Jesus is My Flashlight

Renungan Selasa 20 September 2016

JESUS IS MY FLASHLIGHT

Bacaan: Ams. 21:1-6,10-13; Mzm. 119:1,27,30,34,35,44; Luk. 8:19-21

“Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya”

Seringkali orang menghubungkan persaudaraan dengan garis keturunan dari nenek sampai cucu-cicit. Namun pada kenyataan dalam kehidupan sehari-hari,  meskipun memang masih satu saudara dalam satu garis keturunan, di luar sana masih banyak terdapat kejadian, misalnya jika saudaranya mengalami kesulitan, entah karena sakit, kesulitan finansial atau mengalami kesulitan lainnya, mereka yang memang saudara ini kurang peka, kurang kasih atau bahkan tidak mau tahu kesulitan yang dialami oleh saudara kandungnya. Kadang saling berkunjung saja tidak pernah mereka lakukan. Hubungan persaudaraan ini kadang kalah dengan hubungan antar tetangga atau persahabatan.

Sebenarnya keluarga adalah sebuah relasi yang paling dekat. Kedekatan kadang dapat memberikan keistimewaan atau kemudahan bagi anggota keluarganya.

Sebagai salah satu contoh keistimewaan bagi anggota keluarga, yaitu biasa kita sebut dengan nepotisme. Hal ini juga bisa menjadi  salah satu penyebab kurang berkembangnya suatu organisasi  karena adanya sikap nepotisme yang kuat. Tidak jarang seorang pemimpin  berupaya  dengan berbagai cara bahkan menghalalkan segala cara agar istri, anak, atau menantu, dapat menggantikannya sebagai pemimpin di kemudian hari. Dan Yesus jelas sekali menentang sikap nepotisme ini.

Dalam Injil hari ini diceritakan, ketika ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, mereka tidak berhasil mendekati Yesus karena banyak orang (ayat 21). Pemberitahuan seseorang kepada Yesus bisa dikatakan sebagai sebuah tanda tersembunyi untuk menuntut suatu kemudahan. Tetapi apa yang terjadi?

Yesus berkata: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” Di sini Tuhan Yesus tidak memperhatikan persaudaraan berdasarkan keturunan atau sedarah (relasi biologis) , tetapi persaudaraan yang dibangun karena orang-orang yang mau membuka hati untuk  mendengarkan Firman Tuhan dan mau melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.

Relasi biologis atau nepotisme dinomorduakan dan yang diutamakan adalah relasi sebagai pelaku Firman, yaitu orang yang bersedia membuka hati untuk melaksanakan kehendak Allah.

Inilah yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita semua, yaitu persaudaraan sejati yang berlandaskan semangat untuk membangun kerajaan Allah, mempunyai iman percaya pada Yesus sebagai satu-satunya Tuhan dan juru selamat, mampu menerapkan kasih yang Yesus ajarkan dalam kehidupan sehari-hari dan yang pasti mendengarkan dan melaksanakan Firman Tuhan.

Tuhan mengajarkan pada kita untuk menjalin persaudaraan antara lain dengan hidup berkomunitas, tergabung dalam suatu wadah baik itu dalam kegiatan lingkungan, wilayah, bahkan dalam kegiatan gereja. Kegiatan-kegiatan ini dibangun untuk saling berbagi tentang kasih dan kebaikan Tuhan dalam hidup kita, saling melibatkan diri, bertanggung jawab dan berbagi kasih sebagai anak-anak Allah.

Hal terpenting supaya orang dapat menjadi saudara-saudari Yesus  yaitu dengan mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.

Yang menjadi refleksi bagi kita semua hari ini….

Apakah kita masih sering bersikap nepotisme atau mencari kemudahan-kemudahan yang dapat berdampak negatif bagi kepentingan bersama?

Apakah kita benar-benar sudah dapat berbagi kasih pada saudara-saudara kita? Ataukah dengan berbagai alasan, kita masih mementingkan ego kita?

Apakah kita  sudah taat dan setia mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan? Karena menjadi saudara Yesus  berarti mau membuka diri, mau taat dan setia menjadi pelaku Firman Tuhan.

Firman Tuhan adalah pelita yang menuntun kepada keselamatan. Semakin kita mengenal Tuhan dalam sabda-Nya, semakin kita mengasihi Tuhan sebagai satu-satunya Tuhan dan Allah kita.

Sabda Tuhan itu ibarat pelita yang menyala. Kita yang menjadikan sabda Tuhan sebagai pelita bagi jalan hidup kita. Firman Tuhan menjadi lampu senter, menerangi setiap jalan kita, menuntun kita keluar dari kegelapan, menjauhkan kita dari dosa dan membawa kita kepada keselamatan. Maka tugas kita adalah menjadikan pelita itu sebagai cahaya atau sinar untuk menerangi sekeliling kita, kita mampu meneruskan cahaya pelita ini  kepada orang lain, agar mereka juga dapat menjadikan sabda Tuhan sebagai pelita bagi jalan hidup mereka.

Marilah kita berdoa:

Tuhan Yesus, bantulah aku, mampukan aku untuk menjadikan Firman-Mu sebagai pelita dalam hidupku. Ajar aku selalu untuk terus dapat membuka diri, menjadi taat dan setia dalam mendengarkan sabda Allah dan mampu melaksanakannya dalam hidupku sehari-hari. Jadikan aku sebagai saluran berkat dan kasih-Mu Tuhan bagi keluargaku dan sesama. Amin.

Kasih dan berkat Tuhan senantiasa menyertai kita. Amin.

VRE

Image result for Luke 8:21;