Gue Lebih Hebat, Tau!

Renungan Senin 26 September 2016

Bacaan: Ayb. 1:6-22; Mzm. 17:1,2-3,6-7;Luk. 9:46-50

Tidak lama lagi akan diadakan pemilihan Gubernur Jakarta, petahana kembali mencalonkan diri, banyak calon lain yang ikut bersaing, mengatur strategi agar bisa menjadi yang terutama, banyak cara dilakukan, termasuk cara money politic, kampanye hitam, dsb.

Dalam kehidupan sehari-hari kejadian di atas juga terjadi baik dalam pekerjaan, pergaulan, persaudaraan, bahkan keluarga. Mereka saling berselisih, saling menguasai, berjuang menjadi yang terutama, seperti dalam Lukas 9:46, terjadi pertengkaran dan persaingan di antara murid mengenai siapa yang terutama di antara mereka. Dengan sifat yang selalu ingin diutamakan, maka timbul pertengkaran yang berdampak buruk dalam relasi komunikasi. Bahkan diakhiri dengan perpisahan hingga saling membunuh. Pola berpikir dunia sering lebih mementingkan diri sendiri, mengutamakan diri untuk menjadi yang terutama.

Dalam kehidupan nyata, orang miskin, kecil, dan bawahan, derajatnya lebih rendah dari si kaya atau pimpinan. Mereka adalah orang yang harus diutamakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini justru terbalik dengan hidup dalam Tuhan, yang terbesar dan terutama bagi Yesus justru adalah mereka yang terkecil. Bagi Yesus, yang kecil menurut kaca mata dunia, merekalah yang perlu diperhatikan, diterima, dibantu. Lukas 9:48 Ia berkata kepada murid-murid, setiap orang yang menerima anak kecil ini dalam nama-Ku, ia menerima Aku. Dan, siapa pun yang menerima-Ku, ia juga menerima Dia yang mengutus Aku. Sebab, yang paling hina di antara kamu, dialah yang terutama.” 

Dalam kehidupan kita bebas memilih untuk jadi siapa saja yang kita mau, tapi jangan lupakan nilai-nilai yang harus kita pegang kuat dalam hidup ini yaitu Yesus sebagai pegangan dan teladan kita, artinya apa yang Yesus katakan, lakukan itulah yang harus kita perjuangkan untuk dilakukan menjadi serupa Yesus.

Kita harus bersahabat bukan bagaimana agar orang lain dapat memahami kita, tapi bagaimana kita dapat memahami orang lain (terutama mereka yang kecil dan yang lemah). Dalam keluarga, bukan orang tua yang harus diutamakan; perkataan, perintahnya harus dituruti, justru orang tua harus memberi contoh rendah hati rela melayani anak-anak, hal tersebut akan menjadi contoh dan pelajaran hidup bagi pertumbuhan iman anak-anak di kemudian hari.

Dalam pekerjaan, pimpinan bukan orang yang harus dilayani berlebihan, dihormati berlebihan, bahkan ditakuti, namun pemimpin yang hidup dalam kasih Tuhan, justru akan lebih mengutamakan bawahannya, memberi dukungan, pelatihan, bimbingan, melayani agar karyawan atau bawahannya mampu melakukan pekerjaan dengan baik, mencapai hasil kerja yang maksimal dalam kebenaran dan kejujuran (bukan hanya sekedar prestasi duniawi saja).

Demikian para pejabat masyarakat hendaknya tidak melupakan sumpahnya untuk mengabdi, melayani rakyat, maka jika rakyat menderita atau tidak sejahtera harus berani menggunakan jabatannya untuk menyejahterakan rakyatnya bukan memperkaya diri.

Marilah kita berjuang, Tuhan akan memberi kekuatan dan berkatnya bagi kita sekalian, amin. (GP).

Image result for Luke 9:46