Menjadi Kudus dan Terang Seperti Kristus

Renungan Senin 19 September 2016

Bacaan: Ams. 3:27-34; Mzm. 15:2-3ab,3cd-4ab,5; Luk. 8:16-18

Dipanggil Menjadi Kudus dan Terang, Seperti Kristus.

Seringkali kita dengar bahwa kalau menjadi orang Katolik itu yang biasa-biasa saja, jangan muluk-muluk, harus membumi. Tentunya nasihat-nasihat seperti ini kelihatannya baik, tapi bukan ini yang dikehendaki Tuhan. Pandangan-pandangan seperti ini akan melemahkan dan mengaburkan semangat Kekristenan.

Bahkan St. Teresa Avila juga mengungkapkan pada para pemula, yaitu orang yang mulai serius untuk menjalani hidup rohani, setan akan berusaha untuk menggoda dan menanamkan anggapan bahwa adalah kesombongan, kalau orang ingin menjadi kudus. Tentunya ini godaan setan untuk melemahkan semangat orang, dalam mencari dan merindukan Tuhan. Kita harus lebih percaya dan bersandar pada kata-kata Tuhan sendiri: “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus.” (Im 19:2); “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat 5:48). Menjadi murid Kristus, kita dipanggil menjadi sempurna dalam cintakasih, kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama, kita dipanggil menjadi kudus, dipanggil menjadi terang.

Dalam Injil Lukas dan kitab Amsal yang kita renungkan hari ini dapat kita lihat bagaimana kita dipanggil untuk hidup dalam kebajikan dan dipanggil untuk menjadi terang.

Dalam kitab Amsal, Tuhan menghendaki agar kita jangan menunda-nunda perbuatan baik, jika kita memang mampu melakukannya. Juga supaya kita hidup dalam kasih kepada sesama kita, dengan tidak merancang yang jahat, menghindari pertengkaran, dan tidak semena-mena. Tuhan juga menghendaki kita hidup jujur dan rendah hati. Intinya hidup dalam kebajikan-kebajikan yang berkenan di hadapan Tuhan.

Dan dalam Injil, bagaimana Tuhan menghendaki bahwa menjadi murid Kristus itu ibarat juga menjadi pelita yang menerangi, bukan untuk disembunyikan, tetapi untuk menjadi terang. Dalam arti orang mengenal Kekristenan, karena perbuatan-perbuatan baik yang dikerjakan oleh orang-orang Kristen.

Ada suatu wawancara dari seorang pelayan Tuhan dengan seorang tokoh dunia yang terkenal, yaitu Mahatma Gandhi. Dalam kesempatan itu Mahatma Gandhi menyatakan bahwa dia menyukai Kristus, tetapi dia tidak menyukai orang Kristen. Dia seorang tokoh dunia yang mempelajari Injil secara mendalam dan terpesona dengan Kristus dan sabda bahagia-Nya. Tetapi dia juga mempunyai trauma dengan perlakuan orang Kristen dalam rezim apartheid di Afrika Selatan. Bagaimana dia begitu tertarik kepada Kristus dan Injil-Nya, sehingga sebagai seorang pengacara muda, suatu ketika dia memutuskan mau mengikuti kebaktian di gereja. Tetapi baru sampai di depan pintu, seorang penerima tamu menghalangi dan mengusir dia dengan kasar (baca selengkapnya di http://kaumindependen.blogspot.co.id/2014/04/mahatma-gandhi-saya-suka-kristus-anda.html).

Apa yang menjadi pengalaman pribadi seorang Gandhi dan evaluasi yang Beliau berikan, selayaknya kita refleksikan bersama sebagaimana panggilan Tuhan melalui Injil hari ini, supaya kita menjadi terang sama seperti pelita yang diletakkan di atas kaki dian, yang menerangi sesama kita, supaya dapat mengalami perjumpaan pribadi dengan Sang Sumber Terang itu sendiri, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus. Amin. (ET)

Image result for Luke 8:16