Tidak Menjadi Batu Sandungan

Renungan Rabu 5 Oktober 2016

Bacaan: Gal. 2:1-2,7-14; Mzm. 117:1,2; Luk. 11:1-4

TIDAK MENJADI BATU SANDUNGAN

Galatia 2:14 Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?”

Berbicara itu mudah, tapi melakukan dengan benar apa yang kita katakan dan ajarkan, itu adalah hal yang berbeda. Butuh tenaga dan kemauan ekstra untuk benar-benar bisa menerapkan ilmu yang sudah pernah kita pelajari. Tuntutan akan menjadi lebih besar ketika kita mengajarkan ilmu yang kita miliki itu kepada orang lain.

Sebagai murid Kristus, kita diharapkan untuk bisa mengajarkan nilai-nilai kebenaran Allah kepada orang lain. Namun pengajaran itu tidak cukup berhenti sampai dalam bentuk kata-kata saja. Kita dituntut untuk harus bisa menerapkan apa yang kita ajarkan tersebut dalam kehidupan kita, karena diri kita adalah contoh kuat dari apa yang kita ajarkan. Bagaimana pun juga, perbuatan akan memberi efek lebih besar daripada sebaris kata-kata.

Banyak orang bisa mengajarkan hal yang baik kepada orang lain, karena pengetahuan bisa dipelajari oleh siapa saja yang mau belajar. Namun berapa banyak dari kita yang benar-benar mau dan bisa menerapkan apa yang kita pelajari itu. Jangan-jangan kita hanya menjadi batu sandungan bagi orang lain karena tidak mampu menerapkan apa saja yang sudah kita ajarkan.

Kita adalah manusia yang lemah dan akibat efek dosa asal menyebabkan kedagingan kita selalu menyeret kita untuk cenderung berbuat dosa. Tidak ada seorang pun yang mampu, dengan hanya mengandalkan kekuatannya sendiri, untuk bisa hidup selalu benar di hadapan Tuhan. Hanya hikmat dan kekuatan dari Tuhan saja yang memampukan kita melawan kedagingan kita dan menuntun kita melangkah dalam kebenaran di hidup ini.

Doa : Tuhan, terima kasih Kau sudah perbolehkan aku untuk tahu mana yang baik yang harus aku lakukan di hidup ini, dan mana yang tidak baik yang harus aku hindari. Beri hikmat dan kekuatan-Mu padaku, supaya aku benar-benar bisa melaksanakan pengajaran-Mu itu di dalam setiap kata dan perbuatanku. Tuntun aku selalu sehingga aku tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, melainkan bisa menjadi contoh bagaimana seharusnya hidup sebagai murid Kristus.

Amin.

(LCEST)