Mengingat Kebaikan Tuhan

Renungan Minggu 9 Oktober 2016

Bacaan: 2Raj. 5:14-17; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; 2Tim. 2:8-13; Luk. 17:11-19

Seringkali sulit bagi kita melupakan pengalaman-pengalaman buruk yang terjadi dalam hidup ini. Ketika seseorang menyakiti kita, melukai kita, berlaku tidak adil terhadap kita, membuat kita sulit melupakannya. Beberapa kasus yang sering kita jumpai, seseorang bisa tega membunuh orang lain karena dendam dan sakit hati yang menggunung. Artinya mereka tidak bisa melupakan pengalaman pahit yang mungkin dialaminya. Sebaliknya kebaikan seseorang, keberhasilan, kesembuhan dan hal-hal baik yang kita terima dari Tuhan justru mudah kita lupakan dan tidak kita ingat.

Inilah yang dilakukan sembilan orang kusta itu, yang setelah beroleh kesembuhan dari Tuhan berlalu begitu saja dan melupakan kebaikan Tuhan. Renungan hari ini mengajar kita untuk senantiasa mengingat-ingat kebaikan Tuhan. Jika saat ini kita berhasil dan diberkati dengan materi yang melimpah, tubuh sehat, keluarga utuh dan sebagainya, itu semua karena anugerah-Nya semata, bukan karena kuat dan gagah kita. Oleh karena itu janganlah menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan, Jangan sampai kita seperti sembilan orang kusta yang pergi meninggalkan Yesus begitu saja setelah mereka disembuhkan. Tidak pernahkah kita disembuhkan, diberkati, dipulihkan dan ditolong oleh Tuhan di sepanjang hidup ini sehingga mulut kita serasa terkunci untuk bersyukur? Rasul Paulus berkata, “…karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang,” (1 Kor 15:10).

Jangan sekali-kali melupakan kasih dan kebaikan Tuhan! Kita harus mengucap syukur kepada Tuhan dalam segala hal, baik dalam keadaan keberkatan atau pun sedang dalam pergumulan, baik dalam suka maupun duka. Jadi, bukan hanya ketika segala sesuatu berjalan baik atau lancar. Ucapan syukur itu kuasa yang mendatangkan kekuatan. Ketika kita tahu bersyukur kepada Tuhan, maka tantangan seberat apa pun pasti dapat kita lalui bersama Roh Kudus. Bila saat ini kita diijinkan mengalami masalah atau penderitaan sekalipun, tetaplah mengucap syukur, karena semuanya pasti akan mendatangkan kebaikan bagi kita.

Pastilah Tuhan itu baik, ya Tuhan itu baik adanya: di dalam Dia ada sukacita, ada damai sejahtera, ada kebahagiaan, ada pengharapan yang pasti, ada masa depan yang baik dan sebagainya. Dan ucapan syukur terbesar dapat disebabkan karena kita telah diselamatkan (Maz 98:3).

Bagaimanakah hari-hari kita? Apakah dipenuhi oleh ucapan syukur kepada Tuhan setiap waktu atau terus diliputi oleh kekuatiran, keluh kesah dan persungutan? Hidup yang dipenuhi oleh ucapan syukur adalah hidup yang memuliakan Tuhan. Hidup yang bersyukur itulah kunci kepuasan dan kebahagiaan hidup. Namun jika yang keluar dari mulut kita hanyalah persungutan, mustahil kita merasakan kebahagiaan hidup. Orang yang terus bersungut-sungut berarti tidak pernah menghargai pertolongan Tuhan dalam hidupnya, meragukan kuasa dan kesanggupan Tuhan.

Sahabat, berterima kasih atau bersyukur, memuji, dan menyembah Allah memang seharusnya menjadi respon kita, orang-orang yang telah menerima kasih karunia Allah. Namun, adakah syukur, pujian, dan penyembahan kepada Allah mengisi hati kita tiap-tiap hari? Bila belum, mulailah hari ini. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin

FHM

Image result for grateful heart, remember kindness of god