Allah Orang Hidup

Renungan Sabtu 19 November 2016

Bacaan: Why. 11:4-12; Mzm. 144:1,2,9-10; Luk. 20:27-40.

ALLAHKU ALLAH ORANG HIDUP

Ada berbagai cerita orang tentang kehidupan setelah kematian. Ada beragam gambaran tentang adanya imbalan, ganjaran dan hukuman. Tetapi ada juga orang yang mengakui bahwa kehidupan hanya terjadi saat ini, di sini. Itulah sebabnya banyak orang dengan tanpa sadar berusaha menikmati hidup yang sekarang ini dengan slogan “hidup cuma sekali. Kalau tidak dinikmati sekarang, kapan lagi?” 

Bacaan injil hari ini menggambarkan situasi seperti itu. Kebangkitan orang-orang mati sepanjang sejarah Israel menjadi perdebatan yang selalu menarik. Beberapa kelompok orang Yahudi percaya akan adanya kebangkitan, namun sebagian lain, orang Saduki salah satunya, tidak mengakui atau tidak percaya akan adanya kebangkitan badan. Mereka juga tidak percaya perkara malaikat-malaikat dan roh, apalagi soal kebangkitan setelah kematian. Ketidakpercayaan itulah yang menjadi konteks pertanyaan mereka pada Yesus. Mereka membayangkan kehidupan setelah kebangkitan sama seperti kehidupan saat ini.

Hal ini kiranya juga menjadi pertanyaan bagi kita pada umumnya, bagaimana kehidupan setelah kematian? Kita yakin dan percaya bahwa ada kebangkitan dan kehidupan kekal. Namun mengenai bagaimana tepatnya, atau bagaimana teknik kebangkitan itu, kita hanya bisa mengira-ngira. Senada dengan pertanyaan orang-orang Saduki, saat ini yang sering menjadi perdebatan kita adalah bagaimana dengan orang yang sudah meninggal kemudian bukan dimakamkan, namun dikremasi. Kekuatiran pemikiran dari banyak orang adalah salah satunya persoalan kebangkitan badan. Kalau badannya sudah hancur, bagaimana dia pada waktu bangkit lagi, menggunakan tubuh siapa?

Saat ini Gereja meyakini, kuasa Allah jauh melampaui perdebatan kita yang seperti itu. Allah punya jalan dan cara yang tidak pernah bisa kita mengerti. Seperti jawaban Yesus, kebangkitan setelah kematian adalah kebangkitan atau kehidupan yang sama sekali baru, dengan tubuh yang baru, bersama dengan malaikat-malaikat. Karena Allah kita adalah Allah orang-orang hidup, bukan Allah orang-orang mati.

Dialog antara Yesus dan orang-orang Saduki menunjukkan sebuah perdebatan antara hukum manusia, dalam konteks ini hukum Musa, dengan hukum Allah sendiri (sebagaimana saat ini sedang dipertontonkan di negeri ini dalam kegiatan pilkada). Hukum Musa berbicara mengenai larangan dan pantangan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Patokannya adalah soal boleh dan tidak boleh. Hukum yang demikian ternyata berbeda dengan hukum baru yang dibawa oleh Yesus. Patokannya bukan mana yang boleh atau tidak boleh, namun yang lebih penting adalah soal keterbukaan hati pada kehendak Allah sendiri. Yang jelas adalah bahwa hukum Allah itu menghendaki agar umat-Nya beroleh hidup, bukan beroleh kematian.

Sahabat terkasih, sebagai murid-murid Yesus mari kita terus berjuang untuk membawa kehidupan bagi sesama kita, apapun risikonya. Hal ini sudah  dimulai oleh Badan Pelayanan Keuskupan Pembaruan Karismatik Katolik (BPK-PKK) Surabaya dengan memilih motto “Membawa kehidupan bersama Roh Kudus”. Semoga Roh Kudus menuntun kita semua menjadi agen kehidupan bagi sesama. Amin.

Selamat berkarya, Berkah Dalem. (VBP)

Image result for god of the living not the dead luke 20:38