Perjumpaan dengan Yesus

Renungan Minggu 30 Oktober 2016 

Bacaan: Keb. 11:22-12:2; Mzm. 145:1-2,8-9,10-11,13cd-14; 2Tes. 1:11-2:2; Luk. 19:1-10

Dalam bacaan injil hari ini, kita membaca bagaimana Zakheus berusaha dengan keterbatasannya, berusaha untuk berjumpa dengan Yesus. Tetapi yang terjadi sungguh luar biasa, Yesus berhenti di bawah pohon dan memanggil Zakheus. Zakheus begitu sukacita dan bahkan Yesus tinggal di rumahnya. Zakheus sangat bersuka cita, bertobat dan menebus kesalahannya dengan mengembalikan empat kali lipat dan memberikan separuh hartanya.

Berusaha menemukan Yesus, hal itu juga yang banyak dilakukan oleh kita saat ini, mencari Yesus. Berusaha “melihat” Yesus, berusaha menemui Yesus. Berusaha dengan segala daya upaya untuk menemui Yesus. Dengan segala daya upaya kita, dengan segala hal yang mampu kita lakukan. Tetapi sadarkah kita, bahwa Yesus selalu ada menunggu kita. Yang kita perlu lakukan hanyalah membuka hati, mencari Yesus. Maka Yesus sendiri yang akan mendatangi kita, Yesus yang akan tinggal di dalam kita. Yesus tidak melihat siapa diri kita. Semua orang boleh menilai dan mengatakan Zakheus orang berdosa, tapi Yesus tidak melihat itu. Dia mendatangi Zakheus dan bahkan tinggal di dalam rumahnya. Orang lain boleh menilai kita apapun, atau bahkan kita juga menganggap diri kita tidak layak, kita malu datang pada Yesus. Tapi Yesus tidak melihat masa lalu kita.

Ada sukacita luar biasa yang dialami Zakheus ketika dia berjumpa Yesus. Sesuatu yang sanggup mengubah seorang Zakheus. Ada pertobatan hebat yang terjadi padanya. Dia mau membayar kesalahan dan dosanya. Dia mau membayar empat kali lipat untuk orang yang sudah dirugikan oleh dia, dan bahkan dia menyerahkan separoh dari harta miliknya. Ada sukacita yang luar biasa yang terjadi saat seseorang berjumpa dengan Yesus, sesuatu yang mengalahkan segalanya. Segalanya termasuk mampu melepas hal duniawi yang sebelumnya mengikat. 

Bagaimanakah dengan kita? Yang mengatakan sukacita atas perjumpaan kita dengan Yesus? Pertobatan apakah yang sudah kita lakukan? Dan apa yang sudah kita lakukan untuk membayar kesalahan kita? Apakah sukacita karena perjumpaan kita dengan Yesus membuat kita mampu menyerahkan hal yang mengikat kita? Mampukah kita menyerahkan milik kita bagi Tuhan? (ADJ) 

images