Iman Sebesar Itu Belum Pernah Kujumpai

Renungan Senin 12 September 2016

“IMAN SEBESAR ITU BELUM PERNAH KUJUMPAI”

Bacaan: 1Kor. 11:17-26; Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,17; Luk. 7:1-10.

Seorang yang sungguh beriman, tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, juga tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi peduli kepada sesama bahkan sesama yang menderita dan dianggap lebih rendah kedudukan dari padanya. Seringkali orang sibuk dengan dirinya sendiri sehingga tidak peduli dengan orang lain. Juga karena sibuk dengan dirinya sendiri, tidak peduli dengan orang yang sedang menderita yang ada di sekitarnya. Hari ini kita belajar dan bahkan ditegur lewat sikap seorang perwira Romawi yang mendatangi Yesus. Dia bukan berasal dari bangsa pilihan Tuhan, Israel, jadi dia bukan pula dianggap sebagai bagian dari umat yang beriman, bahkan di mata orang-orang Israel dia dianggap sebagai orang kafir. Tetapi ternyata di hadapan Tuhan dia memiliki iman yang hidup.

Sebagai seorang perwira tentu dia memiliki kedudukan atau jabatan tinggi. Dia memiliki hamba yang sedang sakit, dan dia sangat peduli dengan penderitaan hambanya itu. Padahal pada masa itu, hamba hanyalah orang upahan yang dianggap milik tuannya, yang dibeli oleh tuannya. Sehingga tuan itu bisa berbuat apa saja terhadap hambanya dan mereka bisa saja tidak peduli bila hambanya itu menderita sakit atau bahkan mengalami kematian. Namun perwira ini tidak bersikap demikian.

Perwira itu tidak memandang hambanya sebagai orang yang tidak berharga atau budaknya, dia peduli dengan hambanya itu. Sehingga walaupun dia bukan keturunan bangsa Yahudi, dia berani datang kepada Yesus memberitahukan keadaan hambanya itu. Perwira itu sepintas tidak memohon kesembuhan dari Yesus, tetapi Yesus melihat kepedulian perwira itu atas hambanya yang sedang sakit parah.

Yesus sungguh memuji iman perwira itu karena tampak juga dalam kerendahan hatinya yang sadar bahwa dia tidak cukup layak untuk menerima kehadiran Yesus yang Mahakudus di dalam rumahnya dan juga yakin bahwa Yesus sanggup menyembuhkan hambanya walau hanya dengan berkata sepatah dua kata saja. Nah, bagaimana dengan kita sebagai orang beriman? Kita menyandang status sebagai orang beragama atau orang beriman, tetapi mungkin seringkali tidak hidup sebagai orang yang beriman.

Banyak orang beriman tetapi tidak peduli dengan orang lain, terutama mereka yang sakit, yang miskin dan orang kecil yang ada di sekitarnya. Ada pula orang beriman yang selalu memandang rendah terhadap orang lain, terutama orang yang dianggap statusnya lebih rendah dari dirinya. Tidak sedikit juga orang yang mengatakan dirinya beriman dan merasa dirinya hebat dan layak untuk dihormati dan Tuhan sudah selayaknya harus memberkati dia.

Hari ini kita belajar dari perwira yang beriman ini yang memiliki sikap peduli. Suatu hari pembantu saya sakit muntah-muntah dan panas badannya. Kemudian saya bawa dia ke dokter. Ternyata dia terkena sakit tipus tahap awal. Saya bingung. Apakah akan saya pulangkan ke desa atau saya rawat di rumah? Sebagai seorang beriman saya harus datang kepada Yesus dan mendoakan dia: “Tuhan kalau Engkau mau pastilah pembantu saya akan sembuh.” Saya memohon kepada Tuhan dengan penuh kerendahan hati supaya Tuhan menjamah pembantu saya. Setelah beberapa waktu, panasnya berangsur angsur turun dan dia mulai bisa makan dan berangsur angsur menjadi sembuh.

Ketika saya mendoakan, saya merasa ada suatu keyakinan kuat bahwa dia akan sembuh. Dan akhirnya dalam waktu satu minggu dia sudah sembuh dan bekerja lagi. Saya bersyukur kepada Tuhan, paling tidak pembantu saya tahu bahwa betapa besar kuasa Yesus, Allah yang kusembah itu dapat menyembuhkan orang sakit.

DOA MISIONER: Tuhan Yesus, hari ini kami belajar dari seorang perwira Romawi yang mendatangi-Mu dua ribuan tahun silam di Kapernaum, ia datang dengan kerendahan hati dan disertai kasih dan kepedulian terhadap hambanya yang menderita, ia datang dengan iman yang hidup ke hadapan-Mu. Yesus, kami pun ingin berkembang dalam iman kepercayaan seperti perwira itu, maka tumbuhkanlah iman kepercayaan kami akan kuasa-Mu dan bantulah kami juga dengan pertolongan rahmat-Mu, agar iman yang ada pada kami juga bisa berbuah dalam cinta kasih, kepedulian dan kerendahan hati bagi sesama. Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

MYJH

Image result for Luke 7:9