Tantangan Pengikut Yesus

Renungan Kamis 13 Oktober 2016

Bacaan: Ef. 1:1-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 11:47-54

“TANTANGAN PENGIKUT YESUS”

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah diminta dan dipaksa oleh atasan untuk menandatangani sebuah kas bon pengeluaran untuk pembayaran uang cutinya yang sudah dianggap benar. Tetapi saya tidak mau menandatangani kas bon tersebut karena perhitungannya salah dan lebih besar dari yang seharusnya. Sudah saya komunikasikan dan usulkan untuk koreksi perhitungan sesuai dengan aturan, tetapi atasan tetap tidak mau, dan saya pun juga tetap tidak mau menandatangani. Saya pun dimarahi dan diancam jika saya tidak mau menandatangani, banyak pegawai lain yang mau menggantikan posisi saya. Padahal dia sendiri yang sering memberikan pengarahan, pembekalan agar semua pegawai bekerja secara benar, jujur dan bertanggung jawab.

Dalam kebingungan dan permohonanku, Tuhan Yesus berkata agar saya tetap berpegang pada kebenaran. Keesokan harinya pemimpin saya menerbitkan Nota Dinas Intern untuk memindahkan tugas sementara dari jabatan saya sebagai wakil pemimpin cabang menjadi pelaksana dan bertugas di gudang. Untuk perintah mutasi yang menurutku salah ini terpaksa saya menurutinya saja. Saya sangat paham mutasi ini karena saya dianggapnya menghalangi kehendaknya yang dianggapnya sudah benar.

Saya sangat kesal karena bukan hanya dipermalukan di depan semua pegawai kantor cabang tetapi hampir semua rekanan/nasabah di Kabupaten itu mengetahui peristiwa tadi. Namun istri saya sangat mendukung sikap saya tersebut, dan tak henti-hentinya berdoa. Ternyata Tuhan Yesus tidak membiarkan saya sebagai anak-Nya terpuruk, akhirnya pada bulan kelima masa pembuangan itu saya dikembalikan pada posisi semula, setelah transaksi yang salah diketahui dan ditegur oleh Pimpinan Pengawasan Kantor Wilayah.

Melakukan kebenaran ternyata tidak mudah, selain ada risiko juga banyak faktor yang mempengaruhinya, terlebih jika menghadapi kekuasaan yang mempunyai kewenangan yang sering menjurus kepada sikap kesewenangan dan arogansi. Tetapi haruslah saya yakini bahwa sebuah kebenaran tetaplah kebenaran.

Melalui bacaan Injil hari ini, Yesus menunjukkan ketegasan-Nya menghadapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dan mengecam mereka dengan dua kata “celakalah kamu”.

  1. Celaka yang pertama karena mereka membangun makam nabi-nabi yang telah dibunuh oleh nenek moyangnya. Hal ini berarti mereka menyetujui tindakan salah nenek moyang mereka yang membunuh para Nabi. Kita tahu bahwa seorang Nabi adalah utusan Allah atau penyambung lidah Allah. Maka ketika mereka membunuh Nabi, berarti mereka juga menolak kebenaran yaitu kehadiran Allah.
  2. Celaka yang kedua ialah karena mereka mengambil kunci pengetahuan. Hal ini menggambarkan bahwa mereka menganggap diri mereka yang paling benar, sehingga tidak mau menerima kritikan atau pendapat/kebenaran orang lain. Yesus sangat tahu bahwa kebenaran yang Ia sampaikan, tentu mempunyai dampak/konsekuensi atas diri-Nya. Bahwa Ia pun saat-Nya akan diperlakukan sama dengan para Nabi terdahulu.

Memang bukan hal yang mudah untuk mengubah dari sesuatu yang sudah dianggap mapan apalagi jika menghadapi seorang yang memiliki jabatan dan wewenang ke arah “kebenaran sejati”.

Marilah kita terus selalu memperjuangkan kebenaran-Nya, kendati pun mendapat tantangan dari mereka yang merasa kemapanannya terusik. Semoga kita selalu hidup dalam kebenaran-Nya sehingga hidup kita benar-benar mapan. (jhs)

Image result for Luke 11:47