Yang Terdahulu Jadi Yang Terakhir, Yang Terakhir Jadi Yang Terdahulu

Renungan Selasa 16 Agustus 2016

Bacaan: Yeh. 28:1-10; MT Ul. 32:26-27ab,27cd-28,30,35cd-36ab;Mat. 19:23-30

Bukan kita diajar untuk saling menyerobot ketika antri, tetapi Yesus ingin kita belajar kepada keutamaan dalam kehidupan manusia di dunia ini. Pengaruh dunia ini sungguh hebat dan luar biasa. Dengan melihat manusia sekeliling kehidupan ini, seseorang mudah sekali dipengaruhi oleh hal-hal yang membuat hidup ini lebih nyaman dan mengenakkan dan menyenangkan. Biasa bukan? Mudah bukan? Anak kecil pun sudah bisa! Karena manusia memang diciptakan dalam daging. Dan daging itulah yang membuat manusia ini bisa merasakan dan menikmati enaknya kehidupan ini. Antri adalah hal yang tidak mengenakkan, tetapi karena moral dan etika, kita diajar untuk bisa antri, supaya kita bisa menjadi manusia yang berbudaya. Karena berbudaya itu meningkatkan martabat manusia itu sendiri. Maka dengan martabat yang tinggi, manusia kemudian mulai membeda-bedakan martabat satu dengan yang lain. Akhirnya membuat jurang antara yang miskin dan yang kaya. Itulah sebenarnya yang Yesus ingin ajarkan khusus kepada murid-murid-Nya, agar bisa membedakan antara kekayaan, martabat yang tinggi, bermoral dan beretika, dan keutamaan.

Hari ini Yesus ingin mencelikkan kita para murid-Nya, bukan kekayaan yang utama, tetapi keutamaan yang paling tinggi adalah ketergantungan kepada Tuhan saja. Kekayaan memang boleh, dan kekayaan adalah anugerah dari Tuhan. Tetapi kekayaan bisa membuat orang bergantung pada materi, sehingga manusia hanya mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, dan manusia pun tidak mau mengandalkan Tuhan lagi, karena dia sudah ingin menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri.

Manusia dijadikan sebagai anak Allah, itu berarti supaya manusia hanya bersandar kepada Allah Bapa saja. Tidak boleh bersandar pada yang lain: bersandar pada materi, bersandar pada manusia yang lain. Keluar dari rumah, meninggalkan rumahnya, keluarganya, bapa, ibu, saudara laki dan perempuan, anak-anaknya. Tuhan ingin kita sungguh-sungguh dewasa jasmani rohani, supaya bisa bebas lepas, merdeka, dalam kasih, dalam cinta.

Dengan CINTA yang bebas, lepas, merdeka , tidak ada kelekatan apa-apa, tidak ada keterikatan apa-apa, Tuhan bisa merdeka, bebas mencurahkan anugerah-anugerah-Nya, berkat-berkat-Nya, karunia-karunia-Nya, sehingga kita bisa dipakai-Nya sebagai hamba-Nya. Kita mau dipilih-Nya dan dipakai-Nya, seturut kehendak-Nya.

Maka Yesus selalu mengingatkan murid-murid-Nya: “Barangsiapa mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya setiap hari, memanggul salibnya dan mengikuti Aku.”

Keutamaan inilah yang orang tidak bisa menyatakan dirinya yang nomor satu, atau nomor berapa. Hanya Yesus sendirilah yang menyatakan dan memilihnya bagi kita: “KAMU YANG TERDAHULU!!”

Tuhan memberkati kita semua.

Vincent A. Dipojugo