terjadi.

“Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau” (ayat 43–44)

Yesus mengetahui bahwa mereka akan menghadapi sebuah kehancuran akibat kekerasan hati dan tidak berimannya orang-orang Yerusalem. Mereka tidak mengetahui bahwa Allah sedang melawat mereka melalui diri Yesus.

Dan ramalan-Nya itu terbukti. Tahun 70 Masehi ekspedisi militer Romawi yang dipimpin panglima perang Titus memporakporandakan Yerusalem dan menceraiberaikan penduduk Yerusalem. Bait Suci dihancurkan dan kemegahannya hanya tinggal kenangan. Kota itu rata dengan tanah.

Yesus tidak hanya menangis untuk kota Yerusalem tetapi bisa saja Dia juga menangis untuk kota kita, negara kita, bangsa kita, bahkan kita mungkin juga sering membuat Yesus menangis, ketika ketulusan-Nya, kasih dan pengorbanan-Nya ditolak karena kedegilan hati kita, ketidaksetiaan kita, pada saat kita merasa diri kita masih mampu dan tidak mau tahu dengan rencana dan kehendak TUHAN.                                                                              

Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. Dia tidak pernah meninggalkan kita. Dia selalu ada untuk Anda dan saya. Dia selalu rindu untuk menyelamatkan Anda dan saya asalkan kita mau untuk diselamatkan. Setiap saat kita datang kepada-Nya dengan hati yang remuk. Dia akan menyatukannya kembali.

Mari kita renungkan :

Apakah kita menjadi sumber sukacita bagi Yesus atau menjadi sumber dukacita?    

Inilah yang harus menjadi pilihan dan keputusan kita: Jangan buat Yesus menangis lagi!

Mari kita hidup dalam penyerahan diri kepada-Nya, supaya kita dimampukan memahami rencana-Nya bagi kita dan melakukan kehendak-Nya.

TUHAN memberkati. (MFBD)

Image result for Luk19:41