Siapakah Sesamaku?

Renungan Senin 3 Oktober 2016

Bacaan: Gal. 1:6-12; Mzm. 111:1-2,7-8,9,10c; Luk. 10:25-37

Setiap kali mendengar atau membaca berita mengenai kenalan atau orang yang meninggal, kita akan berdoa “semoga orang tersebut memperoleh pengampunan dan diberikan hidup kekal di sisi Tuhan”. Apa yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup yang kekal itu? Itu pertanyaan ahli Taurat kepada Yesus. Suatu pertanyaan yang tidak tulus dan hanya bertujuan untuk menjebak dan mencobai Yesus; karena sebagai ahli Taurat atau Alkitab mereka sudah sangat tahu apa yang tertulis dalam Alkitab, yaitu “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati dan segenap jiwamu, dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati ini, ingin mengingatkan kepada kita semua, bahwa kita pun juga bertanya dan berperilaku seperti ahli Taurat dan kaum Lewi. Banyak orang dengan bangga menyatakan dirinya telah membaca Alkitab dari awal sampai akhir (khatam) berkali-kali, alkitab penuh dengan coretan dan bahkan sudah berganti dengan alkitab yang baru. Pandai menerangkan, berdebat, mengajar, berkhotbah atau menjadi pelayan Tuhan dalam rupa berbagai kegiatan kerohanian seperti kaum Lewi, namun seperti para ahli Kitab kita pun juga masih bertanya “bagaimana untuk memperoleh hidup kekal dan siapakah sesamaku manusia itu?

Berbuat baik dalam rupa, berempati, peduli dan cepat tanggap kepada penderitaan orang lain, berbagi, menolong dengan tulus hati dan rupa-rupa perbuatan baik lainnya adalah bentuk nyata dari cinta kasih yang diajarkan Yesus dan ternyata itu dilakukan oleh orang Samaria yang selama ini kita anggap sebagai orang yang tidak mengenal Allah dengan baik, orang-orang yang bukan dari kelompok kita. Tetapi justru orang Samaria itulah yang bisa mengerti siapa sesamanya.

Kita sering memahami bahwa mencintai Tuhan itu cukup dengan kita rajin memenuhi segala perintah dan peraturan keagaamaan, taat beribadah,  selalu berdoa, tekun adorasi dan berdevosi, berziarah, puasa mati raga, retret rekoleksi dan berbagai kegiatan pelayanan yang semuanya bertujuan untuk membangun kesucian diri pribadi.

Membangun hubungan vertikal seperti itu tidak salah dan baik, namun Yesus menekankan bahwa itu tidak cukup, tidak akan bermakna apabila tidak dinyatakan secara horisontal yakni dipraktekkan dengan mencintai  kehidupan dengan sesama dan alam lingkungannya.

Demikian Tuhan menginginkan agar kita mencintai dan mengasihi manusia TANPA PILIH-PILIH (yang sebangsa, seiman, sesuku, sekomunitas, strata sosial yang sama, pendidikan kedudukan yang sama, dll.). Dan bukan hanya mengasihi dan mencintai MANUSIA YANG SAMA DENGAN KITA saja.

Apa yang diperintahkan Yesus itu tentu sulit. Kita butuh pemahaman tentang Tuhan itu dengan lebih mendalam, kita perlu keberanian, tekad, semangat, kesungguhan, kesetiaan dan ketaatan, serta butuh pengorbanan dan praktek.

Namun akan menjadi tidak sulit, apabila kita mau menimba air kehidupan itu dari sumbernya, kita mau melekat terus kepada pokok anggur yakni Yesus itu sendiri, dan memohon kasih karunia-Nya agar kita mampu melakukan perintah-perintah-Nya.

Orang Samaria itu telah mewarisi hidup kekal, karena sejatinya ia telah menjadi anak-anak Tuhan yang telah mempraktekkan segala perintah Allah. Sebagai anak sudah selayaknya mereka menerima warisan dan memperoleh hidup kekal yang dipertanyakan oleh ahli Taurat dan kaum Lewi.

Siapakah kita? Siapakah diriku? Apakah aku ahli Taurat? Apakah aku kaum Lewi? Ataukah aku orang Samaria yang baik hati itu?

Seperti apa yang diperintahkan Yesus, “Marilah kita pergi dan berbuatlah demikian.”

TAKE YOUR BURDEN TO THE LORD & LEAVE IT THERE

F.X. SANTOSO TANUDJAJA

Image result for who is my neighbour