Ulurkanlah Tanganmu

Renungan Senin 5 September 2016

Bacaan: 1Kor. 5:1-8; Mzm. 5:5-6,7,12; Luk. 6:6-11

Orang yang tidak percaya diri atau merasa dirinya tidak aman dan tidak berwibawa lagi, biasanya cenderung mencari kesalahan orang lain. Kita lihat akhir-akhir ini suasana dalam masyarakat kita juga demikian. Orang yang mempunyai jiwa atau cita-cita pembaharuan, berani menyuarakan kebenaran dituduh agar terjatuh. Tetapi ketika tidak terbukti pun masih dicari-cari tuduhan yang lain.

Kecenderungan mencari kesalahan orang lain ternyata sudah sejak dulu ada. Pada zaman Yesus kecenderungan itu menjadi ciri-ciri ahli Taurat dan orang Farisi; dan Yesus yang menjadi sasarannya. Perbedaan persepsi dan mentalitas antara kelompok ahli Taurat dan orang Farisi terhadap Yesus begitu tajam. Ahli-ahli Taurat/orang-orang Farisi mewakili mentalitas lama. Demi hukum, orang dikorbankan yaitu orang yang mati tangan kanannya. Sedangkan Yesus perwujudan zaman baru, suatu gerakan yang memberi perhatian pada manusia sebagai pribadi yang bermartabat, merdeka dan dicintai Allah. Pada hari Sabat hari yang dikuduskan itu, Yesus mengusahakan kebaikan bagi sesamanya, meskipun menyadari bahwa sikapnya pasti akan dilawan, dianggap hal yang salah. “Ulurkanlah tanganmu”. Orang itu berbuat demikian. Sabda Yesus berkuasa, ia melakukan perintah Yesus dan sembuhlah tangannya.

Bacaan Injil hari ini, mengingatkan saya bahwa yang benar bukan hanya membaca/mendengarkan Sabda Tuhan dan mengerti peraturan serta norma-norma kehidupan, tetapi terlebih juga melakukan perintah Yesus. Seperti orang yang mati tangannya, bila tidak melaksanakan perintah Yesus untuk mengulurkan tangannya tentu tidak akan ada kesembuhan.

Tuhan Yesus hari ini juga memerintahkan saya untuk mengulurkan tangan agar saya sembuh dari segala penyakit dosa, luka-luka batin, menjalani hidup baru dan tidak lupa untuk mengulurkan tangan bagi sesama. Berbuat baik kepada sesama adalah satu kewajiban Kristiani sekaligus ekspresi nyata iman tanpa dibatasi sekat-sekat peraturan formal religius. Tuhan Yesus tampil sebagai guru dan teladan saya. Guru dalam jalan keselamatan. Apabila setiap kita berusaha menempatkan manusia di atas semuanya dan melakukan hukum sebagaimana mestinya, maka itu adalah hidup sesuai Injil Tuhan. Pendengar dan pelaku Firman. Kesaksian kita bukan terbatas pada kata-kata menurut peraturan melulu tetapi terlebih dengan sikap hidup sesuai ajaran Yesus. Sekarang ini terjadi krisis panutan iman karena godaan dunia. Krisis panutan ini telah mewabah menimpa siapa saja baik kaum awam maupun religious. 

Kalau kita sungguh menghayati sebagai murid Kristus, tidak ada pilihan lagi selain kita meniru hidup Yesus yang penuh kasih melayani sesama tanpa pamrih pribadi. Militansi kemuridan kita ditandai bilamana kita mau mengulurkan tangan menolong sesama dan mempunyai keberanian menolak tindakan atau sistem yang bertentangan dengan ajaran Yesus.

Doa: Ya Tuhan, berilah kami semangat menolong sesama kami yang membutuhkan dan kekuatan untuk berani menolak tindakan yang bertentangn dengan ajaran-Mu, demikian juga kami mohon bagi para pemimpin negara kami. Amin.

LKME

Image result for Lukas 6:10 ulurkanlah tanganmu