Sukacita Dalam Tuhan

Renungan Senin 24 Oktober 2016

Bacaan: Ef. 4:32-5:8; Mzm. 1:1-2,3,4,6;Luk. 13:10-17

“Semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.” (Lukas 13:17)

Banyaknya peraturan yang diterapkan bangsa Yahudi membuat orang terkungkung tidak bisa bergerak bebas dalam melakukan aktivitasnya. Lebih-lebih pada hari Sabat. Banyak peraturan Sabat yang harus ditaati, bahkan rincian tata cara dan tradisi yang justru menjadi beban. Salah satu pekerjaan yang dilarang pada hari Sabat yaitu melepas jenis simpul ikatan tertentu. Yesus mengajukan dasar-dasar yang tidak dapat disangkal dan membuat malu lawan-Nya (ayat 17), bahwa Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat (Lukas 6: 5). Dan ikatan Iblis merupakan jenis simpul ikatan yang tidak disebut dalam hukum Sabat. Begitu pula hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat (Markus 2:27). Hal ini yang kurang dipahami oleh orang Yahudi, maka timbul konflik dalam diri kepala rumah ibadat ketika Yesus meletakkan tangan-Nya atas perempuan yang telah diikat oleh Iblis (ayat 14, 16).
Setiap orang ingin dilepaskan dari hal-hal yang mengikat hidupnya: dari kemiskinan, kebodohan, keterpurukan, kecemasan, ketakutan, terror, sakit-penyakit, hal-hal yang mengikat kreativitasnya, bahkan dari ikatan kuasa kegelapan. Dan yang lebih menyedihkan, seringkali manusia tidak menyadari bahwa mereka berada di dalam ikatan-ikatan tersebut seperti yang dialami perempuan ini yang sakit bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak selama delapan belas tahun. Tuhan Yesus melihat bahwa perempuan ini bukan sakit biasa (sakit secara medis), melainkan karena diikat oleh kuasa Iblis, maka dengan belas kasih-Nya, perempuan ini menerima jamahan Tuhan dengan sabda-Nya: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh”. Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah (ayat 12-13).

Dalam peristiwa ini, Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa peraturan dibuat bukan untuk membatasi atau membelenggu kita dalam melayani sesama, melainkan kita juga harus peka dan mampu mendengarkan suara Roh Kudus atas kebutuhan orang-orang yang rindu mengalami pembebasan. Seperti yang pernah saya alami ketika mengajar, ada seorang bapak yang masih terikat dengan jimat-jimat, keris dan semacamnya. Bapak ini menyadari keterikatannya ketika Roh Kudus menggerakkan saya untuk membagikan cerita akibat orang yang masih terikat dengan kuasa kegelapan. Hal ini saya ketahui ketika bapak tersebut mengatakan kepada saya waktu istirahat dan minta didoakan waktu selesai pembelajaran. Sebagai pertolongan pertama, saya mendoakannya. Selesai didoakan, bapak ini mengalami sukacita karena terlepas dari hal yang mengikatnya selama ini, kemudian saya dan dia memuliakan Allah, tetapi karena benda-benda tersebut masih di rumahnya, maka untuk selanjutnya saya menyarankan agar melakukan Sakramen pengampunan dosa kemudian menghubungi guru yang kompeten (saya beri informasi nama salah seorang guru) pada masalah tersebut dengan membawa benda-benda yang mengikatnya supaya sukacitanya semakin penuh dan bapak ini benar-benar dibebaskan dari kuasa kegelapan.

Santo Paulus mengajak kita untuk menjadi penurut-penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih dan hidup di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kita dengan menyerahkan diri-Nya bagi kita. Amin.

Tuhan Yesus memberkati.
ECMW

Image result for Luke 13:17;