Andalkan Bimbingan Tuhan

Renungan Kamis 1 September 2016

Bacaan: 1Kor. 3:18-23; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 5:1-11

“MENGANDALKAN BIMBINGAN TUHAN”

Dalam bacaan pertama, mengisahkan suatu situasi yang kurang kondusif yang dialami oleh jemaat di Korintus, bahwa di antara kelompok jemaat, ada yang menyangka diri mereka lebih berhikmat daripada kelompok lain, maka timbul sikap memegahkan diri di antara mereka, sehingga timbul rasa iri hati dan perselisihan. Mereka merasa bahwa segala sesuatu (kekuasaan, pengetahuan, harta, dll.) termasuk dirinya adalah miliknya sendiri, artinya mementingkan dirinya sendiri, ini adalah sikap egoisme. Paulus mengingatkan dan mengajarkan, agar mereka memperoleh persatuan kembali, bahwa mereka semua adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah (bdk. 1Kor 3:23). Sebagaimana sudah dilambungkan dalam kidung Mazmur 24:1 “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya”.

Bacaan Injil hari ini Yesus menghendaki agar saya pun tidak mengandalkan kepemilikan atau kemampuan saya sendiri tetapi harus mengikuti dan meneladani sikap Simon Petrus yang bertobat dan mengikuti perintah-Nya.
Simon Petrus sebagai seorang nelayan ulung, yang walaupun ia merasa sudah sangat tahu seluk beluk mengenai menjala ikan, tetapi ternyata sudah bekerja keras (menjala) sepanjang malam, namun ia tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya dengan mau menghilangkan sikap egoismenya dan dengan mengakui kegagalannya itu, ketika ia diperintahkan oleh Yesus untuk bertolak ke tempat yang dalam, Simon Petrus meskipun awalnya sepertinya ada keraguan, akhirnya ia mau menyerahkan segala keahlihannya, pengetahuannya, rasa lelahnya, lalu dengan percaya kepada Yesus, dan menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau yang menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” (Luk 5:5). Dan ternyata hasilnya begitu banyak ikan yang ditangkap bahkan lebih dari perkiraan mereka. Dan peristiwa ini menjadi titik balik bagi Petrus dan kawan-kawannya. Mereka melihat, mengalami bahwa Yesus adalah Mesias. Lalu mereka bertobat dan meninggalkan segala miliknya, lalu mengikuti dan menjadi murid Yesus.

Dari pengalaman saya, setelah dipanggil untuk menjadi pendamping bagi murid-murid di Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP) dan Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) di Paroki-Paroki, haruslah terus belajar menghilangkan perasaan sudah tahu semua materi pengajaran. Tetapi justru sebaliknya saya masih belum merasa cukup menguasai semua materi pelajaran, dengan demikian saya selalu rindu untuk memperlengkapi diri dengan selalu belajar dari para guru senior dalam arti penguasaan materi pengajaran dan juga mengikuti Kegiatan Pemantapan Pengajaran yang diselenggarakan oleh SEP, dan juga kegiatan lainnya yang mendukung dan membekali, memperlengkapi sebagai seorang pendamping. Selain harus tetap selalu mempersiapkan materi pengajaran, dengan lebih sering membaca ulang buku materi pengajaran; berdoa juga membaca Alkitab agar semakin lebih mengenal Yesus serta selalu melibatkan bimbingan-Nya, Karena Yesus-lah Guru sejati dan sumber pengajaran, materi pengajaran dan yang menjadi tujuan pengajaran. (jhs)