Totalitas

Renungan Rabu 28 September 2016

Bacaan: Ayb. 9:1-12,14-16; Mzm. 88:10bc-11,12-13,14-15; Luk. 9:57-62

Ganda campuran Lyliana Natsir dan Tontowi Ahmad meraih medali emas pada olimpiade 2016 pada cabang olahraga bulu tangkis. Di balik kemenangan, ada totalitas perjuangan dan persiapan yang sudah dirintis sejak lama dan intensitas makin meningkat mendekati pertandingan.

Bagaimana totalitas kita sebagai pengikut Yesus? Ada tiga makna totalitas dari pengajaran tentang mengikuti Yesus di Lukas 9:57-62.

  1. Siap kehilangan rasa nyaman (Lukas 9:58)

Latihan persiapan pertandingan menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Sering di saat orang lain tidur nyenyak, Lyliana dan Tontowi sudah bersiap di lapangan untuk berlatih fisik dan stamina hingga matahari tenggelam.

Banyak orang berpikir mengikuti Yesus berarti hidupnya akan selalu nyaman, banyak uang, tidak pernah sakit bahkan tidak akan menderita. Namun Yesus sendiri menyampaikan bahwa “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”. Keputusan mengikuti Yesus berarti menyerahkan seluruh arah hidup kita pada pimpinan-Nya yang terkadang berlawanan dengan logika sehingga kita harus meninggalkan kondisi yang sudah baik dan enak. Seperti Abraham yang meninggalkan Mesopotamia untuk menuju ke Kanan dan bangsa Israel yang meninggalkan Mesir untuk menuju ke tanah perjanjian. Tetapi di sanalah kita akan belajar untuk percaya sepenuhnya pada penyelenggaraan Allah dalam hidup kita.

  1. Segera – tidak menunda (Lukas 9:59-60)

Kemenangan Lyliana dan Tontowi adalah buah dari kedisiplinan. Tidak ada alasan untuk menunda latihan karena penundaan berarti ketidaksiapan dan kurangnya totalitas.

Yesus bukanlah kejam sehingga melarang anak menguburkan orang tuanya. Namun pada konteks ini, bapak anak muda ini belum meninggal, sehingga anak muda ini mencari alasan akan menunggui bapaknya hingga akhir hayat, menguburkannya, baru akan mengikuti Yesus. Dan Yesus mengetahui bahwa anak muda ini hanya mencari alasan untuk menunda ajakan Yesus. Sehingga Yesus menegur, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana”. Artinya agar anak muda ini meninggalkan ke sia-siaan yang menjadi alasan penundaan dan segera pergi mengikut Yesus. Apakah saat ini kita menunda dengan alasan waktu? Kesibukan? Atau kesehatan?

  1. Lurus ke depan dan tidak berbalik (Lukas 9:62)

Seseorang yang membajak harus melihat ke depan agar hasil bajaknya lurus dan rapi. Jika ia menoleh ke belakang maka hasil bajaknya akan serong.

Yesus tidak melarang pengikutnya untuk berkumpul dengan keluarga. Namun yang perlu dihindari adalah ‘keluarga’ tempat di mana dahulu kita berdosa sebelum bertobat. Mengikut Yesus berarti totalitas meninggalkan semua dosa dan kebiasaan buruk, kemudian bertobat dan berbalik 180 derajat. Seperti saat Yesus menyelamatkan wanita berzinah, menyuruhnya pergi dan jangan berbuat dosa lagi. Karena kita sudah dikuduskan dan kekudusan tidak dapat bersama dengan dosa.

Totalitas muncul karena  pengakuan akan kebesaran Tuhan dalam hidup manusia seperti yang disampaikan oleh Ayub (Ayub 9:1-12,14-16). Ayub dalam penderitaannya, menunjukkan kerendahan hati dengan mengakui bahwa Allah itu bijak dan kuat, dapat memindah gunung dan menggeser bumi, menjadikan bintang dan memerintah seluruh semesta. Siapakah kita dibandingkan dengan kebesaran-Nya, jika bukan karena kasih-Nya pada kita.

Maka jika semua orang totalitas mengikuti partai, mengikuti perlombaan, apakah kita sudah totalitas mengikut Yesus? (ACY)

Image result for Luke 9:62