Haus Akan Allah

 Renungan Selasa 15 November 2016

Bacaan: Why. 3:1-6,14-22; Mzm. 15:2-3ab,3cd-4ab,5; Luk. 19:1-10

Suatu saat, Yesus memasuki kota Yerikho, di mana tinggal seorang kepala pemungut cukai yang bernama Zakheus yang kaya raya dan ia berbadan pendek. Ketika mendengar kedatangan Yesus, banyak orang berlarian ingin melihat Yesus, berjumpa dengan Yesus, mungkin juga ingin tahu bagaimana wajah Yesus yang terkenal itu. Bahkan mungkin juga ada yang ingin melihat perbuatan ajaib yang dilakukan oleh Yesus yang terkenal atau pun yang sekedar ingin tahu saja. Karena kakinya pendek, Zakheus kalah cepat dan tidak dapat berada di tempat yang strategis seperti yang diharapkannya agar dapat melihat Yesus. Pandangannya tertutup oleh orang banyak yang selalu mengelilingi Yesus, sehingga menutupi pandangan Zakheus yang semampai (semeter tak sampai) itu.

Adapun Zakheus yang sangat kaya dan terpandang itu, mungkin juga terhormat dan disegani orang, mempunyai hati yang tulus mencintai Allah, sangat merindukan Allah. Zakheus mengetahui, mengenali kekurangan, kelemahan dan keterbatasannya. Dia tidak putus asa, bahkan mampu melihat kesempatan dalam kesempitan. Sebagai pemungut cukai yang cerdik, Zakheus melihat pohon itu sebagai peluang untuk dapat melihat Yesus yang terkenal itu. Dia berlari mendahului orang banyak, memanjat pohon ara yang menurut perhitungannya pasti akan dilewati oleh Yesus yang dikerumuni banyak orang itu. Zakheus mencari Yesus dengan tulus, rendah hati dan penuh kesungguhan. Tidak peduli apa yang akan dikatakan orang bahwa ia naik pohon seperti anak kecil. Zakheus tidak memikirkan risiko jadi bahan ejekan, cemoohan orang. Kerinduan akan Yesus lebih besar dari segalanya baginya. Yesus yang penuh belas kasihan dapat merasakan kerinduan hati Zakheus, melihat ke atas. Walau mungkin hanya melihat sebagian wajah Zakheus di antara dedaunan, Yesus dapat mengenali Zakheus yang sangat merindukan-Nya. Dengan penuh kasih Yesus menyapa Zakheus dan berkata mau menumpang di rumah Zakheus. 

Mendengar sapaan dan pandangan mata Yesus yang penuh kasih, Zakheus mengalami sukacita yang luar biasa dalam hatinya dan dia berubah. Perjumpaan pribadi dengan Yesus membuat Zakheus berani mengambil keputusan yang radikal, yaitu membagikan hartanya kepada orang miskin. Harta dunia, penghormatan bukan segalanya baginya sekarang. Kasih Allah mengubah kehidupan seseorang.

Di Pertemuan Nasional Pengajar Evangelisasi baru ini, Romo Didik mengumpamakan seperti orang dipatuk/ dipagut ular berbisa, langsung berwarna biru kalau tidak langsung ditolong. Bahkan bisa itu dapat membuat seseorang yang dipagut ular itu menjadi biru seluruhnya dan orang tersebut meninggal. Demikian juga, hati kami yang telah merasakan dan mengalami sentuhan api kasih Tuhan, menjadi api yang bernyala, mengalami sukacita Tuhan. Dan membagikan sukacita Injil karena perjumpaan pribadi dengan Allah kepada siapa pun, di mana pun, ke mana pun Tuhan utus kami dalam suka maupun duka. Tetap memandang Allah dengan penuh syukur. Seperti Paulus berkata bukan aku lagi tetapi Yesus yang hidup di dalam aku.

Doa: Syukur dan terima kasih karena Engkau memberikan kami hati yang tulus seperti Zakheus, yang merindukan Engkau. Mampukan kami dengan pertolongan rahmat-Mu untuk memelihara hati kami agar selalu terbakar oleh api kasih-MU. Berikan kami hati yang senantiasa rindu untuk tinggal di hadirat-Mu, ya Bapa, dan terus memuliakan Engkau seturut teladan Yesus oleh pimpinan dan bimbingan Roh Kudus sampai kami dapat mengalami seperti yang Kau janjikan bahwa barangsiapa menang, Kau akan mendudukkan kami bersama-sama dengan Engkau di atas takhta-Mu. Amin. (MJRW)

Image result for thirsty of God